oleh

Ada apa dengan Flores Timur

-Opini-849 views

Oleh: Muhammad Husen Db, M.Pd

Membaca Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Flores Timur, menunjukkan kita harus lebih peduli dan lebih fokus. Dalam lampiran pada bab IV tentang permasalahan dan isu strategis daerah, kita temukan tumpukan persoalan yang harus penjadi perhatian serius. Sebut saja misalnya soal program pembangunan daerah, masih rendahnya kemandirian orang muda, kurangnya lapangan kerja, rendahnya kualitas layanan pendidikan, rendahnya derajat kesejahteraan masyarakat dan tumpukan persoalan lainnya.

Persoalan yang juga tidak kalah penting adalah tentang penyelenggaraan pemerintahan yang belum sepenuhnya bersih dan efektif. Semua ini tertuang dalam pemetaan persoalan yang dihadapi Kabupaten yang memiliki 232.312 penduduk. Ketika kita membaca lebih jauh data pada pusat statistik pada tahun 2010, data tentang penduduk Flores Timur berjumlah 232.312 sementara kabupaten Ogan Ilir berjumlah 380.861, tetapi pada poin laju pertumbuhan penduduk kabupaten Flores Timur sama persis dengan kabupaten Ogan Ilir dengan angka 1,62 %. Flores Timur harusnya memiliki peluang maju sangat besar.

RPJMD adalah pokok pikiran yang menuangkan visi misi pemerintah daerah sebagai dokumen perencanaan pembangunan makro dalam lima-sepuluh tahun ke depan. Data yang tertuang dalam dokumen RPJMD adalah informasi faktual yang ada di kabupaten atau daerah itu. Membedah RPJMD Flores Timur akan menjadi sebuah keunikan tersendiri karena selama 62 Tahun sejak berdirinya, Flores Timur masih tergolong kabupaten tertinggal. Maka sebagai upaya mencari solusi, selain pendekatan teori SWOT juga harus ada pendampingan lebih dalam mengeksplorasi kemungkinan lain yang menjadi penguat dalam setiap kebijakan. Semua pedoman yang menjadi acuan RPJMD adalah ketentuan yang tertuang dalam pasal 1 nomor 4 UU 17 tahun 2007 tetang rencana pembangunan jangka panjang nasional tahun 2005-2025.

Ketika melihat begitu banyak hal yang harus dituntaskan, lantas apa rencana strategis yang harus kita lakukan?, atau paling tidak gerakan massif apa yang bisa kita lakukan untuk keluar dari penyakit akut kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. Dalam upaya menuntaskan persoalan besar seperti ini, mengutip pikiran tokoh besar yang menggagas teori perubahan sosial Talcott Parsons dan Willbert E. Moore, bahwa perlu pendekatan khusus dalam mengambil langkah taktis strategis untuk keluar dari persoalan yang selama ini menjadi momok bagi setiap pemimpin daerah yang seakan tidak punya daya untuk bangkit dari ketertingalan dan keterbelakangan. Padahal grand theory tentang perubahan sosial masih memberi peluang lebar bagi setiap pemimpin yang memiliki visi besar untuk merubah pola gerak masyarakatnya. Karena kesadaran mutlak bahwa selalu ada jalan terang bagi setiap pemimpin yang mau maju dan mau bekerja lebih produktif.

Basis pekerjaan yang dilakukan pemerintah selain pemetaan secara serius juga ada penelitian yang lebih mendalam dalam rangka melihat lebih detail dimana letak utama persoalan yang dihadapi. Riset yang bagus akan membantu melihat peluang dan kekuatan yang bisa dideteksi sekaligus membuat rencana kerja yang lebih terukur. Dalam dunia kerja tim, kekuatan kolektif menjadi penting. Optimalisasi peran setiap orang yang berdaya dalam memastikan arah mana yang harus kita ambil untuk menuju titik perubahan yang lebih baik. Perubahan yang melahirkan kesejahteraan rakyat.

Equity dan Equality

Equity (Keadilan), Equality (Kesamaan) menjadi penting dalam kajian mendorong perbaikan Flores Timur. Kita meyakini bahwa Flores Timur adalah daerah yang punya peluang besar untuk maju dan berkembang. Setidaknya ada dimensi pergerakan yang menunjukkan bahwa dukungan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia kian hari kian membaik. Indikator sementara yang bisa dijadikan peluang bagi kita adalah semakin banyaknya anak muda yang merasa gelisah terhadap persoalan yang dihadapi Flores Timur. Artinya Flores Timur tidak lagi hanya dipikirkan oleh kaum elit, tetapi jauh dari itu, masyarakat semakin terbuka pola pikirnya dengan gerakan anak muda yang gandrung akan perbaikan dan perubahan yang lebih taktis.

Kondisi ini yang kemudian menjadi kekuatan bagi pemegang otoritas pemerintahan untuk menjadikannya sumber kekuatan yang bisa digerakkan dan dioptimalkan. Pemerintah daerah harus bisa mengambil ini sebagai upaya penyegaran sekaligus mendudukkan proses equitu dan equality sebagai sikap strategis bersama masyarakat mengangkat beban berat ini. partisipasi masyarakat untuk ikut mengkampanyekan cara dan strategi perubahan adalah pembuktian bahwa masyarakat ingin maju.

Flores Timur adalah aset bangsa yang sangat monumental. Dalam kajian sistem ekonomi orang akan beraset pada nilai yang cukup tinggi dan berharga, Aset yang sangat berharga tidak hanya bagi kabupaten Flores Timur tetapi bagi semua warga bangsa. persoalannya kita sendiri yang mendegradasi atau menurunkan kualitas kita bahwa seakan-akan kita tidak pernah akan berubah. Kita terjatuh dalam paradigma yang paling dalam soal posisioning kita, padahal kita bisa berubah.

Persoalannya kita sendiri yang membuat Flores Timur menjadi bencana, tertatih dan tidak berdaya. Padahal kita harusnya lebih baik lagi. Kita selalu berfikir bahwa Flores Timur hanya bisa seperti ini, susah. Tidak berdaya, tidak progresif, jauh dari keterbukaan dan kemajuan, kita salah. Ada nilai yang berkurang dalam memahami lorong waktu Gerakan Flores Timur. Dulu, ketika masih belum punya akses untuk melihat dunia luar, kita menyatakan bahwa karena kita terbatas. Saat semua akses terbuka lebar, kita masih juga tertinggal. Ada yang salah. Zaman dimana semua masih terbatas, kita punya nilai kebersamaan dan kebaikan gotong royong, kini larut dalam dunia personality. Banyak anak Flores Timur keluar daerah secara mandiri mencari akses perubahan untuk Flores Timur, membawa pesan perubahan dan pertanggunganjawab jati diri Flores Timur. Terlalu banyak contoh tokoh kreatif yang bisa bangkit dengan mengajak masyarakatnya untuk berlari menjemput prestasi. Pemimpin kreatif tidak pernah kehilangan momentum, tidak kekurangan daya pikir dan nalar kritis yang produktif.

Ada Apa Dengan Flores Timur

232.312 adalah penduduk yang sangat banyak. Nah bagaimana cara bersama masyarakat mendorong perubahan. Kita coba melihat banyak contoh kepala derah yang membawa kabupatennya maju, sebut saja Kang Yoto di kabupaten Bojonegoro. Dengan kesiap- siagan dan kematangan dengan visi kepemimpinan terbuka, ia kemudian membawa Kabupaten Bojonegoro menjadi kabupaten percontohan mewakili asia bersama kota seoul korea selatan. Apa yang dilakukan Kang Yoto adalah sesuatu yang sangat bisa dilakukan di Kabupaten Flores Timur.

Kekuatan lain yang bisa kita ambil sebagai upaya menggerakkan kekuatan masyarakat, kita bisa mengambil contoh pemimpin besar seperti Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan. Pemimpin berkulit hitam berrambut keriting yang rela keluar masuk penjara karena berjuang mengangkat derajat masyarakat kulit hitam. Betapapun perih dan susahnya, Flores Timur pasti bisa melangkah lebih cepat dengan beberapa alternatif. Pertama, harus ada riset yang komprehensif dan terbuka untuk mendeteksi persoalan yang sesunguhnya. Kedua, dari basis riset itu kemudian menjadi bahan solutif untuk melakukan terobosan baru yang berdampak luas. Ketiga, punya kemauan dan komitmen yang kuat dalam mengangkat kaum yang selama ini belum merasa memiliki dan belum sadar akan pentingnya usaha bersama. Keempat, Young Empowerment, pemberdayaan pemuda yang basisnya adalah gerakkan terstruktur sistematis dan massif. Melakukan gerakan yang punya standar produk, seperti modul dan kurikulum yang terukur.

Kelima, Shifting Mentality yang harus di gerakan bahwa tidak lagi berpangku tangan dan bermalas malasan. Keenam, Optimaslisasi jaringan untuk pemberdayaan. Sebagai pemerintah harus mampu menjembatani program jaringan seluas luasnya untuk membantu masyarakat keluar dari kejenuhan panjang atas ketidak berdayaan. Flores Timur akan menjadi kabupaten yang menginspirasi bagi kabupaten lain di Indonesia. Oleh karenanya ketika ada pertanyaan ada apa dengan Flores Timur, jawabannya adalah ada Jalan Baru Flores Timur.

 

(Penulis adalah Tenaga Ahli Badan Sosialisasi MPR RI)

Komentar

Jangan Lewatkan