oleh

Menakar Peran Ibu Zaman Now

-Opini-535 views

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd.

Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia

Setiap tanggal 22 Desember, kita memperingati hari ibu. Hari ibu selalu diperingati 3 hari sebelum hari NATAL. Entah kebetulan atau tidak, terlintas dalam benak saya, teringat akan ibu Maria, yang melahirkan Yesus atau nabi Isa. Kita melihat bagaimana peran seorang gadis belia Nazaret, yang bernama Maria dalam karya keselamatan Allah di dunia. Maria telah dipilih Allah untuk melahirkan Yesus atau Nabi Isa ke dunia. Peran Maria ibu Yesus, dalam sejarah keselamatan umat manusia telah menggambarkan atau melukiskan betapa pentingnya peran seorang wanita yang kemudian menjadi ibu dari seorang anak, dalam kehidupan. Sejenak kita merenungkan, bagaimana Maria ibu Yesus menyertai serta turut serta dalam kehidupan putra-nya Yesus, mulai dari Bethlehem, peristiwa NATAL (kelahiran Yesus) sampai peristiwa Golgota (kematian Yesus). Maria ibu Yesus selalu menyertai Putra-nya, termasuk di saat-saat tersulit dalam kehidupan putra-nya dalam peristiwa penyaliban di bukit golgota, ibu Yesus tetap setia berdiri di kaki salib putra-nya. Inilah wujud KASIH Maria ibu Yesus, kepada Yesus putra-nya. Sejak dalam kandungan, kelahiran sampai kematian, KASIH, seorang ibu kepada anaknya, tak terhingga.

Demikian juga halnya, dengan para ibu masa kini, perannya sama dengan peran Maria ibu Yesus atau nabi Isa. Kasih sayang seorang ibu, tiada tara dan tiada duanya, sangat berbeda dengan kasih sayang seorang ayah tentunya. Tanpa mengecilkan peran seorang ayah, seorang ibu adalah simbol kehidupan keluarga. Mengapa?Karena peran ibu dalam keluarga terasa “bikin hidup lebih hidup”. Mungkin terlalu bombastis kalau saya katakan kehadiran dan peran seorang ibu dalam keluarga menjadikan keluarga lebih sempurna. Seorang ibu dalam keluarga adalah bak “pahlawan”, dia bisa juga berperan sebagai seorang ayah dengan sangat sempurna. Karena itu seorang ibu, saat suami tiada, maka biasa disebut “single parent” dan sebaliknya, saat istri atau ibu dari anak-anak telah tiada, seorang ayah tidak lazim disebut sebagai “single parent”. Sebutan ibu sebagai orang tua tunggal (single parent), lantaran seorang ibu bisa berperan ganda, baik sebagai seorang ayah, maupun sebagai seorang ibu bagi anak-anak. Sedangkan seorang ayah, harus diakui, dia tidak bisa berperan secara sempurna seperti seorang ibu dalam keluarga. Seorang ibu dalam keluarga memang sungguh luar biasa, tidak tertandingi oleh siapapun. Sesungguhnya seorang ibu dengan intuisinya, jauh lebih memahami situasi rumah tangga dari pada seorang ayah. Karena itu, jika seorang ibu disebut sebagai ibu bijak, ada benarnya juga, sebab dia lebih memahami dan menyelami situasi anak dan keluarganya dari pada seorang ayah. Ibu lebih menggunakan hati (perasaan) dalam memutuskan sesuatu dalam keluarga, dari pada seorang ayah yang lebih menggunakan rasionalisasi (akal).

Lebih jauh, bahwa seorang ibu tentunya memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dengan anak, dari pada seorang ayah. Dengan demikian, sudah pasti seorang ibu jauh lebih peka dalam mengenali anaknya dibandingkan dengan sorang ayah. Kehebatan seorang ibu juga tersurat dan terlukis dalam ungkapan ini, bahwa “seorang ibu sanggup memelihara atau menghidupi 10 orang anak, tetapi 10 orang anak, belum tentu dapat memelihara atau menghidupi seorang ibu”. Demikianlah, kehebatan seorang ibu, mereka kaum ibu adalah ibu kehidupan, mereka adalah ibu yang terbaik di dunia ini. Itulah definisi ibu, walau peran ibu sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Oleh karena maha pentingnya peran seorang ibu dalam keluarga, maka jika seorang suami atau anak tidak menghormati atau menghargai jasa seorang istri atu ibu bagi anak-anak dalam keluarga, berarti mereka adalah ayah dan anak durhaka.

Ingatlah ungkapan ini, bahwa “surga ada dibawah telapak kaki ibu”. Itu berarti tidak menghormati ibu atau istri bagi suami dan anak adalah neraka? Mengapa? Karena mereka para ibu telah dipercayai oleh Allah, untuk bersama Allah bekerja sama menciptakan ciptaan baru dalam rahim seorang ibu. Allah memberkati rahim seorang ibu, untuk terciptanya kehidupan baru dan selama ± 9 bulan ciptaan baru hidup dalam perlindungan dan kuasa Allah. Maria, ibunda Yesus, bersama semua ibu didunia adalah co-creator Allah, dalam karya penciptaan manusia. Oleh karena buah rahimnya diberkati Allah dan Allah berkenan memberi kehidupan dalam rahimnya, maka rahim seorang ibu adalah surga bagi ciptaan baru di dalam rahimnya. Maka, dengan refleksi ini, jika seorang anak yang telah memperoleh kehidupan surgawi selama ± 9 bulan di dalam rahim ibu, maka jika mengkinati ibu, maka neraka adalah pelabuhan terakhir hidupnya.

Namun, disisi lain ada ironi kehidupan yang kita saksikan dibawah kolong langit ini, bahwa masih begitu banyak para ibu yang tidak bertanggungjawab, yang tega membuang atau menelantarkan anaknya, bahkan yang lebih sadis dan keji lagi menggugurkan calon bayi yang ada dalam rahimnya. Padahal, Allah sendiri melalui firman-Nya dalam kitab suci melarang untuk jangan membunuh. Membuang, menelantarkan dan aborsi, dalam arti lain adalah “membunuh” hak anak untuk hidup secara layak.

Maka, semoga dengan peringatan hari ibu ini, setiap ibu menyadari perannya yang amat luar biasa bersama Allah dalam penciptaan manusia baru selama ± 9 bulan. Allah telah turut serta dalam proses kehidupan baru yang dimulai dalam rahim seorang ibu, maka jangan biarkan ciptaan Allah itu, dibuang, ditelantarkan, diaborsi oleh keegoisan dan rasa tidak bertanggungjawab seorang ibu. Ingatlah kelak semua ibu dan ayah, akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah atas perbuatannya sebagai ibu dan ayah dalam keluarga.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, kita tidak bisa menutup mata peran para ibu yang walau mungkin banyak yang berada dibelakang layar. Mengapa? Sebab, dibalik kesuksesan para bapak diberbagai bidang kehidupan, tentunya ada sosok seorang wanita ataupun ibu. Para ibulah yang telah melahirkan para putra terbaik bangsa ini, sejak berdirinya sampai saat ini. Namun, pelan tetapi pasti peran para ibu atau wanita saat ini, tidak bisa dipandang sebelah mata, karena telah sejajar perannya dengan kaum adam di negeri ini. Para ibu dengan kelembutan dan kesabarannya telah menjadi penyeimbang bagi para lelaki yang kebayakan keras dan kurang sabar. Karena itulah, peran ibu sangat vital dalam menjaga ibu pertiwi, agar tetap tersenyum manis.

Akhirnya, SELAMAT HARI IBU BAGI SEMUA IBU, jadilah ibu dan istri yang terbaik bagi anak dan suami, dalam sikap, perilaku, tutur kata serta tindakan yang menyenangkan hati Tuhan dan sesama, yang dimulai dari dalam keluarga. I LOVE YOU, MOM. YOU ARE THE BEST. Mungkin ucapan di atas, atau mungkin sekuntum bunga mawar, tidaklah cukup untuk membalas kasih sayang seorang ibu, yang diharapkan seorang ibu tentunya setiap anak, harus menjadi anak yang “berbakti”, patuh dan taat serta berbakti kepada orang tua, sesama dan Tuhan.atau menjadi anak yang BERIMAN, BERADAB dan BERBUDAYA. Inilah hadiah yang terindah yang diharapkan seorang ibu. Semoga!!!

 

(Penulis adalah Kepala SMPK Frateran Ndao Ende)

Komentar