oleh

Peran Guru Membentuk Manusia Unggul

Oleh : Yulius Mantaon

Menjelang hari guru nasional 25 November 2019 seolah negeri kita dikejutkan oleh pidato Menteri Pendidikan karena isinya yang seakan mengeritik kebijakan pengelolaan pendidikan nasional selama ini. Selain itu juga memberikan harapan-harapan baru yang realisasinya memerlukan keberanian dan kesiapan para guru pada setiap jenjang pendidikan.

Siapakah Guru iitu? Secara etimologis dalam bahasa Jawa yang terdiri dari 2 kata yaitu Gu artinya yang digugu (yang disegani, yang dihormati) dan ru yang artinya yang ditiru (dicontohi, diteladani). Selain itu ada pula pengertian Guru dalam bahasa Sansekerta yang artinya pembawa terang dalam kegelapan. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut jelas sekali kita dapat mengetahui arti dan makna Guru.

Dalam konteks pidato Menteri Pendidikan dalam rangka peringatan hari Guru Nasional adalah terutama untuk guru-guru pendidikan formal. Padahal menurut bentuknya ada 3 yaitu pendidikan informal, formal dan non formal.Oke lah Menteri Pendidikan menitikberatkan Guru pada pendidikan formal karena guru pada bentuk pendidikan ini sangat strategis karena diangkat dan diberhentikan oleh negara. Maaf, saya berbicara guru langsung meloncat ke pendidikan karena guru dan pendidikan itu laksana ikan dan air yang hanya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan.

Hampir sepanjang hidup saya selalu saja saya dengar, saya lihat dan saya rasakan keluhan bangsa ini soal mutu atau kualitas sumber daya manusia dalam bidang IPTEK , ekonomi dan olahraga. Seolah suatu lingkaran setan yang sulit kita dapatkan jalan keluarnya. Jalan keluarnya kadang kita mencari kambing-kambing hitam, antara lain waktu. Kemudian kita rubah-rubah awal tahun ajaran dari bulan Juli ke bulan Januari dan telah berulang beberapa kali yang saya merasakannya. Kemudian perubahan kurikulum. Ini suatu keniscayaan karena perkembangan.

Tetapi dalam perjalanannya juga sering terjadi perdebatan sebagaimana yang terjadi pada jam 8 tadi malam. Bahkan sering sekali terjadi perdebatan soal kurikulum seperti penyakit kronis pada setiap rapat kerja dan rembuk nasional para pemangku kepentingan pendidikan terutama menyangkut jumlah mata pelajaran/mata kuliah yang selalu juga direkomendasi untuk dikurangi tentu bukan dihilangkan agar anak-anak didik/ mahasiswa tidak dijejal dengan mata pelajaran/kuliah yang terlalu banyak sehingga memusingkan guru kelas dan terutama siswa/mahasiswa.

Saya pernah mengingatkan bidang perencaan Depdiknas dalam rapat kerja para Kadis Pendidikan di Daerah Perbatasan di Hotel Century Park tahun 2009 dalam kegiatan Raker bahwa jika tidak mengurangi mata pelajaran tetapi persyaratan administrasi terus ditambah-tambah bakalan banyak guru di daerah akan sakit bahkan sakit jiwa. Kemudian dalam event rembuk nasional tahun 2010 di mana dalam kelompok diskusi yang saya berada lebih banyak terdiri dari para rektor universitas negeri juga merekomendasikan antara lain pengurangan mata pelajaran, namun kalau sampai hari ini hal itu masih terus dipersoalkan, maka bisa disimpulkan sebagai belum adanya kemauan baik dari kementerian pendidikan.

Tetapi lama-lama kemudian saya menyadari bahwa tiap mata pelajaran mengandung rezeki orang. Berapa banyak dana yang diperlukan untuk penyusunan materi, penatar dan penyelenggaraan penataran-penataran? Hanya Tuhan yang tahu. Namun dari semua itu ada bentuk pendidikan utama yang nyaris terlupakan yaitu pendidikan informal. Peran orang tua dan keluarga dalam membuat cetak biru anak kurang mendapat perhatian pemerintah. Hal itu dibiarkan berjalan secara alamiah tanpa sentuhan-sentuhan berupa sosialisasi melalui media-media atau tatap muka dan lain-lain.

Kalau mau serius berbicara soal SDM unggul seharusnya dari sumber yaitu dari orang tua terutama ayah dan ibunya. Mungkin masih relevan kita percakapkan pandangan Prof. Notonagoro soal konsep pendidikan. Kurang lebih : ” Pendidikan berlangsung sejak seseorang belum dibayangkan terjadi,” Jika kita bisa menerima pandangan tersebut maka masih sangat relevan pula falsafah Jawa : “Bibit, Bebet dan Bobot”. Salah satu contoh nyata yang mudah dilihat di berbagai media yaitu ibu  DR. Sri Mulyani, Mentri Keuangan RI sekarang yang kedua orang tuanya adalah Guru  Besar dan masih banyak contoh lagi.

Jadi menurut saya kita perlu mempersiapkan calon ayah dan ibu yang berkualitas mulai dari bangku SMP karena banyak anak SMP yang dropout karena kecelakaan atau kehendak orang tua karena berbagai alasan apalagi di SMA.

Sedangkan kita berbicara SDM Unggul pada usia SMA dan Perguruan Tinggi mungkin kita sudah terlambat 60 %. Kalau mau memacu SDM unggul di tingkat SMA dan Perguruan Tinggi terutama untuk mengejar ketertinggalan dengan Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi di negara lain, saya punya saran yang saya tidak pernah dengar dalam berbagai perbincangan yaitu: one school one product, one university  one product. Harus tiap sekolah ditargetkan keunggulannya. Oleh karena itu, harus ada parameternya yang jelas tidak saja pada outputnya tapi juga bisa terlihat pada proses yang sedang berlangsung.

Soal ujian nasional. Pro dan kontra soal ujian Nasional juga sudah lama berlangsung sejak tahun 1972 sampai sekarang dan pernah ditiadakan kemudian muncul lagi apalagi yang lebih keras lagi pada tahun 1984 ketika Prof. Nugroho Noto Susanto menjabat Menteri. Nama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah lama disingkatkan P K dibuat menjadi sebuah akronim menjadi DIKBUD dan ujian nasional menjadi EBTANAS dengan NEM (Nilai Evaluasi Murni) yang laksana momok besar yang menakutkan dunia pendidikan nasional sehingga setelah beliau meninggal dunia kemudian orang plesetkan NEM (Nugroho Engkau Mati), atau dalam dialeg Kupang Nugroho Mati Lu.

Kemudian itu, ujian nasional tetap dipertahankan sebagai indikator standar mutu pendidikan nasional. Oleh karena itu, saya sarankan : ujian nasional tetap berlaku untuk SMP dan SMA sedangkan SD Standar Regional dengan catatan jumlah mata pelajaran dikurangi yaitu hanya MIPA dan ITE. Kalau tanpa itu darimana kita tahu mutu pendidikan nasional?

Akhirnya anak unggul harus dipersiapkan dari hulunya yaitu calon ayah dan ibunya dan oleh kemauan baik pemerintah. Semoga!

 

(Penulis adalah Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Alor – NTT)

Komentar