oleh

Natal, Aku, Kamu dan Kita

-Opini-617 views

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd.

“Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang (Yohanes, 15:14-15)”

Demikianlah tema NATAL Nasional tahun ini, yang menurut hemat saya sangat pas dengan situasi bangsa kita saat ini, yang mana tensi dan suhu politik sedikit sempat memanas. Dan walaupun pilpres dan pileg sudah selesai, namun riak-riaknya masih ada. Akibatnya terjadi ketegangan dan kerenggangan hati diantara kita umat beragama yang mendiami dibumi nusantara, NKRI yang satu dan sama ,lantaran beda pilihan. Maka, NATAL adalah momen penting untuk mendinginkan dan mendekatkan serta mendamaikan hati yang panas dan menjauh. Hal ini, bisa terjadi hanya kalau setiap kita membuka hati untuk jadikan palungan bagi kelahiran Isa Almasih, Sang raja damai. Sebab, jika kita membuka hati untuk membiarkan Isa Almasih merajais dan memerintah di hati kita, maka seluruh hidup kita akan menjadi damai, sejuk jauh dari permusuhan, pertikaian, fitnah, dendam, dengki, satu dengan yang lain. Itulah makna NATAL bagi kita umat kristiani khususnya dan umat manusia umumnya, yakni menjadi NATAL AKU, KAMU dan KITA. Sebagaimana tema NATAL Nasional tahun ini, yaitu HIDUPLAH SEBAGAI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG (Yohanes 15:14-15). Mengingat, perayaan natal di zaman modern ini, sepertinya sudah bergeser menjadi perayaan “hura-hura”, yang lebih menampilkan ritus kemeriahan dan kemewahan tanpa makna.

Namun, jika kita sungguh-sungguh memaknai peristiwa NATAL, maka,Tuhan lahir dan hadir dalam kesederhanaan sebagai manusia yang paling hina dan sangat memprihatinkan. Inilah bentuk solidaritas Allah terhadap situasi hidup manusia. Allah ingin selalu berbelas kasih kepada manusia, dengan mengambil bagian dalam keadaan sebagai manusia lemah. Karena itu, hendaknya kita juga memiliki hati yang berbelas kasih kepada sesama, melalui sikap saling mengasihi, saling mengampuni atau memaafkan. So, hanya dengan hati yang demikianlah, Sang raja damai sejahtera Isa Almasih mau merajai dan memerintah dalam hati kita.

Renungkanlah ini, bahwa Allah dengan merendahkan diri-Nya, sesungguhnya Dia ingin meninggikan kemanusiaan kita dari “kelemahan” manusiawi kita. Namun, kita manusia selalu lupa diri, akibatnya kita hidup dalam kesombongan. Tetapi, Allah tak henti-hentinya memberikan sinyal atau tanda kepada kita, yang diberikan melalui peristiwa NATAL, yakni “….seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”. Palungan itu adalah bekas tempat makanan para domba yang ada di kandang. Cerita kelahiran tersebut selalu digambarkan bagaimana Maria yang masih mengandung bayi Yesus berjalan bersama suaminya Yusuf, sedang mencari penginapan, tetapi setiap kali meminta untuk menginap ditolak oleh pemilik penginapan.

Akhirnya mereka bisa menginap, tetapi di sebuah kandang domba disitulah pada akhirnya bayi Yesus, Isa Almasih dilahirkan. Begitu sederhana, jauh dari kesan kemewahan, tidak ada hura-hura, karena yang datang juga adalah para gembala domba yang diberitahu oleh Malaikat Tuhan. Memang pada akhirnya ada persembahan yang diberikan oleh orang-orang Majus yang membawa emas, kemenyan dan mur; Suatu persembahan yang sangat mahal di kala itu dan memang persembahan tersebut hanya diberikan khusus untuk “Raja” yang sudah diramalkan oleh para Nabi pendahulu.

Makna Natal Aku, Kamu dan Kita

Etimologi

Kata “NATAL” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir). Dalam bahasa Inggris perayaan NATAL disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Christmas biasa pula ditulis Χ’mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho. Sedangkan NATAL dalam bahasa Portugis yang berarti “kelahiran” adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. NATAL dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember.

Natal Aku, Kamu dan Kita

Hidup kita manusia dimulai dengan huruf B (Birth=kelahiran) dan diakhiri dengan D (Dead=kematian). Di antara B dan D ada huruf C (Chance=kesempatan). Kesempatan, dalam arti Tuhan masih memberikan kepada kita waktu untuk dapat memperbaiki atau berbenah diri dari segala dosa dan kesalahan. Karena itu, Kesempatan yang dimaksudkan disini adalah kesempatan untuk BERTOBAT, sebelum hari Tuhan datang, saat NATAL dan kedatangan Tuhan untuk kedua kali-Nya, yang tidak kita tahu kapan dan bilamana. Dengan demikian, kita layak dan pantas untuk merayakan NATAL (kelahiran Yesus), yang berarti NATAL, AKU, KAMU dan KITA juga. Hal ini bisa terjadi, jika kita sungguh BERTOBAT, sebab dengan aku, kamu dan kita BERTOBAT, yang berarti kita lahir secara baru, yang diwujudkan dengan hidup sebagai sahabat bagi semua orang (Yohanes, 15:14-15)”. Inilah makna NATAL yang terdalam. Jika demikian yang terjadi, maka Allah akan menyambut kita dengan sukacita dan Allah takkan pernah meninggalkan bahkan takkan melupakan kita. Itulah sebutan NATAL (Nama Anda Takkan Allah Lupa). Lebih jauh, kalau direnungkan secara mendalam, bahwa kelahiran Yesus di kandang hewan, mau menunjukan kepada kita akan kesahajaan dan pengorbanan cinta Tuhan kepada kita manusia. Jika, Allah saja mau berkorban demi keselamatan kita, maka kitapun harus bisa berkorban demi sesama. “Berkorban” bisa dalam arti kerelaan dan kerendahan hati kita, untuk mau mengakui bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna, yang terkadang membuat kesalahan serta bersedia mengakui dan mau memaafkan kesalahan sesama. Saat NATAL adalah saat reformasi dan rekonsiliasi diri, saat beralih, saat berubah dan berbuah, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama. Selain itu, saat NATAL, adalah saat kita untuk berkomitmen dan membuat target baru di tahun yang baru. Komitmen dan target baru, harus merupakan buah dari perayaan NATAL, sehingga sekali lagi perayaan NATAL, merupakan perayaan kelahiran baru aku, kamu dan kita, sebagai manusia baru. Demikianlah benang merah perayaan NATAL dan TAHUN BARU. Tahun baru hanya akan bermakna, bila hidup kita telah di perbaharui dalam perayaan NATAL. Dengan demikian, berkat kelahiran baru, melalui komitmen dan target yang baru, yang positif dan produktif di tahun yang baru dengan asa yang baru. Jadi, setiap pribadi yang dilahirkan secara baru, selalu mendapatkan rahmat yang baru, yakni rahmat keselamatan. Maka, konsekuensinya adalah bahwa rahmat keselamatan yang kita terima dari Allah itu, harus menjadikan kita sebagai sarana dan saluran keselamatan bagi sesama. Untuk itu, kita harus benar-benar menjadi tanda kehadiran Allah di dunia ini, yang ditampakan lewat sikap, perilaku, tutur kata yang sopan dan perbuatan yang santun, yang menyenangkan hati Tuhan dan sesama.

Kalau demikian adanya, maka sekali lagi, NATAL, AKU, KAMU dan KITA dimaknai tidak hanya sebagai moment peringatan hari kelahiran Yesus, tetapi juga moment kelahiran AKU, KAMU dan KITA dari manusia lama menjadi manusia baru, dengan cara hidup yang baru. Ini hanya akan terwujud, jika kita memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi manusia yang baru, yang berarti kita harus sungguh-sungguh BERTOBAT, BERALIH, dan BERUBAH. BERTOBAT, BERALIH dan BERUBAH, tidak cukup hanya dengan niat saja, tetapi harus BERBUAH dalam cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata dan cara bertindak yang nyata. Ini mengandaikan bahwa aku, kamu dan kita harus bisa BERKOMITMEN dengan diri sendiri. Jika kita tidak bisa berkomitmen untuk bertobat, beralih dan berubah (transfigurasi) cara hidup kita, atau kita tetap hidup dalam manusia lama alias tidak ber-BERTOBAT, ber-ALIH dan ber-UBAH, berarti NATAL, tidak lebih dari acara ritus keagamaan yang rutin tiap tahun, yang kita rayakan tanpa makna.

Akhirnya, perayaan NATAL, harus merupakan revolusi dan reformasi mental kehidupan manusia. Revolusi mental dalam arti harus bisa melahirkan manusia secara baru dalam segala aspek kehidupan. NATAL, AKU, KAMU dan KITA, harus merupakan proses metamorfosis kehidupan, baik mental maupun spiritual. Perayaan NATAL, menyadarkan kita manusia, akan makna atau arti dari nilai kehidupan seorang manusia. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk “menghilangkan atau membunuh” manusia lain dalam kata dan perbuatan, hanya karena tersinggung, atau hal-hal sepele, beda pilihan politik. Allah yang turun ke dunia, adalah Allah yang berbelas kasih untuk semua manusia. Dia rela lahir di kandang hewan, hanya karena berbelas kasih kepada kita manusia. Allah ingin mengembalikan kodrat manusia yang sejak awal mula diciptakan secitra dengan-Nya. Apapun adanya kita, bagi Allah kita tetaplah berharga dan bernilai bagi-Nya, maka Allah rela turun ke dunia, merendahkan diri-Nya, lahir sebagai manusia lemah. Dia ingin merasakan dan mengalami hidup sebagai manusia dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Kelahiran Yesus di kandang hewan, memberi makna kehidupan, bahwa penderitaan akan mendatangkan kemuliaan. Atau dengan kata lain, bahwa tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Yesus mengalami penderitaan hidup sebagai manusia, namun Dia dimuliakan oleh Allah berkat ketaatan-Nya pada rencana dan kehendak Bapa-Nya. VITA EST MILITIA.

 

(Penulis adalah Kepala SMPK Frateran Ndao Ende)

Komentar