oleh

Heutagogy (Self-Determined Learning): Membangunkan Raksasa Tidur dalam Diri

Oleh: Vincent Gaspersz

Heutagogy adalah istilah yang diciptakan oleh Stewart Hase dan Chris Kenyon dari Southern Cross University di Australia, dan juga disebut pembelajaran yang ditentukan oleh diri sendiri (self-determined learning).

Prinsip dasar dari pendekatan heutagogy adalah bahwa seorang pelajar/pembelajar (learner) harus menjadi pusat pembelajaran bagi dirinya sendiri, dan oleh karena itu, bahwa ‘pembelajaran (learning)’ tidak harus dilihat sebagai ‘harus’ tergantung pada guru/dosen, kurikulum, fasiltas, dan faktor-faktor lain di luar si pembelajar itu sendiri.

Sejak teori ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2000, pendekatan ini telah diterima sebagai pendekatan yang sangat cocok dalam lingkungan e-learning.

Kemudian setelah tahun 2010, pendekatan ini mulai dipopulerkan ke dalam lingkungan pendidikan umum, sebagai sesuatu motivator yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa/mahasiswa.

Tentu saja agar heutagogy ini dapat berlangsung secara efektif, maka beberapa persyaratan berikut harus dipenuhi:

  1. Mengetahui bagaimana belajar harus merupakan keterampilan utama bagi pembelajar (learner).
  2. Harus menciptakan dunia belajar yang menyenangkan.
  3. Menghindari dominasi guru/dosen yang menciptakan pembelajaran yang berfokus pada guru/dosen itu.
  4. Guru/Dosen berfokus pada proses pembelajaran bukan sekedar berfokus pada materi pembelajaran berdasarkan kurikulum.
  5. Pembelajar (siswa/mahasiswa) memilih topik-topik berdasarkan pilihan sendiri serta bertanggung jawab sendiri untuk menguasai topik-topik pembelajaran itu.
  6. Pembelajar (siswa/mahasiswa) mempelajari hal-hal melampaui disiplinnya.
  7. Pembelajaran ditentukan oleh diri sendiri sesuai dengan semua poin di atas.

Heutagogy juga akan memberikan sejumlah atribut dan keterampilan yang dibutuhkan oleh lulusan ketika memasuki dunia kerja yang hiperkompetitif, sebagai berikut:

Menciptakan Visi Masa Depan, melalui:

  • Guru/Dosen memberikan waktu, sumber daya, kesempatan kepada siswa/mahasiswa untuk mengidentifikasi dan mengejar impian-impian mereka.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam mengembangkan langkah-langkah dan strategi-strategi yang diperlukan untuk mencapai impian-impian mereka.

Menciptakan Keterampilan Komunikasi Lisan dan Tertulis, melalui:

  • Pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan berbicara (mengemukakan pendapat) dan menulis menggunakan keunikan masing-masing siswa/mahasiswa serta berbicara menggunakan suara asli masing-masing dari siswa/mahasiswa.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa menciptakan fokus, energi, semangat (passion) yang ingin dilakukan oleh siswa/mahasiswa berkaitan dengan komunikasi lisan dan tertulis.

Menciptakan Keterampilan Solusi Masalah Berdasarkan Pemikiran Kritis, melalui:

  • Guru/Dosen mempromosikan dan menguatkan melalui hal-hal yang belum pernah dilakukan oleh siswa/mahasiswa, di mana dalam hal ini guru/dosen dan siswa/mahasiswa harus berpikir ulang atau memikirkan hal-hal baru.
  • Guru/Dosen meminta siswa/mahasiswa memunculkan pertanyaan atau bertanya berdasarkan pertanyaan unik yang dibuat oleh siswa/mahasiswa itu sendiri. Melatih bertanya.

Menciptakan Keterampilan Kerjasama (Kolaborasi) Melalui Jaringan Kerja, melalui:

  • Guru/Dosen memfasilitasi komunikasi global dan kerjasama dengan siswa/mahasiswa yang lain.
  • Guru/Dosen memberikan siswa/mahasiswa kesempatan untuk bekerjasama secara tatap muka maupun virtual.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam mengembangkan jaringan kerja pembelajaran pribadi dari siswa/mahasiswa itu sendiri.

Menciptakan Rasa Ingin Tahu dan Imajinasi, melalui:

  • Guru/Dosen mempromosi, mendukung, dan melakukan penguatan (reinforcement) terhadap keingintahuan dari siswa/mahasiswa.
  • Guru/Dosen mendukung siswa/mahasiswa untuk menambah “sentuhan pribadi” terhadap pengalaman belajar mereka.
    Menciptakan Inisiatif dan Semangat Kewirausahaan, melalui:
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa untuk terlibat dalam aktivitas yang berguna.
  • Guru/Dosen memberikan kesempatan kepada siswa/mahasiswa untuk mengambil risiko, melakukan inisiatif mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam rangka membangun semangat kewirausahaan.

Menciptakan Kecekatan (Agility) dan Kemampuan Beradaptasi (Adaptability), melalui:

  • Guru/Dosen memotivasi siswa/mahasiswa agar menerima perubahan sebagai sesuatu yang normal dan alamiah serta membantu siswa/mahasiswa untuk melakukan perubahan itu secara menyenangkan.
  • Guru/Dosen dan siswa/mahasiswa bersifat fleksibel,
  • Guru/Dosen dan siswa/mahasiswa menggunakan berbagai alat untuk menyelesaikan masalah.

Menciptakan Harapan dan Optimisme, melalui:

  • Guru/Dosen mengajarkan dan melakukan penguatan positif agar siswa/mahasiswa dapat mengemukakan pendapat sendiri, serta sikap “dapat melakukan” (Can Do Attitude).
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam mengembangkan pemikiran pribadi secara mandiri.
  • Guru/Dosen mengungkapkan kepada siswa/mahasiswa tentang ceritera-ceritera yang menggambarkan bagaimana orang lain dapat mencapai keberhasilan atau bagaimana orang lain mengatasi kesulitan-kesulitan.

Menciptakan Peraturan Mandiri, melalui:

  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam mengembangkan dan memahami proses metakognitif (metacognitive process) mereka sendiri.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa mengembangkan kemampuan mereka untuk memotivasi diri sendiri.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam merefleksikan dan mengevaluasi pengalaman belajar mereka.

Menciptakan Empati dan Penatalayanan Global (Global Stewardship), melalui:

  • Guru/Dosen memberikan siswa/mahasiswa kesempatan untuk pengambilan perspektif.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam memahami kesalingtergantungan dari semua sistem kehidupan.
  • Guru/Dosen menciptakan kesempatan untuk siswa/mahasiswa berempati secara nyata melalui keterlibatan dalam aktivitas sosial yang bermanfaat bagi orang lain.

Menciptakan Ketahanan (Resilience), melalui:

  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa agar melihat kegagalan sebagai suatu kesempatan untuk bertumbuh.
  • Guru/Dosen mendukung dan melakukan penguatan terhadap ketahanan asli yang dimiliki oleh siswa/mahasiswa itu sendiri.
  • Guru/Dosen menjamin bahwa setiap siswa/mahasiswa mengetahui masalah mereka sendiri.

Menciptakan Ketabahan Hati, melalui:

  • Guru/Dosen memberikan kesempatan kepada siswa/mahasiswa untuk bekerja dalam waktu lama pada proyek-proyek yang kompleks.
  • Guru/Dosen membantu siswa/mahasiswa dalam mengidentifikasi dan memberikan balas jasa (rewards) atas kegigihan atau ketekunan mereka.

Masih banyak hal-hal positif yang dapat diciptakan melalui berbagai aplikasi heutagogy dalam dunia nyata.

Berikut ini beberapa perbedaan mendasar antara metode pembelajaran baru (heutagogy) dan metode pembelajaran lama yang masih dipraktekkan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Metode Pembelajaran Baru (Heutagogy):

  • Siswa/Mahasiswa sebagai pusat pembelajaran.
  • Guru/Dosen sebagai pelatih, mentor, petunjuk, sumber daya, fasilitator, dan pemimpin bagi siswa/mahasiswa.
  • Menggunakan internet untuk memperoleh pluralistik dan perspektif yang lebih luas dari suatu topik pembelajaran.
  • Kegagalan dan kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran.
  • Kurikulum bersifat diferensiasi dan personalisasi.
  • Penilaian formatif (berhubungan dengan perkembangan), terus-menerus, untuk dan oleh siswa/mahasiswa agar meningkatkan pembelajaran.
  • Pembelajaran adalah multi indrawi (multy-sensory), berdasarkan praktek nyata, asli, dan relevan dengan kebutuhan dunia nyata.
  • Siswa/Mahasiswa menghasilkan sekaligus mempelajari materi pembelajaran.
  • Siswa/Mahasiswa lebih banyak aktif (berbicara dan berdiskusi) dibandingkan Guru/Dosen selama waktu pembelajaran.
  • Teknologi (komputer, internet, dll) terintegrasi secara langsung ke dalam kurikulum.
  • Perilaku yang salah dipandang sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan sering diselesaikan melalui usaha-usaha kelompok.
  • Pembelajaran emosional sosial dipandang sebagai bagian integral untuk mendidik siswa/mahasiswa.

Sebaliknya Metode Pembelajaran Lama memiliki karakteristik berikut:

  • Kurikulum sebagai pusat pembelajaran (hanya mengajarkan materi sesuai kurikulum).
  • Guru/Dosen sebagai ahli yang tidak boleh dibantah, mengajarkan materi pembelajaran satu arah, mengadakan ujian-ujian, memberikan tugas-tugas, dan menegakkan disiplin secara kaku.
  • Menggunakan buku ajar tunggal (single textbook) untuk mengajarkan suatu subyek atau topik pembelajaran.
  • Kesempurnaan secara eksplisit maupun implisit ditekankan secara bersama oleh siswa/mahasiswa dan guru/dosen.
  • Kurikulum merupakan segala-galanya, seolah-olah cocok untuk semua situasi dan kondisi (one-size-fits-all curriculum).
  • Penilaian sumatif (summative assessment) sebagai bentuk pertanggungjawaban dari guru/dosen dan sekolah/universitas.
  • Pembelajaran hanya berfokus kepada kemampuan otak/pikiran/intelektual, meskipun kadang-kadang tidak relevan bagi siswa/mahasiswa.
  •  Siswa/Mahasiswa menghabiskan waktu untuk memahami materi pembelajaran secara pasif.
  • Guru/Dosen lebih banyak aktif dan berbicara selama waktu pembelajaran.
  • Teknologi (komputer dan internet) hanya sebagai pelajaran tambahan, dipraktekkan di luar jadwal pembelajaran, dan tidak terintegrasi ke dalam kurikulum.
  • Perilaku yang salah akan memperoleh hukuman disiplin dari guru/dosen.
  • Pembelajaran emosional sosial hampir tidak ada atau minimum dan tidak terintegrasi ke dalam pembelajaran/pendidikan.

Metode Pembelajaran Baru (Heutagogy) akan menciptakan lulusan yang KREATIF dan INOVATIF, sedangkan Metode Pembelajaran Lama menciptakan lulusan yang TIDAK KREATIF dan TIDAK INOVATIF. Demikian beberapa ulasan singkat tentang Heutagogy yang MAMPU membangkitkan raksasa tidur dari dalam diri siswa/mahasiswa. (*)

Komentar