oleh

Implementasi Penataan Ruang Dalam Taman Nasional

-Opini-691 views

Oleh : MUGI KURNIAWAN

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Nasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam.

Taman Nasional Komodo memiliki Luas 173.300 Ha dengan luas daratan 40.728 Ha dan luas perairan 132.752 Ha. Luasnya kawasan perairan dibandingkan dengan kawasan daratan inilah yang mengharuskan adanya perlakukan khusus dalam pengelolaan.

Permasalahan taman nasioal komodo yang memiliki karakteristik kawasan perairan tentunya memiliki perbedaan dengan pengelolaan taman nasional di Indonesia pada umumnya terutama untuk taman nasional yang sebagian besar kawasannya berupa daratan.

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi terutama di dalam kawasan dan sekitarnya sedikit banyak berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi kawasan taman nasional komodo. Akibat dari segala permasalahan yang timbul adalah kerusakan ekosistem.

Ekosistem terestrial di Taman Nasional Komodo sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim kering yang panjang dengan curah hujan yang rendah.  Perlu diketahui bahwa flora dan fauna yang ada di Taman Nasional Komodo merupakan peralihan antara Australia dan Asia. Kondisi topografis berupa perbukitan terjal. Terdapat 3 ekosistem Terestrial Taman Nasional Komodo yaitu :

  1. Padang rumput terbuka hutan savana.
  2. Hutan tropika deciduous.
  3. Hutan kuasi awan.
  4. Perairan (132.572 ha)

Ekosistem perairan di Taman Nasional Komodo mencakup wilayah 67 % dari total kawasan Taman Nasional Komodo. Wilayah perairan ini  mengelilingi Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Nusa Kode dan pulau-pulau kecil lainnya. Daerah-daerah penting di ekosistem perairan yaitu :

  1. Perairan pelagis
  2. Terumbu karang
  3. Padang lamun
  4. Mangrove

Kondisi Masyarakat Sekitar Kawasan

Di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, masyarakat tinggal di dalam zona pemukiman masyarakat tradisional. Terdapat 3 desa yaitu desa Komodo di Pulau Komodo (SPTN Wil. II P. Komodo), Kampung Rinca di Pulau Rinca (SPTN Wil. I P. Rinca), Kampung Papagaran di Pulau Papagaran (SPTN Wil. III P. Padar), dan Kampung Kerora di Pulau Rinca (SPTN Wil. I P. Rinca).

Zonasi di Taman Nasional Komodo

Zonasi taman nasional berdasar Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56 / Menhut-II / 2006 mengandung pengertian sebagai suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas, dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Atau secara singkatnya Zona taman nasional adalah wilayah di dalam kawasan taman nasional yang dibedakan menurut fungsi dan kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.

Pemerintah menetapkan pedoman zonasi taman nasional dengan maksud sebagai acuan bagi pengelola kawasan Taman Nasional dalam melaksanakan penataan zona atau wilayah di kawasan taman nasional. Dimana tujuannya adalah untuk mewujudkan sistem pengelolaan taman nasional yang efektif dan optimal sesuai dengan fungsinya. Dengan zonasi ini diharapkan mampu menjembatani antara kepentingan ekologis dan kepentingan manusia sehingga terjadi aspek pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo dengan sistem zonasi didasarkan pada SK Dirjen PHKA No. 65/Kpts/DJ-V/2001 tanggal 30 Mei 2001. Sistem zonasi di Taman Nasional Komodo mencakup dan meliputi kawasan daratan dan perairan dan terdiri dari 10 tipe zonasi. Zona-zona yang meliputi kawasan darat dan laut memiliki peraturan khusus untuk kedua tipe lingkungan tersebut (sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDA Hayati dan Ekosistemnya). Tipe-tipe zona tersebut antara lain :

a) Zona Inti, zona ini memiliki luas 31.257,94 Ha dan merupakan zona yang mutlak dilindungi, di dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia, kecuali yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian , di zona ini tidak boleh dilakukan.

b) Zona Rimba Daratan, zona ini memiliki luas 23.529,58 Ha  merupakan zona yang di dalamnya tidak diperbolehkan adanya aktivitas manusia sebagaimana pada zona inti kecuali kegiatan wisata alam terbatas.

c) Zona Rimba Perairan/ Bahari, zona ini memiliki luas 34.612,20 Ha adalah daerah dari garis pantai sampai 500 m ke arah luar dari garis isodepth 20 m sekeliling batas karang dan pulau, kecuali pada zona pemanfaatan tradisional bahari. Pada zona ini tidak boleh dilakukan kegiatan pengambilan hasil laut, seperti halnya pada zona inti kecuali kegiatan wisata alam terbatas.

d) Zona Pemanfaatan Wisata Daratan, zona ini memiliki luas 1.1161,65 Ha dan diperuntukkan secara intensif hanya bagi wisata alam daratan.

e) Zona Pemanfatan Wisata Bahari, zona ini memiliki luas 1.658,35 Ha dan diperuntukkan secara intensif bagi wisata alam perairan.

f) Zona Pemanfaatan Tradisional Daratan, zona ini memiliki luas 1.112,59 Ha, zona yang dapat dilakukan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan dasar penduduk asli dalam kawasan dengan ijin hak khusus pemanfaatan oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo.

g) Zona Pemanfaatan Tradisional Bahari, zona ini memiliki luas 15.878,81 Ha, zona yang dapat dilakukan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan dasar penduduk asli dalam kawasan dengan ijin hak khusus pemanfaatan oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Pada zona ini dapat dilakukan pengambilan hasil laut dengan alat yang ramah lingkungan (pancing, bagan, huhate, dan paying).

h) Zona Pemukiman Masyarakat Tradisional, zona ini memiliki luas 373,99 Ha, zona untuk bermukim hanya bagi penduduk asli dengan peraturan tertentu dari kepala Balai Taman Nasional Komodo bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat.

i) Zona Pemanfaatan Khusus Penelitian dan Pendidikan, zona ini memiliki luas 1.146,21 Ha merupakan zona yang hanya diperuntukkan bagi kegiatan dan pengembangan penelitian, pendidikan, pelatiha, dan rehabiltasi.

j) Zona Pemanfaatan Khusus Pelagis, merupakan zona yang terluas dengan total luas 62.568,68 hektar. Pada zona ini dapat dilakukan kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan hasil laut lainnya yang tidak dilindungi dengan alat yang amah lingkungan (pancing, bagan, huhate, dan payang) serta kegiatan wisata/ rekreasi.

Pengembangan penataan Pulau Komodo yang sedang dilakukan pemerintah tentu bisa berlandaskan zonasi yang disebutkan di atas, dalam kerangka menata kelola taman nasional komodo sebagai potensi pariwisata. (*)

Komentar