oleh

Kemerdekaan Membuat Keputusan, Penentu Sukses

-Opini-186 views

Oleh: Vincent Gaspersz

Ada istilah yang dimunculkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim seperti Merdeka Belajar. Boleh saja diikuti, tetapi ingat berdasarkan pengalaman, Merdeka Belajar itu jauh lebih sulit daripada pembelajaran konvensional, karena membutuhkan Growth Mindset, baru bisa success.

Tetapi apapun yang diungkapkan, bagi saya “Kemerdekaan Membuat Keputusan” lebih diutamakan dalam dunia nyata.

Bukankah kita sudah diberikan sumber daya yang paling utama dan adil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu: Waktu? Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama, 24 jam per hari, 7 hari per minggu, dan seterusnya. Tetapi mengapa tidak setiap orang bebas atau merdeka dalam menggunakan waktu yang sama itu?

Berdasarkan pengalaman, orang yang success dalam dunia nyata, adalah orang yang Merdeka dalam Membuat Keputusan, dan kemerdekaan dalam membuat keputusan itu bukan sekedar teori tetapi praktek nyata.

Dengan demikian, ujian real dalam dunia nyata adalah menghadapi masalah kehidupan. Jawabannya ada dalam solusi masalah. Dan efektivitasnya terdapat dalam pembuatan keputusan.

Siapa yang success dalam ketiga hal utama ini, dia yang akan success dalam dunia nyata.

Jadi ilmu apapun yang dipelajari, strategi apapun yang diterapkan, harus mencapai ketiga hal utama ini, yaitu:

  1. Mengidentifikasi masalah secara tepat,
  2. Menemukan akar-akar penyebab masalah itu sehingga bisa menghilangkannya sebagai solusi yang benar, dan
  3. Membuat keputusan untuk bertindak menghilangkan akar-akar masalah yang ada dalam point 2 itu agar keputusan itu disebut efektif.

Strategi menggunakan enam langkah perencanaan (tujuan perencanaan, analisis situasi, pengembangan strategi, rencana operasional, rencana implementasi dan pengendalian, pengendalian). Sejak awal mendesain success, kemudian membuat perencanaan yang membuat success dalam kehidupan nyata sesuai pengalaman saya (success 4K: Kuliah, Karier, Keluarga, Keuangan) secara efektif dan efisien.

Memang kelihatan mudah mempelajari Perencanaan Proaktif secara teori, tetapi sulitnya minta ampun untuk menerapkannya karena membutuhkan Growth Mindset dalam pembuatan keputusan berkualitas.

Tampak bahwa dalam level pembuatan keputusan kompeten telah membutuhkan Growth Mindset yang tidak bisa diajarkan atau dikendalikan oleh orang lain, tetapi harus berdasarkan kesadaran diri (Self Awareness) sebagai kunci awal menuju success, yaitu: Motivasi (Motivation).

Growth Mindset itu harus ditransformasikan menjadi Growth Attitude, kemudian Growth Habits, dan pada akhirnya menjadi Growth Character. Nah Growth Character ini yang membuat oran-orang success mencapai tujuan/sasaran terukur dalam kehidupannya.

Growth Character itu adalah:

  1. Motivation
  2. FOCUS (Follow One Commitment Until success)
  3. Critical Thinking
  4. Full Brain Power
  5. Continuous Learning
  6. Self Improvement
  7. Creative Solution

Point 1 dan 2 merupakan prasyarat untuk mencapai kualifikasi Competent dalam pembuatan keputusan. Point 1, 2, 3, dan 4 adalah prasyarat untuk mencapai kualifikasi Proficient dalam pembuatan keputusan. Sedangkan untuk mencapai kualifikasi Expert dalam pembauatn keputusan, maka kita harus memiliki tujuh Character dari Growth Mindset di atas.

Dengan demikian Efektivitas Pendidikan yang benar adalah kemampuan sistem pendidikan itu menumbuhkembangkan Growth Character itu sehingga memiliki Kemerdekaan Membuat Keputusan dalam dunia nyata.

Itulah hakekat dari Learning for Life, bukan masih berorientasi pada Learning for School seperti selama ini dipraktekan dalam sistem pendidikan Indonesia.

 

(Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt and Certified Management Systems Lead Specialist)

Komentar