oleh

Analisa Istilah Covid-19 dan Kebijakan Pemerintah

-Opini-744 views

Oleh: Vian Tukan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dalam menjalin komunikasi dengan orang lain dari daerah yang berbeda.Yohanes Orong dalam bukunya Bahasa Indonesia Identitas Kita mengatakan bahwa bahasa indonesia mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, tetapi karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang memiliki latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis, maupun semantik. Menurut Tommy Al-Ghazali bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa adalah alat untuk berinteraksi dalam menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Bahasa juga merupakan sebuah sistem, artinya bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, di tengah situasi pandemi Covid-19 terdapat banyak istilah baru yang muncul seperti halnya; PDP, suspect, Local Transmision, epidemi, klaster, pandemi, Lockdown, Social Distancing, protokol, ODP, Physical Distancing, karantina, antiseptik, hand sanitizer, Rapid test, dan isolasi. Semua istilah baru yang muncul dalam pandemi Covid-19 tidak terlepas dari pengaruh linguistik itu sendiri. Dengan ini masyarakat Indonesia mulai mengakrabkan diri dengan istilah-istilah baru setelah munculnya kebijakan pemerintah dalam memutuskan mata rantai Covid-19. Kebijakan yang diambil oleh pihak pemerintah Indonesia seperti sosial distancing dan physical distancing menimbulkan istilah-istilah baru. Namun dalam tulisan ini penulis hanya membahas bagian tertentu seperti halnya pandemi, pandemik, endemi, endemis, dan endemik, social distsncing dan physical distancing.

Menurut Kamus Besar Bahasa Inonesia edisi V, istilah pandemi, pandemik, endemis, endemik, adalah sebagai berikut:

Pandemi adalah: Wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografis yang luas.

Pandemik adalah: Tersebar luas (tentang penyakit) di suatu kawasan, benua, atau di seluruh dunia.

Endemis adalah: Penyakit yang tumbuh atau terdapat pada tempat atau wilayah tertentu.

Endemik adalah: Penyakit yang muncul dalam wilayah tertentu.

Di samping itu ada istilah social distancing dan physical distancing. Social distancing merupakan jaga jarak sosial dalam masyarakat lain, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hubungan atau kontak dengan orang lain dalam jarak yang dekat atau dalam kelompok yang besar. Sedangkan physical distancing merupakan jaga jarak fisik antara yang satu dengan yang lain. Menurut Yohanes Orong, jika berbicara soal linguistik berarti termasuk di dalamnya juga karakterisrik bahasa yang bersifat abriter, dinamis, beragam dan manusiawi. Bahasa yang bersifat arbiter merupakan bahasa yang digunakan oleh sekelompok manusia yang bertempat tinggal di lokasi tertentu secara konvensional bersepakat untuk membuat, menggunakan, menata dan mengembangkan sebuah bahasa. Bersifat dinamis berarti bahasa tidak terlepas dari kemungkinan untuk berubah dan berkembang. Perkembangan dan perubahan bahasa dapat terjadi pada tataran fonologis, morfologis, sintaksis, dan sematik. Bahasa bersifat beragam berarti dapat digunakan oleh penutur yang heterogen. Bahasa yang bersifat manusiawi berarti bahasa itu digunakan oleh manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia beriteraksi, berkomunikasi dengan manusia lain dengan menggunakan bahasa sebagai media; baik secara lisan maupun secara tulisan. Keterampilan berbahasa dan berkomunikasi seperti menyimak, berbicara, membaca, menulis yang dimodali kekayaan kosakata, adalah aktivitas intelektual manusia. Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa semua istilah baru yang muncul dalam masyarakat Indonesia, membuat masyarakat semakin akrab dengan istilah-istilah baru tersebut. Walaupun kedengarannya sangat asing bagi semua masyarakat Indonesia dan tidak mengikuti aturan linguistik tetapi setidaknya membawa dampak positif bagi masyarakat secara khusus dalam proses pembelajaran. Masyarakat diakrabkan dengan istilah-istilah baru yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam memutuskan mata rantai Covid-19, hal ini membuat masyarakat semakin tahu dan memahami arti dari istilah baru tersebut. Bila ditelusuri lebih jauh, mengenai istilah-istilah baru yang muncul dalam masyarakat secara tidak langsung mengajarkan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan mengandung takaran nilai yang negatif melainkan nilai yang positif.

Di sini, penulis sangat setuju dengan istilah-istilah baru yang muncul dalam kehidupan masyarakat Indonesia seperti yang telah dijelaskan di atas berkaitan dengan Covid-19, walaupun tidak sesuai dengan aturan linguistik yang ada. Alasannya karena dengan semua istilah baru yang beredar dalam masyarakat Indonesia, maka masyarakat dapat belajar tentang semua istilah baru tersebut. Masyarakat harus tahu semua istilah baru yang muncul berkaitan Covid -19 sehingga mereka tidak ketinggalan informasi. Jika seandainya semua masyarakat tidak tahu dan memahami istilah baru tersebut yang berkaitan dengan Covid-19, maka yang diinginkan oleh pihak pemerintah dalam hal ini memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 tidak dapat tercapai. Misalnya penggunaan istilah social distancing dan physical distancing. Agar semua masyarakat dapat mengerti dan memahami dua istilah tersebut maka pihak pemerintah, kesehatan atau yang berkewajiban harus mampu menjelaskan secara terperinci arti dari kedua istilah tersebut, karena tidak semua masyarakat yang mengerti dan memahami istilah tersebut.

Berkaitan dengan hal ini, pemerintah sendiri ataupun pihak yang berwajib sudah berjuang semaksimal mungkin untuk menjelaskan semua istilah baru tersebut baik melalui media, surat kabar maupun sosialisasi langsung kepada masyarakat, sehingga masyarakat lebih akrab dengan istilah baru tersebut di tengah situasi Covid-19. Tindakan pemerintah bertujuan untuk memastikan setiap masyarakat tidak berada dalam pra pemahaman tetapi berada dalam suatu pemahaman yang jelas berkaitan dengan istilah baru yang sedang beredar di tengah masyarakat dalam upaya untuk memutuskan penyebaran Covid-19 dalam kehidupan sehari-hari.

Berkaitan dengan semua hal yang telah dijelaskan di atas, khususnya dalam penggunaan istilah-istilah baru dalam masa Covid-19, penulis menilai bahwa semua yang telah dilakukan oleh pihak pemerintah, kesehatan, maupun yang berwajib patut diapresiasi karena perjuangan mereka membawa pengaruh yang besar bagi masyarakat dalam mengatasi tersebarnya Cocvid-19. Namun, sesuai dengan realitas masih ada kepincangan yang terjadi entah dari pihak pemeritah, kesehatan, maupun yang berkewajiban, ataupun oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang berkaitan dengan Covid-19 melalui media sosial dan sebagainya. Mengenai hal ini, ada beberapa hal yang dapat penulis anjurkan kepada pihak pemerintah, kesehatan dan yang berwajib. Pertama, untuk pemerintah harus lebih tegas dalam memperhatikan setiap media, agar informasi yang disampaikan dapat memenuhi syarat atau kriteria agar tidak terjadinya hoaks yang mempengaruhi psikpologi seseorang dalam memahaminya. Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka, penulis sangat mendukung kebijakan presiden yang menerapkan social distancing dan physical distancing sebagai langkah solutif guna memutuskan mata rantai penyebaran virus corona di Indonesia. Karena penyebaran virus korona ini bukan berdampak pada kesehatan saja, tetapi berdampak pula pada ekonomi Negara. Kedua, untuk para kesehatan harus tetap semangat dan selalu optimis dalam memberikan sosialisasi langsung kepada semua masyarakat indonesia di semua wilayah agar masyarakat dapat berada dalam pemahaman yang sama tentang istilah-istilah baru yang berkaitan dengan Covid-19. Ketiga, untuk seluruh masyarakat indonesia agar selalu mengikuti semua arahan yang telah dianjurkan oleh pihak pemerintah dan kesaahatan sehingga wabah Covid-19 dapat dengan mudah teratasi.

 

(Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero,
Tinggal di Wisma Gabriel)

Komentar

Jangan Lewatkan