oleh

Sumpah Pemuda Dalam Spektrum Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Identitas Bangsa

Oleh: Baltasar Koi

Identitas merupakan suatu persoalan yang penting dan hangat dibicarakan dalam bidang kesusasteraan, dan kajian budaya. Sementara ini, identitas menjadi gagasan utama yang sering difokuskan dan diperdebatkan dalam kajian politik negeri ini. Jika, kita hanya merujuk kepada bidang politik, persoalan identitas ini memang merupakan suatu kasus yang mendasar kepada pemuda-pemuda Indonesia.

Sejatinya, Sumpah Pemuda merupakan sebuah syair, yang bait demi baitnya berirama dan penuh dengan makna. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda bukan sekedar mahakarya seorang penyair, melainkan sebuah cita-cita mulia yang dihasilkan pemuda dalam memimpin masa depan keanekaragaman dan kesatuan berbangsa.

Itulah fondasi Indonesia. Penuh semangat dan optimisme terhadap kemerdekaan. Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu menjadi ikrar yang mesti diimplementasikan anak bangsa dalam bernegara. Inilah yang dikatakan karakter bangsa yang sesungguhnya. Berkat nasionalisme yang tinggi, dan rasa percaya diri yang kuat, pemuda saat itu telah berhasil memainkan peran sebagai angen perubahan dan pemberi solusi.

Lalu bagaimana dengan pemuda saat ini? Mampukah mewarisi semangat pemuda terdahulu? Mengingat saat ini yang dihadapi pemuda saat ini adalah penjajahan gaya baru, bisakah pemuda menjadi solusi? Atau jangan-jangan pemuda sudah menjadi tua saat mudanya?

Pemuda sejati merupakan sumber kekuatan dan jalan keluar dari suatu permasalahan. Pemuda mempunyai potensi yang dapat menciptakan keadaan menjadi lebih baik, tidak bisa dipungkiri jika masa depan bangsa ada pada pemuda. Generasi muda merupakan rahasia kekuatan suatu bangsa, tiangnya kebangkitan, kebanggaan, dan kemuliaan. Maka entah bagaimana jadinya Indonesia kedepan, kalau pemuda hari ini kalah dalam kompetensi zaman.

Di tengah arus globalisasi ini, Indonesia menjadi mata rantai terlemah. Bukan tak mungkin dalam jangka panjang, manusia Indonesia bisa menjadi sampah globalisasi, tersingkir dari percaturan dunia yang kini bergerak maju cepat sekali. Sementara itu, kita masih menjadi bangsa yang dilingkupi wacana dan penuh kebingunan menentukan arah melangkah.

Jika kita cermati, tantangan pemuda saat ini tidak lain adalah daya saing. Jika pemuda tidak memiliki kompetensi yang unggul dibandingkan pemuda lainnya, maka siap-siap digilas dalam kompetensi keterbukaan ini. Maka, meningkatan kompetensi daya saing di era globalisasi ini penting sekali. Namun, tidak kalah pentingnya juga identitas dan jati diri bangsa Indonesia dari ancaman penjajahan gaya baru.

Setidaknya cerminan karakteristik genetika budaya pemuda, selain keberagaman atau toleransi, juga ada pada identitas dan jati diri bangsa, yakni berbahasa Indonesia. Inilah yang disebut watak keindonesiaan pemuda yang sesungguhnya.

Kondisi Bahasa dan Sastra

Menariknya, peringatan hari Sumpah Pemuda menjadi keistimewaan sendiri bagi bahasa dan sastra Indonesia. Betapa tidak, 28 Oktober, di mana Sumpah Pemuda dicetuskan, menjadi peringatan penting yang kemudian disebut Bulan Bahasa. Tentu hal ini tidak tanpa alasan, keberadaan bahasa dan sastra Indonesia sebagai identitas suatu bangsa harus diresapi dan bahkan diperjuangkan sebagai bahasa pemersatu dan bahasa nasional. Bukan kemudian disalahgunakan bahkan diintervensi oleh pihak asing.

Akhirnya, Indonesia membutuhkan generasi muda yang mewarisi semangat dan optimisme pemuda yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Indonesia butuh generasi yang menjunjung tinggi marwah identitas bangsanya dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kita menyadari, roda sejarah Indonesia, tidak lepas dari pemuda, maka pemuda harus menjadi kontrol sosial bangsa. Pemuda tidak boleh jauh dari realitas sosial dan kondisi masyarakat. Pemuda harus bersama masyarakat untuk terus meng-update nalar kemanusiaan.

Tentu, kita semua berharap momentum Sumpah Pemuda menjadi pengingatan pemerintah bahwa masih ada yang bisa diharapkan untuk masa depan bangsa ini, siapa lagi kalau bukan pemuda. Sebagai agen perubahan dan solusi permasalahan bangsa, pemuda sudah saatnya hadir sebagai pemecah kebuntuan. Bahkan lebih dari itu, pemuda hadir, bukan sebagai kelam melainkan bersinar. Bukan sebagai pencetus melainkan perdamaian segala kegelisahan dan permasalahan bangsa.

 

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang/baltasarkoi@gmail.com

Komentar

Jangan Lewatkan