oleh

Damai itu Indah dan Membahagiakan

Oleh: Yulius Mantaon

Minggu ini adalah minggu terakhir dari bulan November yang juga merupakan minggu terakhir bulan ‘Lingkungan’ menurut kalender pelayanan Gereja-gereja di lingkungan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Topik Utama dalam khotbah-khotbah pekan terakhir ini terutama tentang ‘Dami’, damai secara horisontal dengan sesama manusia, damai secara vertikal dengan Tuhan dan damai secara diagonal dgn lingkungan.

Kondisi hari ini masih menunjukkan adanya kerusakan-kerusakan antar hubungan tersebut di bumi ini sehinga terjadi konflik antara sesama manusia baik secara individual, kelompok bahkan antar bangsa seolah kita kembali kepada zaman purba yang oleh Thomas Hobes disebut bellum omnium contra omnes. Untung saja ada lembaga-lembaga sosial dan lembaga-lembaga negara dan lembaga-lembaga antar bangsa sehingga dapat meredam konflik-konflik tersebut.

Sulit kita bayangkan kalau tanpa lembaga-lembaga tersebut. Beberapa tahun silam di ibukota Jakarta di berbagai tempat strategis terpampang spanduk ‘damai itu indah”. Mengapa spanduk-spanduk sudah tidak ada lagi atau berkurang? Padahal negeri kita sangat butuh rasa damai itu. Untuk misi damai itu Paus melakukan kunjungan ke Asia pada beberapa hari terakhir ini. Demikian pula para pimpinan Asian di Busang Korsel.Memang sejak 2 ribu tahun lalu damai sudah diserukan oleh Yesus ketika berkhotbah di bukit.

Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Para pembawa damai adalah mereka yang di dalam dirinya mengalir kerinduan dan kemauan untuk menciptakan perdamaian kapan saja dan di mana saja atau seorang Pancificador (Portugis). Seumpama perokok atau fumador (Portugis). Kalau orang-orang yang sukanya damai disebut anak-anak Allah kemudian bagaimana dengan mereka yang tidak suka damai?

Sebagai bangsa yang berbhineka, masyarakat yang semakin pluralistik dan perkembangan iptek yang nampak kurang seimbang dengan kemajuan peradaban manusia, ‘Damai’ menjadi kata kuncinya. Kerusakan lingkungan termasuk lingkungan hidup menunjukan kurangnya relasi kita dengan bumi yang sedang kita pijak, eksploitasi sumber-sumber daya alam yang berlebihan secara sembarangan menunjukkan relasi kita yang kurang baik dengan generasi berikut nanti karena kita hanya pikir semua ini hanya merupakan warisan dari nenek moyang kita tanpa menyadari bahwa itupun merupakan ‘warisan anak cucu kita”. Maka sadarlah karena masih ada waktu kita untuk membangun perdamaian dengan Tuhan kita, sesama kita dan alam lingkungan kita.

Dan para pimpinan ‘Gereja’ saya himbau untuk menjadikan bulan Desember tahun 2019 sebagai bulan menanam. Mungkin masih relevan mencontoh pola membangun ekonomi rakyat Amarasi yang dubuat oleh Vetor Vicky Koroh. Semoga Alor ( Alamnya Lestari Orangnya Ramah) terus terpatri di kalbu setiap orang Alor di mana saja.

 

(Penulis adalah pemerhati lingkungan tinggal di KalabahiAlorNTT)

Komentar