oleh

Membalut Kesetiaan Berbahasa dan Bernegara Dalam Karya Sastra

Opini Oleh : Katharina Woli Namang

Sastra merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, dengan kata lain sastra merupakan bentuk atau produk yang dianggap sebagai penanaman tata nilai kemanusaia, termasuk kesetian. Bahasa merupakan pemersatu bangsa kita oleh sebab itu bahasa adalah salah satu harta karun yang harus kita jaga.

Melalui kajian sastra nila-nilai kesetian dapat membalut perasaan kita untuk lebih menghargai orang lain, dan membuat diri kita lebih mempehalus perasaan baik itu novel, cerpen ataupun puisi. Kesetiaan dan karya sastra memiliki makna tersendiri. Bahkan seorang penyair sering menuliskan kegelisahan dan kritik sosial dalam kesetian dalam bentuk puisi, hal ini tentu sangat menggugah hati bagi para pembacanya, karena karya-karya yang dituliskan para sastrawan mencerminkan yang sebenarnya dirasakan para sastrawan tersebut. Sebagai contoh adalah puisi “Kembalikan Indonesia” karangan Ghita Novita Sari, “Semangat kemerdekaan” oleh Irwan Maulana dan “Zamrud Khatulistiwa “ oleh Nurul Lathifah, dalam puisi tersebut perspektif seorang sastrawan menggambarkan bentuk kesetian akan tana air, cinta terhadap tana air dan ingin Indonesia tetap merdeka dalam arti sesungguhnya namun kata-kata yang diungkap oleh penulis sulit dipertahankan, hal ini karena kita belum mengerti arti kesetian.

Kesetiaan terhadap tanah air bukan hanya sekedar teriakan kata-kata yang tak memiliki makna, tana air bukan hanya tempat kita memijak kan kaki, merangkum kehidupan yang kita inginkan dan bukan sekedar tempat tinggal kita, tapi ia adalah separuh nafas kita dan jiwa serta raga kita, lambang Bhineka Tunggal Ika, bendera mera putih dan lagu kebangsaan kita meresap dalam ingatan dan hati kita menimbulkan rasa kebanggaan namun terharu, rasa heropin terhadap pahlawan-pahlawan kita. Oleh karena itu, ketika lagu kebangsaan dinayanyikan dan bendera merah-putih berkibar dalam berbagai event, tiba-tiba ada perasaan sentimentil dalam diri kita. Hati kita tergugah, perasaan kita peka, kita terharu, kita bangga menjadi Indonesia, dan bahkan kita menitikkan air mata tanda kesedihan maupun kebahagiaan.

Namun, rasa nasionalisme tersebut seringkali ringkih. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari kita menjalankan hidup di atas bumi Indonesia ini ibarat seorang perantau atau seorang musafir yang kehadirannya di suatu tempat hanya sementara. Cara kita memperlakukan bangsa Indonesia ibarat seorang asing yang tidak memiliki ikatan kuat dan mendalam pada tempat dimana ia berpijak. Pasalnya, sampai hari ini kesetiaan pemakai bahasa Indonesia dan negara masih diabaikan, alangkah baiknya jika dijelaskan terlebih dahulu tentang arti kesetiaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:833), kesetiaan adalah keteguhan hati; ketaatan; atau kepatuhan.

Kesetiaan terhadap bahasa dan negara Indonesia adalah suatu ketaatan yang menunjukkan rasa suka rela dan bahkan bangga dalam menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah bahasa sehingga bahasa yang digunakan dapat digolongkan bahasa baik dan benar. Dalam karya sastra Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia ini bukan berarti benci terhadap bahasa asing (Inggris). Pemakai bahasa Indonesia yang taat kaidah ini mengetahui kapan dan di mana menggunakan bahasa Indonesia serta kapan dan di mana harus menggunakan bahasa Inggris.

Kesetiaan berbahasa Indonesia merupakan suatu sikap patuh, taat, dan bangga menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan menggunakan bahasa yang bukan berasal dari bahasa Indonesia. Namun, berbagai kesalahan berbahasa sering dilakukan oleh pemakai bahasa, baik secara lisan maupun secara tulis; baik oleh kaum awam, terpelajar maupun kalangan artis, dan pejabat. Kesalahan ini terus saja terjadi padahal kesalahan tersebut sangat memungkinkan terjadinya salah penafsiran dan bahkan mengakibatkan kesalahan informasi.

Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa. Bangsa Indonesia dituntut untuk dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi berbagai tantangan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa yang harus dipertahankan. Tak bisa dipungkiri, Bahasa Indonesia terkena gempuran Era globalisasi. Indikasinya adalah semakin menurunnya rasa bangga berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat Indonesia.

Kesetiaan masyarakat dalam menggunakan bahasa Indonesia semakin luntur dan menjauh dari kata kestian. Kesetiaan terhadap bahasa Indonesia adalah suatu sikap yang menunjukkan rasa bangga dalam menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan menggunakan bahasa asing atau kata yang bukan berasal dari bahasa Indonesia. Kenyataan telah menunjukkan bahwa masyarakat kita lebih bangga berbahasa asing. Hal ini terlihat pada penggunaan nama-nama pertokoan dan tempat bisnis, penggunaan bahasa para pejabat dan figur publik lainnya, nama acara-acara di televisi, dan sebagainya.

Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat kita lebih memilih kata asli yang berasal dari bahasa asing dibandingkan dengan menggunakan padanannya yang sudah ada dalam bahasa Indonesia. Misalnya lebih suka menggunakan kata copy dibandingkan salinan ”meeting” dibanding dengan ”pertemuan”, lebih memilih kata stop dari pada ”berhent”i lebih memilih kata ”cancel” dibanding dengan ”batal”, lebih sering menggunakan kata ”try out” daripada ”uji coba”, dan sebagainya.

Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, sesungguhnya telah banyak kata-kata asing yang memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia. Bila padanan kata (dalam bahasa Indonesia) tersebut tidak biasa digunakan maka selamanya kata-kata tersebut akan semakin asing bagi masyarakat Indonesia sendiri. Kita tahu bahwa Bahasa merupakan sebuah produk budaya yang harus dipertahankan. Sebagai produk budaya, bahasa menjadi identitas kelompoknya. Jika produk budaya ini tidak dipelihara dan dijaga bukan tidak mungkin akan punah. Identitas kelompok pun menjadi hilang.

Kalau masyarakat Indonesia sendiri kian tenggelam dalam pembusukan bahasa Indonesia yang lebih dalam, mungkin bahasa Indonesia akan semakin sempoyongan dalam memanggul bebannya sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa. Mungkin ada benarnya ungkapan bahwa untuk membunuh sebuah bangsa, bunuhlah dulu bahasanya. Bangsa yang kehilangan bahasa adalah bangsa yang kehilangan identitas.

Bangsa itu kemudian melebur dalam diri budaya bangsa lain yang lebih besar. Kalau disimak dengan baik, muatan globalisasi sekarang ini meliputi berbagai aspek, seperti politik, ekonomi, budaya, iptek, dan pola hidup bahkan bahasa. Hal ini disebabkan arus komunikasi dan informasi yang begitu dahsyat. Peristiwa ini menuntut negara, dalam hal ini pemerintah sebagai pengambil kebijakan di bidang bahasa, harus hadir untuk „kerja, kerja, dan kerja‟ lebih intensif lagi untuk menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia demi mempertahankan dan bahkan mengokohkan keberadaan bahasa sebagai identitas bangsa Indonesia(***)

Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Komentar