oleh

Arti Lontar Bagi Orang Rote

-Opini-799 views

Oleh: Matheos Viktor Messakh

Orang Rote dan Sabu dekat dengan lontar. Mereka hidup dan mati bersama lontar (Latin: borassus flabellifer).

Di Rote, sejak lahirnya seorang anak manusia sampai meninggalnya, lontar selalu mengawal. Saat seorang bayi lahir, tali pusar dipotong dengan daun lontar yang masih muda. Daun lontar muda sangat tajam. Bayi yang baru lahir juga diberi minum air gula. Mungkin menurut ukuran kesehatan jaman modern, hal ini tak lazim namun itulah kebiasaan orang Rote. Tali pusar anak-anak Rote biasa digantung di atas pohon kainunak, namun untuk anak laki-laki lebih sering digantung di atas pohon lontar dengan harapan setelah dewasa bisa menyandap lontar. Ketika seorang anak memulai usia sekolah ada kebiasaan orang tua menyuruh sang anak membersihkan lidah dengan daun lontar muda pada hari pertama masuk sekolah. “Supaya pintar omong” katanya. Generasi ayah saya masih melakukan hal ini.

Sepanjang hidup, manusia Rote sangat bergantung kepada lontar. Ujung kaki sampai ujung kepala ada asesori berasal dari lontar. Sendal orang Rote berasal dari daun lontar bernama ‘tabu eis’ atau sering dicapkan secara cepat dengan ‘tabeis’. Saya sudah jarang menemuinya di Rote atau Kupang, tapi saya melihat sepasang tabueis terpajang di Museum Volkenkunde, Leiden, Negeri Belanda. Sarung dan selimut Rote diikat dengan ‘hekenak’ yang terbuat dari daun lontar agar ketika dicelup dengan tinta tradisional dapat membentuk motif.

Bahan baku rumah mulai dari dinding sampai kusen dan atap terbuat dari lontar. Dinding rumah terbuat dari papan lontar, tiang terbuat dari batang lontar, kusen-kusen dan bagian atap terbuat dari lontar. Rumah tradisional Rote tidak menggunakan paku, melainkan tali ikatan yang terbuat dari lontar, atap rumah terbuat dari daun lontar.

Perabotan orang Rote umumnya terbuat dari lontar. Meubel seperti tempat tidur tradisional terbuat dari lontar. Alat makan orang Rote terbuat dari bagian bagian kelapa dan lontar. Gagang pisau dan parang terbuat dari lontar. Sarung pisau dan parang terbuat dari daun lontar. Wadah wadah anyaman terbuat dari lontar. Wadah penampung air terbuat dari daun lontar atau sering disebut ‘haik’. Wadah-wadah penampung orang Rote bermacam-macam jenisnya, terbuat dari anyaman daun lontar. Wadah yang besar untuk menampung gabah misalnya disebut lapaneuk. Ukuran wadah ini bermacam-macam dan namanya pun berbeda-beda. Gagang pikulan perempuan Rote terbuat dari pelepah lontar atau bambu yang disebut “lalepak”. Peralatan makan sirih pinang terbuat dari lontar. Ada yang menyebutnya “Olik”, ada yang menyebutnya “mamamak”. Tas orang Rote yang disebut kakapik terbuat dari anyaman daun lontar dan pelepah lontar.

Topi kehormatan orang Rote atau solangga atau tiilangga terbuat dari lontar. Tali kuda dan tali-tali untuk keperluan lain terbuat dari pelepah lontar. Pelana kuda terbuat dari hekenak yang juga terbuat dari daun lontar atau daun gewang. Ikat pinggang terbuat dari anyaman lontar. Meubel terbuat dari lontar. Tikar terbuat dari lontar disebut neak atau neneik. Kipas api juga terbuat dari anyaman daun lontar disebut ngenggefuk, nggaggafuk atau ngganggeuk, tergantung dialek setempat. Rokok orang Rote dilinting dengan daun lontar. Tarikannya musti kencang bro. Mantel hujan orang Rote yang disebuk ‘seuk’ terbuat dari daun lontar dan daun gewang. Alat penangkap ikan dibuat dari daun lontar.

Alat musik orang Rote yang terkenal, Sasandu, terbuat dari lontar. Wadah utamanya dari lontar, sanggahan-sanggahan dawainya juga dari pelepah lontar. Karena wadah sasandu terbuat dari daun lontar yang disebut haik maka sasandu tradisional yang bernada pentatonik disebut Sasandu haik. Sedangkan yang biasa anda tonton do televisi atau di acara-acara publik sekarang adalah modifikasi dari sasandu haik dimana nadanya tidak pentatonik lagi dan wadah pencipta gemanya bukanlah haik lagi melainkan listrik. Konon, jika orang memilih daun yang akan dipakai untuk membuat wadah sasandu mereka akan memanjat pohon lontar pada musim kering dan berangin dan memperhatikan daun mana yang getarannya berbeda dari semua daun.

Tambur orang Rote terbuat dari kulit binatang dang wadahnya terbuat dari batang lontar. Orang Rote mengenal gong logam, tapi awalnya gong terbuat dari batang lontar, disusun mirip gamelan. Ada tradisi saling memukul betis di Rote yang kalau diterjemahkan artinya “pukul kaki”. Biasanya dua orang akan saling bergantian memukul kaki dengan irama gong. Kaki orang yang dipukul biasanya diikat dengan daun lontar dan disisakan beberapa jengkal untuk dipukuli.

Makanan utama orang Rote adalah lontar, sehingga seorang tokoh dalam buku multatuli, Max Havelaar menyebut orang Rote “meminum makanannya”. Asupan gizi utama masyarakat tradisional Rote selain hasil pertanian dan hasil laut adalah gula lontar. Gula ini biasanya dimasak dari jus lontar, menjadi kental untuk disimpan atau dijual. Biasanya yang disimpan untuk dikonsumsi sendiri lebih kental. Proses memasaknyapun lebih lama dari gula yang dijual. Dalam banyak keluarga, orang Rote tidak makan tiga kali sehari. Kadang hanya sekali. Selebihnya minum gula. Ini terutama terjadi pada masa paceklik. Gula memang menjadi napas kehidupan orang Rote.

Karena konsumsi utama gula lontar ini membuat postur tubuh anak-anak Rote tidak terlalu besar tapi mereka gesit dan jarang kena penyakit maag. Gula itu sendiri telah menjadi pencegah sakit maag. Waktu kecil saya punya teman bernama Dan. Ia seorang anak gembala. Ia mengembalakan domba-domba milik tuannya. Ia biasanya keluar bersama dombanya di pagi hari tanpa sarapan. Ia hanya minum gula. Bekal yang ia bawa juga hanya gula yang sudah dicampur air dan jagung goreng dalam gula tersebut. Biasanya ia tidak pulang ke rumah untuk makan siang. Makan siangnya adalah gula itu. Kadang di musim belalang ia akan menangkap sejumlah belalang untuk dibakar dan dimakan. Atau ia akan menggunakan perangkap untuk menangkap burung untuk dibakar menjadi makan siangnya. Tubuh Dan ini kecil, tapi saya tak pernah melihatnya sakit. Entah dimana dia sekarang. Pernah saya sangat kasihan melihat bajunya yang bolong-bolong sehingga saya meminta oma saya, nyora Lenggu, agar membolehkan saya memberinya beberapa potong baju saya. Keesokkan harinya ia memakai lagi baju sobeknya. Baju yang saya berikan untuk ke gereja katanya.

Gula memang makanan utama orang Rote. Saat seorang pemuda mulai menyuakai seorang gadis ia biasanya mendatangi rumah sang gadis. Kadang hanya bertandang, kadang ia sudah tinggal di situ. Orang Rote menyebutnya “Lu’u”. Saat pertama kali datang biasanya sang pemuda disuguhi gula sangat kental dan ia harus meminumnya sampai tandas. Itu satu ujian kecil baginya.

Ketergantungan kepada gula ini terutama terasa pada masa paceklik. Di tahun 1960-an saat ekonomi Indonesia menjadi sangat buruk akibat pergolakan politik, orang-orang Rote sangat bergantung pada gula. Orang-orang Rote di Kupang misalnya hanya menantikan gula kiriman sanak saudara mereka di Rote. Ibu dan om-om saya yang saat itu bersekolah di Kupang menceritakan bagaimana mereka hanya makan sekali dan selebihnya minum gula yang dikirimkan dari Rote. Jika ada kabar kiriman gula, malam-malam mereka biasanya ke pelabuhan di Namosain untuk memikul gula, sampai ke Kampung Baru atau Fatufeto. Itulah “tua nasu” bagi orang Rote. Yang pernah merasakan hidup karena tua nasu tak akan pernah melupakannnya.

Konsep tentang Tuhan dalam bahasa Rote disebut “Ama Mane Tua Lain”. Itulah yang disadur oleh penyair Fridel Eduard Lango dalam nyanyian kidung Jemaat 374 ‘Kubersandar padaNya’. Kata ‘Tuhan Allah Bapa’ adalah saduran dari Mane Tua Lain. Mane Tua Lain sendiri secara harfiah berarti ‘Raja yang Di Atas (pohon) Lontar’. Boleh dikata orang Rote hanya bersandar (tia dea) pada Mane Tua Lain. Hanya itu sandaran mereka dan karena itu mereka bersandar sangat kuat. “Tamahena takabani, neu ama mane tua lain,” demikian kata mereka.

Dulu, angka kematian tertinggi di kalangan kaum laki-laki adalah kr terjatuh dari pohn lontar saat menyadap nira. Para janda di rote kebanyakan karena kematian jenis ini bukan penyakit atau perang. Jika bercanda dengan orang Rote, kadang candaan itu disertai sumpah serapah. Hal ini biasa bagi orang-orang yang sudah saling mengenal dekat. Kalau anda mengatakan “biar lu mati jatuh kuda, atau tenggelam” dan seterusnya orang tidak akan marah. Tapi kalau anda menyumpahi mereka mati jatuh dari pohon lontar mereka akan sangat marah.

Siklus kerja tahunan orang Rote selain berkebun dan menanam sawah adalah menyadap lontar dan memasak gula. Menyadap biasa dilakukan musim kemarau. Semakin panjang kemarau artinya semakin lama menyadap dan memasak gula. Biasanya musim sadap didahului musim mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah besar untuk memasak gula. Saat menyadap, laki-lakilah yang memanjat dan menyadap sedangkan perempuan mengumpulkan nira nira yang telah disadap dg menggunakan haik. Nira inilah yang dimasak menjadi gula. Hanya sedikit yang diminum dan diberikan kepada ternak.

Salah satu ukuran akil balig bagi anak laki laki dan anak perempuan Rote adalah bisa menyadap (sada) nira dan bisa memasak nira. Kalau seorang pemuda Rote sudah bisa menyadap nira artinya dia sudah boleh kawin. Demikian juga seorang gadis Rote sudah bisa memasak gula artinya sudah bisa dipinang. Bahkan banyak syair-syair Rote bukan saja ttg lontar tapi dihasilkan di atas lontar. Saya sering mendengar syair syair yang kedengarannya sangat sedih dan memilukan dari para penyadap nira. Kata para orang tua, mreka menyanyikan syair-syair itu untuk membujuk mayang lontar agar mau mengeluarkan nira. Salah-salah menyanyi niranya menjadi masam atau tidak keluar sama sekali. Seorang teman saya Pdt. Tonias Nalle menulis skripsi tentang “nyanyian lontar”.

Pekerjaan menyadap dan memikul serta memasak nira ini sangat berat sehingga musim menyadap ini sering disebut ‘bera’ artinya berat. Seorang lelaki dewasa biasanya menyadap ratusan pohon sehingga kadang ia sudah harus mulai menyadap sekitar jam 3 pagi agar dapat menyelesaikan seluruhnya menjelang siang (jam 10-11) agar niranya tidak masam. Agar si penyadap bisa bangun pagi, biasanya alas kepala yang digunakan bukanlah bantal melainkan buah lontar atau buah kelapa yang dibelah dua dan digunakan setengahnya sebagai alas kepala. Ini berarti ia tidak benar-benar tidur nyenyak walaupun ia sangat kecapean karena kerja keras hari sebelumnya. Runtinitas dari tengah malam sampai menjelang siang ini akan diulangi lagi pada siang menjelang sore hari. Jika jumlah pohon lontar yang disadap banyak maka para penyadap akan memulai lebih awal dan baru menyelesaikannya pada malam hari. Ada yang muali menyadap lagi jam 2-3 siang sampai jam 9-10 malam. Perempuan-perempuanpun bersusah payah memikul “bergalon-galon” nira dalam kontainer yang disebut haik, dari berbagai lokasi di mana penyadapan dilakukan. Biasanya mereka membangun sebuah gubuk kecil dari daun lontar untuk menggantungkan nira yang sudah disadap oleh para laki-laki. Kemudian para perempuan dan anak-anak memikulnya ke lokasi memasak gula yang biasanya adalah rumah mereka. Hal inipun dilakukan dua kali sehari, pagi sampai siang dan sore sampai malam. Bisa dibayangkan betapa lelahnya. Karena itu jika ada anak-anak Rote yang dikirim untuk bersekolah lalu mereka mengabaikan jerih lelah orang tua mereka, itu sangat disayangkan.

Begitu banyaknya pohon yang disadap, kadang sang penyadap tidak turun dari pohon melainkan berpindah dari pohon satu ke pohon lain. Caranya dengan berpijak pada pelepah lontar yang sudah diikatkan ke pelepah pohon berikutnya. Ini pekerjaan sangat beresiko. Seperti sudah disinggung di atas, tidak sedikit laki-laki Rote yang jatuh dari lontar dan meninggal. Duka kematian karena jatuh dari lontar biasanya sangat menyedihkan. Sebab itu berarti sandaran keluarga menjadi hilang. Siapa lagi yang akan menyadap nira?

Mungkin anda bertanya mengapa lontar tidak ditanam scr bergerombol agar memudahkan panen? Memang lontar seringkali tumbuh dlm rumpun tapi tidak selalu demikian. Orang Rote tidak menanam lontar. Mungkin karena masa hancurnya cakang lontar sampai tumbuhnya lontar memakan waktu cukup lama, orang Rote menganggap pekerjaan menanam lontar adalah pekerjaan membuang waktu. Buah lontar akan dibiarkan jatuh dan busuk, dimakan babi, dibawa ke mana saja, kemudian akan tumbuh dengan sendirinya.

Buah lontar memang dianggap berbeda oleh orang Rote dibanding buah yang lain. Semua buah pohon disebut berdasarkan nama pohonnya. Misalnya: tula boak (buah gewang), nita boak (buah nitas?), dst. Namun buah lontar tidak disebut “tua boak” melainkan “sai boak” atau diucapkan secara cepat oleh orang Kupang dengan “saboak”. Sai boak artinya “buah dari laut” atau “buah laut”. Orang Rote percaya buah lontar dibawa hanyut oleh air laut lalu tumbuhlah di Rote. Sebuah buah dari laut yang memberi kehidupan kepada orang Rote. Orang Rote sendiri mempunyai mythos tentang pohon lontar yang berasal dari Laut, namun mythos itu masih saya cari tahu.

Kemanapun orang Rote bermigrasi, mereka akan membawa tradisi lontar ke situ. Di pulau Timor dimana orang Rote menetap pasti ada tradisi lontar, ada yang menyadap dan memasak gula. Bahkan sampai di Oecusi, dikenal tradisi ini. Di Inggureo di TTU, di pesisir barat pulau Timor, di beberapa bagian di pedalaman dikenal tradisi menyadap dan memasak gula karena ada orang Rote atau orang Sabu di sana. Seperti di Tepas di TTS. Ironisnya, logo kabupaten Rote-Ndao bukan lontar. Justru Kabupaten Kupang yang memakai logo lontar. Mungkin karena dalam waktu yang cukup lama, orang Rote dan orang Sabu dominan dalam hubungan sosial politik di Kabupaten ini. Sejarah mengatakan hal itu.

Salah satu produk lanjutan dari lontar adalah sopi Rote. Asal muasal banyak kelompok etnis memasak sopi adalah dari Rote. Penyair Gerson Poyk yang pernah menetap di Flores menulis dalam salah satu memoarnya bahwa sopi itu berasal dari Rote. Salah seorang gurunya di Maumere pernah bertanya kepada di kelas siapa yang mengajari orang Flores memasak sopi. Gerson yang masih SD itu tidak bisa menjawab. Ia tidak tahu. Gurunya menyebut nama orang Rote yang mengajari mereka memasak sopi. Setidaknya itu pengakuan guru SD dari Gerson Poyk.

Saat seorang Rote menutup mata untuk terakhir kalinya, ia akan dibaringkan di peti jenazah yang terbuat dari batang lontar. Peti itu disebut “kopak” mirip dengan “kofak” yang artinya perahu. Orang berlayar pulang dengan perahu yang terbuat dari batang lontar.

Boleh dikata, hubungan orang Rote dan lontar, sesungguhnya adalah sebuah hubungan “from womb to tomb”. Hubungan dai rahim ke kuburan. Orang Rote lahir dan mati dengan lontar. Itulah yang membentuk orang Rote. Gizi yang terbentuk, watak yang dibentuk, pengalaman dan suka-duka, cara memandang kehidupan, selera makan dan tradisi. Semuanya jalan bersama lontar dan ada dalam lontar.

Begitu dekatnya orang Rote dengan lontar, sehingga dalam syair-syair tradisonalnya pun lontar selalu menjadi topik. Bahkan lontar digunakan untuk menggambarkan nasib orang Rote. Sebuah kutipan syair orang Rote berbunyi: “leo mae tua tuda neu odan o, ela ua tuak bali dei. Ma leo mae tasi pesi neu ein o, ela nale tasik bali dei”. Artinya harfiahnya, biarpun tua (gula) menetes di dahi tapi yang terutama tergantung nasib (ua) pohon lontar dulu. Biar riak laut membasahi kaki tapi tergantung nasib (nale) laut dulu. Biarpun semua rejeki ada di depan mata tapi tergantung nasib jua adanya. Nasib dalam bahasa Rote disebutkan dengan frasa paralel “ua-nale”. Kedua kata itulah yang digunakan dalam potongan syair di atas digunakan dalam frasa “ua tuak” dan “nale tasik”. Dipisahkan dalam kalimat pertama dan kedua. Tua (lontar) dan Tasi (laut) digunakan sebagai simbol utk memaknai “jalan hidup” orang Rote. Orang Rote hanya bergantung kepada lontar dan laut.

Tapi bagaimana tradisi lontar sekarang? Masihkan orang Rote memegang bergantung kepada lontar dan memegang teguh tradisi ini? Masihkan orang Rote beradu nasib dengan lontar? Masihkan “ua tuak” dan “nale tasik” menjadi titian nasib orang Rote? Jawabanya mungkin tersirat dalam desiran ujung-ujung daun lontar saat angin musim panas menyapu pulau Rote.

 

(Penulis adalah Sejarahwan, Peneliti dan mantan Jurnalis The Jakarta Post)

Komentar

Jangan Lewatkan