oleh

Pariwisata: Potensi Pendongkrak Perekonomian NTT

Oleh: Minanur Rohman, SST

Sektor pariwisata, kini tidak dapat dipandang sebelah mata. Masyarakat zaman now semakin merasa perlu untuk berwisata, mengingat dampaknya kini tidak hanya pada kepuasan batin namun juga sebagai ajang untuk meningkatkan eksistensi diri melalui media sosial. Terbukti dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan konsumsi pengeluaran masyarakat terhadap kebutuhan leisure tahun 2018 mengalami peningkatan 25,3% dibanding tahun 2013. Fakta tersebut mengarahkan pada potensi peningkatan eksistensi sektor pariwisata dalam beberapa tahun kedepan. Hal ini tentu sayang untuk dilewatkan begitu saja terutama oleh wilayah yang mempunyai potensi tinggi pada sektor pariwisata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) salah satunya. Dengan berbagai potensi wisata yang tersimpan di dalamnya, sangat mungkin menjadikan sektor pariwisata sebagai leading sector perekonomian di NTT.

Bukti besarnya potensi sektor pariwisata di NTT telah tergambar jelas pada data yang ada. Lebih dari 400 objek daya tarik wisata tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan beberapa objek wisata tersebut cukup viral dan menjadi trending topic akhir-akhir ini, sebut saja Pulau Komodo dan Pulau Padar di Kabupaten Manggarai Barat, Air Terjun Tanggedu dan Bukit Wairinding di Kabupaten Sumba Timur, serta Danau Weekuri dan Pantai Bawana di Kabupaten Sumba Barat Daya. Masing-masing tempat wisata tersebut mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dapat ditemui di objek wisata serupa di tempat lain.

Selaras dengan banyaknya objek wisata yang terdapat di NTT, kunjungan wisatawan ke NTT selama beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tren positif. Selama tahun 2013-2017 jumlah wisatawan terus meningkat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada tahun 2013, terdapat 397.543 wisatawan yang berkunjung ke NTT. Jumlah tersebut konstan mengalami kenaikan tiap tahun hingga mencapai 616.538 wisatawan pada 2017. Dengan kata lain jumlah wisatawan tahun 2017 naik 55% dibanding tahun 2013. Jika dilihat dari komposisinya, sebanyak 93.455 wisatawan atau 15,2% dari total wisatawan tahun 2017 merupakan wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 42,7% dibanding tahun 2016.

Tren serupa juga terjadi pada sektor akomodasi (perhotelan dan penginapan). Jumlah fasilitas akomodasi berupa hotel dan penginapan meningkat cukup signifikan selama 2013-2017. Tahun 2017, terdapat 423 fasilitas akomodasi yang tersebar di berbagai wilayah di NTT, 27 diantaranya berupa hotel berbintang. Jumlah tersebut meningkat 33% dibanding keadaan tahun 2013. Fakta menarik terdapat pada akomodasi jenis hotel berbintang. Selama tahun 2017 terdapat penambahan 8 hotel berbintang di NTT, atau bertambah 42,1% hanya dalam kurun waktu satu tahun. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi selama 5 tahun terakhir, dimana sebelumnya jumlah hotel berbintang selalu konstan sebanyak 17 Hotel selama 2013-2016. Hal ini menunjukkan daya tarik investor terhadap sektor pariwisata di NTT tidak dapat diremehkan. Tentu investor bertindak demikian bukan tanpa alasan, potensi pariwisata di NTT yang semakin kentara menjadi penyebabnya.

Besarnya potensi pariwisata di NTT perlu dikelola dengan baik dan benar, sehingga berdampak positif terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Idealnya, besarnya potensi pariwisata di suatu wilayah, berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat sekitar. Provinsi Bali contohnya, salah satu provinsi dengan potensi pariwisata terbesar di Indonesia. Melalui pengelolaan wisata yang baik, Provinsi Bali telah berhasil menghantarkan masyarakatnya merasakan dampak positif berupa kesejahteraan dan perkonomian yang baik. Terlihat dari persentase penduduk miskinnya yang hanya 3.91% menempati urutan kedua sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah di Indonesia, setelah DKI Jakarta. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Bali juga cukup tinggi, yaitu 74,3 (dari skala 1-100) menempati posisi tertinggi ke lima di Indonesia. Hal serupa bukan tidak mungkin terjadi di NTT. Dengan pengelolaan yang baik, niscaya dampak positif akan dirasakan oleh masyarakat NTT. Namun diperlukan berbagai optimalisasi pada beberapa sektor penunjang pariwisata serta kontribusi berbagai pihak untuk mencapai keadaan tersebut.

Beberapa sektor penunjang pariwisata yang perlu mendapat perhatian khusus adalah sektor akomodasi (hotel dan penginapan), sektor penyediaan makanan dan minuman (restoran dan rumah makan), penyediaan souvenir dan belanja, sektor transportasi dan sektor hiburan. Lima sektor tersebut merupakan sektor yang paling dibutuhkan oleh wisatawan dan paling besar persentasenya terhadap pengeluaran wisatawan selama berwisata. Dari sisi sektor Akomodasi, besaran Tingkat Penghunian Kamar (TPK) yang masih kurang dari 55% mengindikasikan kebutuhan akan kamar dan hotel sudah cukup terpenuhi. Namun peningkatan kualitas dan pelayanan perlu terus dilakukan agar wisatawan mencapai kepuasan maksimal, sehingga dapat memberi kesan positif terhadap calon wisatawan yang akan berkunjung.

Dari sisi sektor penyediaan makanan dan minuman diperlukan peningkatan dalam hal variasi dan kreatifitas masyarakat lokal dalam mengolah sumber daya yang ada menjadi makanan khas dengan cita rasa yang tinggi. Saat ini makanan khas di NTT masih cenderung minim dan kurang populer di kalangan wisatawan, tak jarang mereka bingung apa makanan khas yang wajib dicoba ketika berkunjung ke NTT. Peningkatan serupa juga diperlukan pada  sektor penyediaan souvenir dan belanja. Selain itu, penyediaan fasilitas-fasilitas pembelian oleh-oleh khas yang lebih terpadu juga penting, mengingat wisatawan hampir pasti akan membeli cindera mata khas lokal untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Dari segi transportasi, aksesibilitas wisatawan terhadap tempat-tempat wisata perlu perhatian besar. Beberapa objek wisata masih dirasa sulit akses dan kurang perhatian serius. Air Terjun Tanggedu di Sumba Timur misalnya, perlu perjalanan kaki kurang lebih 1 jam dari tempat parkir melalui medan yang cukup berat dengan fasilitas seadanya agar dapat mencapai air terjun. Padahal tempat wisata tersebut sangat berpotensi untuk menjadi objek wisata andalan NTT. Selain itu, beberapa objek wisata masih minim fasilitas pendukung, seperti pedagang penyedia makan minum, tempat istirahat sementara, dan tempat ibadah.

Sektor hiburan juga perlu dilakukan optimalisasi lebih mengingat masih minimnya objek-objek wisata yang menyuguhkan atraksi kebudayaan. Kalaupun ada, tidak disediakan jadwal yang jelas dan rutin, sehingga wisatawan tidak dapat menikmatinya secara maksimal.

Optimalisasi terhadap sektor-sektor tersebut berpotensi untuk meningkatkan daya tarik pariwisata NTT sehingga berdampak positif terhadap kunjungan wisatawan. Dengan demikian, melalui pemanfaatan yang baik hal tersebut akan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Jika masyarakat mempunyai taraf ekonomi yang baik maka secara makro dapat meningkatkan perekonomian NTT secara keseluruhan.

 

(Penulis adalah Statistisi Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Komentar