oleh

Sastra Indonesia, Budaya Lokal, Dalam Arus Globalisasi

-Opini-172 views

Sastra Indonesia , Budaya, Dalam Arus Globalisasi. Bahasa tanpa sastra bagaikan burung tanpa sayap . Bahasa tidak mempunya gairah jika tidak mengandung sastra. Sastralah yang mencetuskan bahasa menjadi bernyawa. Dalam Sastralah terlukis agan-agan dan cita-cita masyarakat. Dalam hal ini memberikan pengertian bahwa produktivitas sastra dalam bahasa dan masyrakat. Ia ingin memberikan keberadaan dan peranan sastrawan serta karyanya yang diperhitungkan dalam perkembangan jaman.

Maka sastra terbentuk dari proses kekhawatiran sastrawan terhadap keadaan masyarakat. Sastra pun sering ditempatkan sebagia lukisan sosial, sebab sastra mengatakan kondisi masyarakat pada masa tertentu, yang selalu menyinarkan semangat zamannya. Sastra tidak hanya menyampaikan keadaan sosial yang terjadi pada zaman tertentu, akan tetapi menyerupai pantulan perkembangan pemikiran dan kebudayaan masyarakatnya. Dengan demikian, sastra merupakan refleksi kecemasan kultur dan sekaligus juga merupakan bentuk pemikiran bangsa. Kita dapat menemukan gamabaran dan pengakuan tersebut dalam banyak karya sastra, salah satunya dalam roman Siti Nurbaya.
Dalam perkemabangan saat ini, para sastrawan tidak hanya berhadapan dengan situasi sosial dan politik lokal. Mereka juga menghadapi globalisasi dan modernisasi mitos yang muncul selama ini, tentang globalisasi adalah bahwa proses globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas jati diri bangsa. Kebudayaan lokal akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global. Haruskah mitos ini dilestarikan? Tentu saja tidak. Sastrawan melalui karyanya dapat berperan dalam menerobosi mitos tersebut.

Bagaimanapun sastra kuat mempertontonkan banyak fungsi. Sastra dapat mewujudkan nama baik Indonesia di mata kanca dunia. Jika beragam praktik politik mencemari Indonesia di mata dunia misalnya, tugas sastrawanlah salah satunya, menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai kekayaan kultural yang patut diperhitungkan dikancah internasional. Seperti yang kita pahami “jika politik itu kotor puisi akan membersikannya. Jika politik bengkok sastra akan meluruskannya.” Sastra memiliki peran yang sangat besar memengaruhi kehidupan manusia begitu pula kebudayaan.

Kebudayaan membuat manusia memiliki batas nilai dalam berfikir berperilaku dan bertindak. Kebudayaan selalu berada dalam wilayah akal budi dan hati nurani, memberikan kekuatan bagi setiap manusia untuk menapis hal-hal yang buruk dari kehidupan. Kebudayaan itu bua budi manusia dalam hidup masyarakat. Kebudayan itu hanya dimiliki oleh masyarakat manusia; kebudayaan itu tidak diturunkan secara biologis melainkan diperoleh melalui proses belajar; dan kebudayaan itu didapat , didukung, dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Sastra dan budaya memiliki ketergantungan satu sama lain. Sastra dapat dipengaruhi ole budaya sehingga berbagai hal yang terdapat dalam kebudayaan dapat tercermin dalam sastra. Sastra dan kebudayaan adalah dua sistem yang melekat pada manusia. Jika kebudayan merupakan sistem mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, sastra adala sebuah sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya suatu interaksi.

Sebagai media yang dapat menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kebudayaan yang patut diperhitungkan, sastra seharusnya bisa menjadi alat kontrol untuk meminimalisasi dampak negatif yang muncul dari sebuah arus globalisasi. Hal ini bisa dilakukan dengan membaca karya sastra. Membaca sastra dapat membuat bahasa sesorang menjadi indah. Di samping itu, membaca sastra dapat pula memberikan pengetahuan sosial budaya , yang tentu saja sangat diperlakukan bila terjun masyarakat. Dengan mengetahui sistem sosial budaya masyarakat, dapat dipelihara pergaulan sosial yang baik dengan masyarakat tersebut. Selain itu, membaca sastra juga memperkenalkan seseorang pada pemikiran-pemikiran pengarang. Tentu saja hal ini bisa membuka wawasan sesorang.
Sastra dapat memelihara kelembutan hati , kepekaan perasaan, ketajaman intuisi, kedalaman jiwa, kearifan sifat sosial, dan keluasan pandangan hidup. Jika mengacu pada pembahasan ini maka segala dampak negatif, tersebut akan terkikis . misalnya membaca gurindam dua belas yang ditulis oleh Raja Aji Haji, sastrawan dari pula penyengat kepulauan Riau. Selain dapat menikmati keindahan kata-katanya (gurindam merupakan puisi melayu lama yang terdiri atas dua bait, tiap bait terdiri atas dua baris kalimat dengan irama yang sama dan merupaka kesatuan yang utuh), pembaca juag dapat menyelami maknanya. Kedua belas pasal gurindam dua belas berisi tentan nasihat agama, budipekeri, pendidikan moral, dan tingkah laku. Karya- karya sastra tersebut sering mencantumkan unsur pengajaran di dalamnya.
Maka dari itu, dalam proses globalisasi, janganlah sastra menjadi objek, tetapi sastra harus mengambil posisi sebagai subjek dalam perubahan itu. Sastra Indonesia harus sanggup menjadi satu ketahanan budaya. Maka, tugas sastrawanlah harus terus menghasilkan karya-karya yang bermakna dengan penuh kejelian mengangkat tema dan isu lokalitas dalam imajinasinya. Dengan demikian sastra dijadikan tempat melakukan pengembaraan intelektual dan spiritual bagi nilai-nilai kebenaran.

Baltasar Koi

Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia , Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang 2019
Palboi28081991@gmail.com

Komentar