oleh

Dari NTT untuk Indonesia

-Opini-1.767 views

Oleh: Aven Jaman

Persis sebulan silam, bila menyebut nama NTT, ingatan orang-orang sedunia seketika dibawa pada hasil survey yang baru saja dirilis website asing bernama Lonely Planet. Menurut survey lembaga tersebut, NTT adalah urutan pertama destinasi wisata dunia dengan harga terbaik.

Bagaimana bisa tidak, kandungan spot-spot pariwisata kelas dunia tersebar pada hampir seluruh wilayah propinsi kepulauan tersebut hanya dengan merogoh kocek yang tak begitu dalam. Tersebut di antaranya adalah sisa reptil purba yang kini masih hidup walau populasi makin menyusut, Komodo.

Selain Komodo yang kesohor dan ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia versi Yayasan The New 7 Wonder, NTT juga dikenal dengan wisata pantai dangkalnya yang memukau mata, atau juga spot-spot bagi para penyuka olah raga snorkling. Masih pula disuguhi keajaiban danau dengan tiga warna berbeda, Kelimutu. Pesona batu cermin di Labuan Bajo yang unik karena sampai sekarang tak ada yang berhasil menemukan sumber penerangan di dalam guanya. Atau pula Kelabba Maja di Sabu yang mana berwarna-warni, padahal itu dinding tebing.

Itu semua baru pariwisata dari sektor alami. Masih ada pula pesona pariwisata dari sektor budaya seperti aset wisata Kampung Wae Rebo dan Kampung Bena yang sudah dinyatakan sebagai warisan budaya yang dilindungi PBB. Juga ada tradisi memburu ikan paus di Lamalera Lembata.

Tak Sekadar Kaya akan Obyek Pariwisata

Selain obyek-obyek tersebut, yang jarang diketahui orang adalah NTT juga menyimpan potensi pertanian dan perkebunan yang sangat menjanjikan. Tanaman seperti jagung, padi, kopi, cengkeh, vanili, kakao dan kelapa sangat mudah ditemukan terutama di daratan Flores.

Sementara, dari sisi sumber daya manusianya, propinsi ini adalah daerah asal pemikir-pemikir hebat yang lumayan dikenal publik di tanah air seperti alm. Damian Toda, Paul Budi Kleden, Ignas Kleden, Boni Hargens dan alm. Lorens Bagus. Dari kalangan akademisi dijumpai nama-nama Robert M. Z. Lawang, Tobi Mutis, Ignas Iryanto Djou, Avanti Fontana dan alm. Gorys Keraf, dan masih banyak lagi.

Eh, baru saja publik setanah air dikejutkan oleh berita tentang dua kakak beradik asal NTT lolos masuk dinas ketentaraan di Amerika Serikat. Berita itu seakan hendak melengkapi kisah seru yang dialami seorang bocah dalam diri Bertrand Peto yang kini sukses menjadi idola baru kaum remaja tanah air. Peto sendiri seakan melengkapi deretan artis asal NTT yang sukses menembus panggung nasional bahkan dunia seperti Nyong Frangko lewat Gemu Famirenya, Dian Sorowea dengan Karna Sa Su Sayangnya, serta Andmesh, Mario Klau dan Marion Jola yang sukses menggebrak panggung musik tanah air lewat ajang kontestasi. Deretan artis yang baru saja disebutkan seolah ingin menggantikan sosok Obbie Mesakh yang juga asli NTT dan karya-karyanya pernah merajai musik di tanah air selama nyaris dua dekade.

Kita belum bicara tentang Johnny G. Plate yang kini didapuk Presiden Jokowi menjadi Menkominfo periode 2019-2024, Soni Keraf, alm. Frans Seda, Adrianus Mooy, alm. Ben Mboy pada sektor birokrat. Juga kita belum bicara tentang Jeremy Teti (mantan presenter TV yang kini jadi artis), Don Bosco Salamun (direktur MetroTV), Richard Bagun (Wapemum Kompas, yang kini menggantikan Ma’ruf Amin di BPIP), Claudius Boekan (direktur BeritaSatuTV) dan Gaudensius Suhardi (Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia), yang mana kesemuanya masuk dalam jajaran tokoh berpengaruh di kalangan pers tanah air.

Potensi lain dari NTT adalah pesona tenun ikat tradisionalnya. Tenun ikat asli NTT kini mulai diburu dari segenap penjuru dunia karena motif-motifnya yang unik lagi lucu namun langka. Wajar apabila harganya ada yang sampai menyentuh angka milyaran rupiah sehelai.

Jadi, sebenarnya bicara tentang NTT itu tidak hanya bicara tentang pesona pariwisatanya. NTT boleh dibilang surga kecil yang jatuh ke bumi. Propinsi ini komplit memiliki apa yang tak bisa dijumpai di belahan lain dunia.

Sebuah Ironi

Sayang sekali, walau mengandung banyak potensi sedemikian tadi, faktanya NTT masih juga tak berhasil keluar dari jebakan kemiskinan. Survey lembaga statistik nasional beberapa tahun silam masih menempatkan NTT sebagai salah satu propinsi terkatagori miskin.

Daerah ini juga termasuk penyumbang terbesar TKI/TKW yang berangkat ke luar negeri. Di balik pemberangkatan itu tak sedikit yang menempuh jalur ilegal bahkan ada yang sampai terjebak human trafficking. Tragis memang.

Ironi ini harus diputus segera. Sudah bukan masanya lagi anomali sosial terjadi di bumi Indonesia terutama karena perhatian pemerintah pusat kini benar-benar dialamtkan secara dominan ke arah kawasan timur, termasuk NTT. Bila pemerintah pusat saja sudah terketuk hatinya untuk mengakselerasikan NTT agar sederap dan selangkah bersama propinsi-propinsi lain yang lebih sejahtera, kita berharap semua stake holder di level lokal yakni gubernur dan para bupati dan walikota juga terpanggil untuk menggarap proyek besar “meluruskan” NTT.

Besar harapan kita, gubernur saat ini yakni Viktor Laiskodat berkenan menghimpun semua kekuatan yang dimiliki warganya untuk selanjutnya diberdayakan demi misi mulia tersebut. Andaikata benar diwujudkan oleh sang gubernur, rasanya tak sungkan kita akan berani bilang, “Ini dari NTT untuk Indonesia”. Salam.

_____
Penulis adalah Pendiri Komunitas Spartan Nusantara, Kelahiran NTT. Aktif sebagai jurnalis independen di berbagai media.

Komentar