oleh

Sejak Kapan Proses Pendidikan Berlangsung?

Oleh : Yulius Mantaon

Dalam sehari saya membuat dua tulisan terkait pendidikan karena sangat termotivasi oleh Acara Diskusi yang berjudul Liku-Liku Manusia Unggul di Metro TV pada Senin (2/12/2019) jam 8 malam. Saya juga teringat suatu ungkapan bapak Jend.Purn. Try Sutrisno (mantan Wakil Presiden RI) ketika beliau menjabat Ketua Persatuan Bulutangkis (PBSI) soal keluhan atlet tentang kualitas SDM, beliau bilang, : “Memangnya bangsa lain makan linggis?”.

Saya kawatir keluhan tentang rendahnya kualitas SDM bangsa kita menjadi keluhan abadi yang akan mempengaruhi rasa kurang percaya diri generasi bangsa kita di berbagai bidang kompetisi di kanca dunia. Oleh karena itu, perlu ada pemerhati pendidikan untuk urung rembug guna menyadarkan para pemangku kepentingan pendidikan agar memikirkan penangan pendidikan dari hulunya. Siapa tahu bisa membawa kebaikan bagi perbaikan kualitas SDM menuju SDM unggul.

Untuk menyadari hulu sebagai titik tolak pendidikan dimulai, saya mendasarinya dengan pandangan Prof. Notonagoro, “Pendidikan dimulai sejak seseorang belum dibayangkan terjadi sampai akhir hayat” (lifelong education) bukan long life education. Jelasnya proses pendidikan termasuk pembentukan kepribadian dan watak (karakternya) dimulai sejak kanak-kanak dan seterusnya dalam tiap fase perkembangan seseorang sampai dia memperoleh anak.

Kadang saya mengamati perilaku seorang anak hampir sama dengan ayah atau ibunya sewaktu kecil seperti itu, atau pernah saya ditegur oleh saudara tertua saya ketika saya memarahi anak saya yang sukanya membongkar balik buku-buku yang sudah saya susun rapih-rapih. Apa katanya? Anak itu berlaku persis kamu sewaktu kecil seperti dia. Kemudian saya teringat pandangan Prof. Notonagoro (mantan rektor UGM) dan juga para ahli pendidikan penganut pandangan nativisme.Memang dengan adanya perkembangan iptek maka peranan empirisme bisa merubah nativisme atau melalui proses convergensi yang baik akan menjadikan seseorang menjadi manusia yang diharapkan.

Oleh karena itu, saya agak konservatif dengan pandangan nativisme,sehingga dalam beberapa kesempatan saya menekakan perlunya faktor bibit, bebet dan bobot. Melalui media ini saya himbau kepada para muda mudi calon orang tua generasi unggul masa depan bangsa untuk menjatuhkan pilihan jodoh tolong juga mempertimbangkan faktor bibit, bebet dan bobot. Demikian pula para orang tua kiranya turut mempertimbangkan calon menantu walaupun zaman sekarang hak menentukan jodoh sudah merupakan hak prerogatif anak kita yang mau kawin.

Demikian pula soal nutrisi anak bahkan terutama pada masa seribu hari sejak dalam kandungan ibu, serta pertumbuhan minat dan bakatnya perlu sekali mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari orang tua dan keluarga. Sehingga terhindar dari stunting juga untuk pertumbuhan kecerdasan.

Peranan Guru

Peranan guru terhadap anak usia dini (PAUD & TK) sangat penting. Biasanya lebih akrab disebut pembimbing karena pendekatannya extra paedagogik (paes dan agogo) yang pengertian umumnya ialah menuntun atau membimbing. Anak-anak seperti itu ada yang berpendapat mereka seperti tabularasa (meja lilin) atau seperti kertas putih. Kebalikan dari nativisme. Menurut teori ini (tabularasa = pandangan empirisme) anak-anak itu seperti kertas putih dan lingkunganlah yang menulis pengalam-pengalaman baru di dalam memory kanak-kanak itu.

Yang jelas ada teori convergensi yang memadukan nativisme dan empirisme sehingga guru atau sebutan lainnya perlu yang memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang PAUD. Demikian pula pendidikan dasar (SD dan SMP). Jauhkan sikap guru yang disegani yang berlebihan bahkan guru yang ditakuti, melainkan jadilah guru yang disenangi.

Banyak mata pelajaran yang nilai anak-anak rendah karena faktor anak takut atau tidak suka dengan gurunya. Semasa saya di bangku SMP pada jam pelajaran menggambar saya selalu doa-doa semoga gurunya berhalangan hadir. Akhirnya bakat menggambarku dari sejak kecil sampai SD hilang/tenggelam karena tidak suka gurunya. Soal guru mata pelajaran menggambar suka pakai mistar panjang sebagai pemukul siswa yang menggambar sesuai maunya. Puji Tuhan, kemudian dua dari 4 anak saya pintar menggambar sehingga bakatku tidak hilang dengan sia-sia.

Memang dahulu sebelum tahun 1978 guru-guru sering menggunakan cara kekerasan dalam proses belajar dan mengajar. Bahkan dia merasa bangga kalau dia memukul siswa. Kalau kita melaporkan tindakan kekerasan guru kepada orang tua malah dinasihati untuk menerima tindakan guru itu, katanya ada nats Alkitab : “Di ujung rotan ada emas”. Kalau sekarang di ujung rotan menanti Rutan.

Setelah Prof. Dardji Darmodihardjo menjabat Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah baru keluarlah surat larangan pendekatan kekerasan dalam proses belajar mengajar. Menurut pengamatan saya, guru-guru yang suka main gebuk siswa adalah guru-guru berakal pendek yang kurang menguasai teori didaktik paedagogik untuk menyambung akalnya yang pendek sehingga meninggalkan terauma yang berkepanjangan.

Kita berharap dengan adanya sambutan Menteri Pendidikan dalam rangka hari Guru Nasional dapat membawa paradigma baru bagi dunia pendidikan nasional yang kiranya dapat menjangkau pendidikan informal dan non formal. Semoga jayalah pendidikan Indonesiaku.

 

(Penulis adalah Mantan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Alor-NTT)

Komentar