oleh

Garam, Emas Putih dari NTT untuk Indonesia

-Opini-378 views

Oleh : Erse Perseferanda

Potensi garam di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 21.000 hektare memerlukan investasi yang besar. Realisasi investasi membutuhkan kerjasama dari pemerintah, investor dan akademisi. Pemerintah membuat regulasi yang mendorong peningkatan investasi oleh para investor, sedangkan akademisi melakukan riset dan studi kelayakan mengenai usaha industri garam.

Jika investasi terealisasi maka usaha garam akan berperan tidak saja terhadap perekonomian regional NTT, melainkan juga terhadap perekonomian nasional, dimana selama ini mengimpor garam dari luar negeri dàpat mengurangi impornya bahkan ke depan menjadi pengekspor garam.

Peran garam dalam perekonomian dapat dilihat dari tiga sektor antara lain: Pertama, garam yang diambil melalui pengambilan bawah tanah (ekstraksi) termasuk dalam pelarutan dan pemompaan, serta produksi garam dengan penguapan air laut atau air garam lainnya (air laut di tambak/empang) dan penghancuran, pemurnian dan penyulingan garam.

Garam ini masih berupa garam kasar yang belum bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Kegiatan yang mencakup usaha ekstraksi garam ini dikategorikan dalam sektor ekonomi penggalian. Pembangunan dan pengembangan oleh investor pada sektor ini dapat menyerap berbagai sumber daya lokal dalam proses produksinya diantaranya dapat melibatkan petambak garam.

Selain itu pemerintah dàpat menggalakkan program pemberdayaan masyarakat melalui Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) yang dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi garam di NTT dan nasional. Dukungan bantuan modal bagi petambak garam serta pelaksanaan yang efisien dan efektif akan mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petambak garam.

Kedua, garam yang telah diekstrak akan diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Kegiatan yang mencakup usaha pengolahan garam kasar menjadi garam yang siap dikonsumsi termasuk industri pengolahan. Kegiatan yang mengolah garam kasar sebaiknya dilakukan di berbagai wilayah di NTT yang memiliki potensi garam, agar dapat memberikan nilai tambah yang berdampak pada peningkatan pendapatan di sektor industri pengolahan.

Ketiga, kegiatan yang mencakup aliran distribusi garam, mulai dari produsen garam kasar hingga garam tersebut sampai konsumen akhir. Kegiatan ini dikategorikan dalam sektor perdagangan besar dan eceran. Apabila volume dan nilai perdagangannya besar maka sektor garam dapat memberikan kontribusi yang besar pula terhadap sektor perdagangan.

Provinsi NTT memiliki garis pantai mencapai 5.700 kilometer, sehingga bisa dikembangkan investasi garam dalam jangka panjang.

Pada tahun 2017, PT Garam Indonesia Persero membuka pabrik garam di Bipolo Kabupaten Kupang dengan luas lahan hingga 400 hektare dengan nilai investasi Rp 4,5 miliar dan dikembangkan hingga Rp 10 miliar.

Selain di Bipolo, sejumlah wilayah lainnya di NTT juga ikut memproduksi garam seperti di Kabupaten Nagekeo dengan lahan potensial 2.500 hektare, Rote 1.000 hektare, Kabupaten Timor Tengah Utara 1.070 hektare, Sumba Timur 10.014 hektare, dan Malaka 2.000 hektare, serta Sabu Raijua 700 hektare.

Saat ini, sedang dikembangkan tambak garam di Nunkurus Kabupaten Kupang dengan luas lahan hingga 600 hektare oleh PT. Timor Life Stock. Usaha ini sudah dilihat langsung Presiden Joko Widodo, kemarin (Rabu, 21/8/2019), kunjungan Presiden bisa jadi stimulan bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya para petani tambak garam dan semua pihak yang terkait dalam seluruh mata rantai industri garam di daerah ini.

Provinsi NTT memiliki garam sebagai “Emas Putih”, untuk memenuhi kebutuhan garam nasional, agar kedepannya Indonesia tidak impor tapi ekspor garam melalui pelabuhan bongkar muat Tenau Kupang yang akan bertaraf internasional. Pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat bekerja sama mengelola potensi yang tersedia dan didukung penuh pemerintah pusat. (***)

 

Penulis : Pemerhati Masalah Ekonomi dan Pembangunan

Komentar