oleh

Keadaban Mundur

Eksperimentasi demokrasi melalui kampanye hitam dan hoaks, adalah upaya penguatan kepentingan yang tidak mendewasakan masyarakat Indonesia dalam edukasi politik bermartabat dalam ruang keadaban publik.

Pemanipulasian data dalam satu kesatuan penghinaan yang mengindividu, bisa jadi dipandang sebagai kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan sebagai tontonan ironi politik para pelaku atau elite politik. Ungkapan kebencian dengan cara-cara manipulatif, mengekspresikan kaburnya kepentingan yang dperjuangkan yang tidak lagi terjangkau akal sehat. Semua orang lalu digiring untuk berada dalam wilayah irasionalitas pelaku-pelaku politik yang mendominasi wacana. Ini menandakan bahwa pengelolaan suksesi kepemimpinan politik, tidak selalu dijunjung oleh kedewasaan dan keiklasan untuk menerima kepelbagian sebagai negarawan.

Semakin transparannya perilaku politik, yang sering terjebak pada hal-hal yang emosional, justru menjadi langkah mundur. Menata iklim demokrasi, tidak hanya memperkuat kelembagaan demokrasi saja. Demokrasi yang sehat sangat tergantung pada budaya, dalam artian perlaku, praktek-praktek dan norma yang mencerminkan kemampuan rakyat untuk mengatur diri mereka sendiri. Terlebih dalam menyikapi suksesi, konflik maupun melakukan kompromi ataupun konsensus. Memang perjalanan demokrasi selalu penuh dengan paradoks. Menurut Larry Diamond, paradoks utama demokrasi selalu hadir dalam bentuk konflik dan konsensus. Demokrasi dalam banyak hal, tidak sekedar seperangkat aturan untuk menata konflik. Konflik harus ditata dalam batas-batas tertentu sehingga menghasilkan kompromi, konsensus atau kesepakat lain dinana semua sisi diterima secara legitimate.

Dalam konteks demikian, masuk akal kalau para pelaku politik yang mengambil bagian dalam proses pilpres haruslah memberi contoh berdemokrasi dengan menjunjung tinggi etika dan moral politik. Maka yang lebih mengedepan dari masalah ini adalah pegangan moral dalam menyikapi setiap proses pemilihan, yakni membangun keikhlasan untuk bersaing secara elegan dan belajar dewasa untuk menghormati lawan. Memang membangun keihklasan untuk menghormati perbedaan, tidak gampang. Bahkan bisa jadi sikap seperti ini tidak ada dalam rumus pertarungan politik. Begitupun kedewasaan untuk menghormati lawan hanya akan tumbuh jika sikap satria untuk mengakui proses pilpres sebagai upaya untuk menghadirkan negarawan untuk bangsa. Semua ini hanya mungkin terjadi kalau semua pihak berangkat dari nilai-nilai etis yang sama, yaitu memandang pihak lain sebagai bagian dari proses menuju cita-cita demokrasi dalam negara Pancasila.

Untuk itu nilai sportifitas, kejujuran , keikhlasan dan baik sangka perlu dikembangkan. Kedewasaan untuk menghormati lawan, hanya akan terjadi apabila berpolitik didasarkan atas sikap prasangka baik kepada semua pihak. Politik tidak bisa lagi dibangun di atas pilar-pilar kecurigaan. Dalam situasi umum, dimana derajat pelembagaan politik masih berada pada tingkat yang paling rendah, kegairahan mengeksploitasi ketidakpuasan akan mengakibatkan akomodasi pada tingkat nilai, lembaga maupun individu tidak pernah menjadi bentuk jadi.

Malah yang jadi justru pembusukan masalah yang tidak terselesaikan, dimana kekerasan politik dalam bentuk terror, intimidasi maupun kerusuhan akan tetap dilanggengkan menjadi model bagi kita dalam menikmati euphoria reformasi. Untuk itu di tengah hingar bingar kehidupan berbangsa dan bernegara yang tengah kehilangan arah dan para elite politik kita di tingkat Pusat tetap meniup nafiri perang, barangkali kasus hoaks menjadi menarik untuk kita kaji guna membangun tradisi politik, agar kita tidak lagi hidup dalam selimut demokrasi semu. Belajar dewasa untuk menghormati lawan dan ikhlas untuk menerima perbedaan , adalah cara yang paling mulia untuk membangun tradisi politik dan demokrasi secara berkeadaban. Agar kita tidak mundur dalam membangun keadaban politik dengan membangun bangunan kritik konstruktif. Bukan menabur kebencian dengan penguatan identitas keagamaan dalam bangunan kekuatan menghina, dan pertengkaran masa lalu yang memang lahir dari kebencian dan kecongkakan. Padahal Winston Churchil telah mengingatkan warga bangsa: ”Jika kita bertengkar tentang masa lalu dan masa sekarang, maka kita telah kehilangan masa depan.”

Maka kita perlu memiliki ingatan kolektif pada tuntutan pertama etika politik, yakni “hidup baik bersama dan untuk orang lain”. Dalam tataran ini etika politik dipahami sebagai perwujudan sikap dan perilaku politikus atau warga negara. Politikus yang baik adalah seseorang yang memiliki integritas, jujur, santun, tidak berbohong, menerima kritik, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak mementingkan diri sendiri atau golongannya. Seorang politikus yang menjalankan etika politik adalah seorang negarawan yang mempunyai keutamaan-keutamaan moral sebagaimana tersebut diatas. Paul Ricoeur (1990) mengatakan bahwa tujuan etika politik adalah ke hidup baik bersama dan untuk orang lain dalam rangka memperluas ruang lingkup kebebasan dan membangun institusi-institusi yang adil. Dalam perspektif Ricoeur etika politik mengandung tiga tuntutan, yakni: 1) upaya hidup baik bersama dan orang lain; 2) Upaya memperluas ruang lingkup kebebasan; 3) Membangun institusi yang adil.

Ricoeur juga menegaskan bahwa etika politik tidak hanya menyangkut perilaku individual tetapi terkait dengan tindakan kolektif (etika sosial). Dalam etika individual, pendapat atau pandangan pribadi bisa langsung diwujudkan dalam tindakan. Sedangkan dalam etika politik, pandangan pribadi dapat diwujudkan setelah memperoleh persetujuan dari sebanyak mungkin warga negara, oleh karena pandangan atau pendapat tersebut bersentuhan langsung dengan tindakan kolektif bagi kepentingsn bersama.

Etika politik urgen apabila pertama, terdapat celah dimana etika politik bisa berbicara dengan otoritas karena legitimasi tindakan politik tidak lagi merujuk pada norma-norma moral, nilai-nilai hukum dan peraturan perundang-undangan. Kedua, etika politik selalu berbicara dari sisi korban dan berpihak pada korban dengan tidak akan mentolerir politik yang kasar dan tidak adil serta tidak beradab.

Salam hormat, Oepura 04 Januari 2019.

Marsel Tupen Masan

Komentar