oleh

Model Sistem Bisnis Untuk Penciptaan Nilai Produktif

Oleh: Vincent Gaspersz

Model Sistem Bisnis Untuk Penciptaan 8Nilai (Usaha) Produktif: Kasus Pada Organisasi Bisnis Maupun Pemerintah

Banyak orang yang tidak memiliki Mindset Kewirausahaan dan masih berada dalam Kuadran E (Employee) atau S (Self Employee) berpikir bahwa menjalankan usaha-usaha produktif hanya membutuhkan uang atau modal finansial semata. Jika pola berpikir konsumptif yang biasa dianut oleh mereka yang berada dalam Kuadran E dan S ini apabila diberikan uang sejumlah tertentu, maka hanya dalam waktu tertentu uang itu akan dikonsumsi habis. Hal ini ibarat membuang garam ke laut atau menggarami laut, sehingga akan GAGAL total.

Pengusaha atau Pebisnis dalam Kuadran B (Business Systems Owner) adalah Pemilik Sistem Bisnis, bukan sekedar penjual produk (barang dan/atau jasa).

Uang atau Dana dalam Sistem Bisnis hanya merupakan Input, yang masih harus diproses lagi dalam sistem bisnis itu dan hal ini memerlukan manajemen sistem bisnis, karena ada serangkaian elemen yang harus dikelola secara profesional seperti ditunjukan dalam Bagan Penciptaan Nilai (Value Creation).

Proses utama dalam Sistem Bisnis adalah:

  1. Identifikasi Risiko dan Kesempatan. Semakin besar kesempatan akan diikuti dengan semakin besar risiko, sehingga memahami dan mengelola risiko harus dilakukan secara efektif dan efisien.
  2. Strategi dan Alokasi Sumber-sumber Daya, di mana hal ini membutuhkan manajemen strategik untuk mengelola sistem bisnis itu.
  3. Sudut Pandang (Outlook), hal ini yang terpenting, karena tanpa GROWTH Mindset (Mental Kaya), maka usaha membangun Sistem Bisnis akan GAGAL.
  4. Kinerja, harus dikelola secara terus-menerus menggunakan manajemen pengetahuan (knowledge management) dan harus ada perubahan perilaku melalui Key Behavioral Indicators yang semakin membaik atau meningkat.
  5. Point 1-4 di atas harus dikelola dalam Model Sistem Bisnis yang tepat efektif dan efisien.

Saya diberikan oleh teman di NTT berupa empat lembar Kesepakatan Komodo, tanggal 10 Juni 2019, yang berisi kesepakatan dari Pemda Provinsi NTT (Gubernur & Wakil Gubernur NTT), beserta semua bupati/walikota di Provinsi NTT, untuk membangun Masyarakat Ekonomi Nusa Tenggara Timur (ME NTT) Menuju Sejahtera.

Hal-hal yang diidentifikasi dalam kesepakatan tersebut masih bersifat normatif yang harus diperjelas dengan analisis terhadap potensi sumber daya yang ingin dikembangkan beserta Apa Model Sistem Bisnis yang akan membawa Kesejahteraan Ekonomi bagi Masyarakat NTT?

Berdasarkan studi empirik saya sejak 1999 tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT yang selalu berada pada posisi ranking nomor 3 dari bawah, maka saya mengajukan Model Sistem Bisnis Koperasi Terintegrasi.

Sayangnya berdasarkan informasi yang diberikan oleh Anggota DPRD Kodya Kupang Pak Ir. Rikardus Outniel Yunatan (ROY), jenis koperasi yang berkembang di NTT, khususnya di Kota Kupang, adalah koperasi-koperasi simpan pinjam atau koperasi konsumsi. Hal ini merupakan tantangan berat untuk merealisasikan Kesepakatan Komodo 10 Juni 2019 itu, jika tidak mampu mengembangkan Koperasi Produsen Terintegrasi dengan pendidikan dan pelatihan Lean Six Sigma Management.

Mengapa Membutuhkan Pusdiklat Lean Six Sigma?

Pendidikan dan pelatihan Lean Six Sigma merupakan Improvement Project-Based Learning menggunakan pendekatan Transdisiplin (Transdisciplinary) selama waktu 16 minggu (80 hari), di mana 20 hari berbentuk Workshop dan 60 hari berbentuk implementasi proyek perbaikan kinerja menggunakan pendekatan point 1-5 di atas.

Transdisiplin dimulai dari pemilihan proyek perbaikan kinerja (masalah dalam dunia nyata), kemudian partisipan (peserta) menerapkan pengetahuan dan keterampilan dari dua atau lebih disiplin ilmu yang saling berkaitan sangat erat agar membantu membentuk atau mencapai secara intensif pengalaman pembelajaran (learning experience). Model ini disebut juga sebagai Experential Learning. Model pembelajaran ini hanya ditemukan dalam pendidikan kedokteran ketika calon dokter berpraktek sebagai asisten dokter di rumah-rumah sakit.

Model pembelajaran Lean Six Sigma selama 80 hari intensif (20 hari di kelas dan 60 hari di dalam industri nyata) akan mampu menghasilkan Improvement Project Team Leader yang memiliki kompetensi sebagai Lean Six Sigma Green Belt dan dapat langsung diterima sebagai Improvement Project Team Leader dalam industri barang maupun jasa di pasar global. Pendidikan dan Pelatihan Intensif Lean Six Sigma menggunakan Improvement Project-Based Learning (Transdisiplin) akan mampu menciptakan Innovation Workers, bukan sekedar menciptakan Factory Workers.

Kesimpulan:

Memiliki uang (dana) saja TIDAK CUKUP untuk membuat atau menciptakan Sistem Bisnis yang produktif atau dalam istilah keren adalah Penciptaan Nilai Tambah (Value Creation). Itulah tantangan utama dalam Society 5.0 (Masyarakat 5.0), yaitu: SUCCESS = Problem Solving x Value Creation.

Kita bisa melihat dalam banyak kasus di Indonesia bahwa banyak uang yang dimiliki oleh berbagai pihak (Pemilik Dana) yang hanya disimpan di Bank saja, karena pemilik dana itu tidak memiliki keterampilan manajemen dari point 1-5 dalam Penciptaan Nilai Tambah.

Pemerintah Daerah yang tertarik dan setuju dengan konsep Koperasi Terintegrasi boleh kontak saya atau Dr. Krisdarjadi yang saat ini sedang mendesain lembaga dan sistem pelatihan Lean Six Sigma itu melalui bekerjasama dengan beberapa industri nyata sebagai tempat implementasi Improvement Project-Based Learning.

 

Penulis: Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management Systems Lead Specialist

Komentar