oleh

Benarkah Gibran Telah Jilat Ludahnya Sendiri?

-Opini-1.768 views

Oleh : Fridrik Makanlehi

Pro dan kontra terjadi ketika Gibran Rakabuming Raka memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, Jawa Tengah. Sayangnya, ada banyak pihak yang setuju dan juga, ada yang tidak setuju. Yang tidak setuju pasti mengumpat dengan seribu macam bahasa sindiran, sinisan dan kritikan. Selain itu, ada juga yang berpendapat, keputusan Gibran maju calon Walikota merupakan bagian langkah dinasti politiknya Jokowi.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan, Ludah artinya air yang keluar dari mulut; Menjilat ludah yang berarti menarik kembali apa yang sudah dikatakan (memuji-muji apa yang dicela atau diumpat). Selain itu, Dia yang mengatakan, Dia juga yang melanggar kata-kata yang telah diungkapkan.

Mereview Perkataan Gibran Rakabuming Raka

Gibran Rakabuming Raka merupakan Putera sulung Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Gibran merupakan pengusaha milenial yang sedang berbisnis dibidang kuliner, yakni katering, martabak, jas hujan dan lainnya. Bisnis tersebut beromzet miliaran rupiah melampauhi bisnis Jokowi dibidang Furniture.

Saking asiknya Gibran menjalankan bisnisnya tersebut, Gibran pun memilih untuk tidak tertarik pada dunia politik dan tidak akan mengikuti jejak perjalanan perpolitikan ayahnya. Ini sederet pertanyaan yang pernah dungkapnnya ke ruang publik, diantaranya : yang Pertama, Merilis Tempo.com – “Saya itu tidak pernah berpolitik dan tidak menjadi tim sukses,” kata Gibran di Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Senin (03/09/2018).

Tambahnya, “Dinasti apa? Bapak aja enggak punya partai, kok, pengen dinasti. Enggak ada. Kasihan rakyatnya kalau ada dinasti,” Gibran mengatakan di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta (11 Maret 2018).

Kedua, Merilis Fin Fajar Indonesia – “Dulu saya pernah bilang saya tak akan pernah masuk ke politik, mungkin image-nya saya sangat antipolitik. Ya memang benar, dulu saya seperti itu,” Gibran menyampaikan ke wartawan di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta.

Ketiga, Merilis Indonesia.com – “Jadi karyawan juga tidak apa-apa. Pagi berangkat pulang sore yang akan kaya bosmu, itu pilihan,” ujar Gibran, di hadapan 3.857 mahasiswa baru Udinus, Senin 03 September 2018, 16:34 WIB.

Keempat, Merilis Suara.com – “Enggak, enggak tertarik (menjadi politisi),” Pejelasan Gibran kepada media pada peresmian outlet Sang Pisang dan Markobar, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (11/8/2018).

Mari berkaca pada Sistem Politik dunia?
Menurut KBBI, Dinasti merupakan keturunan raja-raja yang memerintah, semuanya berasal dari satu keluarga.

Menurut MKRI.ID, Politik dinasti dapat diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga.

Menurut Denny Siregar, Dinasti politik merupakan kekuasaan yang dipegang secara turun-temurun yang dilakukan dalam kelompok keluarga yang ada ikatan hubungan darah dengan tujuan mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.

Dinasti Politik merupakan sebuah kekuasan yang sedang dibangun oleh seseorang maupun kelompok untuk mengutamakan kepentingan keluarga dalam menjalakan sebuah kekuasaan.

Dinasti politik mirip dengan konsep atau jalannya sebuah sistem kerajaan yang telah dilakukan bertahun-tahun. Ini sederet contoh politik dinasti yang telah dibangun, yakni:

Di Amerika: Keluarga Bush Senior dan Bush Yunior menjadi Presiden Amerika. Disisi lain, Anggota keluarga ada yang menjadi Gubernur Texas dan Florida. Masih di Amerika, Pahun tahun 1960, dari Partai Demokrat ada John F Kennedy menjadi Presiden Amerika. Selanjut, John Kennedy mengajak adiknya, Bob Kennedy dan Ted Kennedy menguasai jabatan penting di pemerintahan federasl tersebut.

Di Indonesia : Pertama, dari Partai Golongan Karya (Golkar), yakni : Ratut Atut Chosiyah menjabat sebagai Gubernur Banten masa jabatan 11 Januari 2002 – 11 Oktober 2005. Kedua, dari Partai PDIP, yakni : Ir. Soekaerno, menjabat sebagai Presiden pertama yang menjabat pada periode 1945–1967. Kini anaknya, Megawati Soekarno Puteri menjabat sebagai Presiden kedelapan pada masa 21 Oktober 1999 – 23 Juli 2001. Selanjutnya, anaknya, Puan Maharani sedang mengikuti jejak Ibunya untuk menguasai dunia politik PDIP.

Dari Partai Demokrat, yakni, Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden ketujuh pada masa 30 Maret 2013 – 15 Maret 2020, Kini Susilo B Yudhoyono mengajak anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono untuk merebut kekuasaan di Partai Demokrat maupun di Eksekutif

Apakah Benar Jokowi sedang membangun Dinasti Politik di Indonesia?

Jokowi telah membebaskan dan memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri-sendiri. Jika merilis dari Kompas.Tv yang ditayangkan secara langsung, “mau jualan pisang, silakan!. Mau jualan martabak, silakan!. Saya gak pernah melarang. Mau terjun ke politik juga silakan!. gak tau saya. Tanyakan saja ke anaknya langsung,” Jokowi mengatakan kepada Publik.

Berdasarkan informasi yang diliput oleh beberapa media diatas tersebut, bisa dikatakan bahwa Gibran telah menegaskan untuk tidak berpolitik dan mengikuti apa yang telah dijalani atau dilakukan oleh ayahnya, Jokowi. Namun, apakah perkataan Gibran tersebut bisa dipegang teguh, apakah janji Gibran tentang tidak berpolitik bisa direalisasikan?. Jelas, belum tentu! Sebab kata dan perbuatan belum tentu berjalan beriringan, kata bunyinya lain, perbuatan berkehendak lain.

Disisi lain, “hari ini, kita berkata ini dan itu yang sangat manis dibibir, namun besok-besok kita pun belum tentu melakukan kata yang telah diucapkan” dan juga, “dalam tiga (3) detik setiap perkataan bisa berubah sekejap”

Mengapa Gibran dikatakan, menjilat ludahnya sendiri?

Karena Gibran telah mengingkari kata-katanya. Sederetan orang meminta Gibran tetap atau setia berpegang teguh pada janji-janji yang telah diutarakan tempo lalu. (lihat empat poin pernyataan Gibran diatas).

Politik menawarkan banyak hal yang sangat fantastis dan bombastis, politik itu pun mampu membujuk hingga menghipnotis seseorang untuk terlibat didalamnya. Lewat dunia politik, kita bisa memperoleh kekuasaan, seperti: Kekuasan di Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Pada tahun 2020, Gibran Rakabuming bersedia terjun ke dunia politik untuk calon Walikota Solo.

Merilis Okezone.com – Alasan Gibran Rakabuming terjun ke dunia politik, “salah satu tujuannya ke dunia politik ingin membantu masyarakat secara ekonomi, hal itulah berawal saat dirinya menjalani karirnya sebagai pengusaha di bidang kuliner,” dan “kalau pengin menyentuh lebih banyak lagi orang harus terjun ke politik. Jadi kalau saya terjun ke politik, otomatis saya bisa menyentuh kurang lebih 600 ribu orang. Jadi itu salah satu alasan saya masuk ke Politik,”.

Secara Oligarki Politik, Denny Siregar menjelaskan, Gibran memutuskan untuk maju calon Walikota Solo bukanlah kehendaknya melainkan permintaan atau reques dari warga Solo. “warga Solo menolak Walikota Solo untuk maju calon Walikota Solo karena dia sudah terlalu tua untuk memimpin Solo, usianya sudah 70 tahun, warga Solo ingin seorang muda yang bisa memimpin Solo,” kata Denny.

Kata tidak seturut dengan Perbuatan

Kembali di harian Okezone.com – “Dulu saya pernah bilang saya tak akan pernah masuk ke politik, mungkin image-nya saya sangat anti Politik. Ya memang benar. Dulu saya seperti itu, sekarang mungkin karena proses pendewasaan, saya mulai menyadari sebagai anak muda, kita harus mulai mengubah stereotip, mulai mengubah mindset orang-orang bahwa politik itu selalu kotor. Jadi harus kita ubah mindset itu,” kata Gibran di kawasan Matraman, Jakarta Timur (10/11/2019).

Merilis Harian Aceh Indoensia – “Saya pernah bilang kalau kita jadi pengusaha, kita punya pegawai. Kita menghidupi pegawai kita. Ratusan ribuan pegawai kita punya. Ya itu bagus, bisa menghidupi orang banyak dan ketika kita punya perusahaan kita punya dana CSR. Misalnya Rp100-Rp200 juta, Rp1-Rp2 miliar, tapi berapa dari uang itu yang bisa menyentuh masyarakat,” kata Gibran di kawasan Matraman, Jakarta Timur (10/11/2019).

Secara Equality Status, kita tidak bisa mengatakan bahwa Jokowi sedang menerapkan politik praktis, politik dinasti atau monarki berpolitik di tanah air ini, sebab Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 dinyatakan bahwa “Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya”. Lebih lanjut, Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999, bahwa : “Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Dengan demikian, politik di Indonesia tidak mengenal status kepribadian gender maupun kedudukan/kasta keturunan (Anak Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota mempunyai hak untuk berkontestasi didunia politik).

Secara Equity, Gibran bisa dikatakan tidak adil karena telah mengingkari janji-janjinya, atau telah menelan ludahnya sendiri. Disisi lain, secara etika normatif Gibran belum berpengalaman di dunia politik maupun birokrat. Gibran masih terlalu muda, temperamenismenya akan teruji dikala memimpin para senior yang lebih berpengalaman.

Sehingga, untuk memimpin kota besar seperti kota Solo dibutuhkan kader atau pemimpin yang sudah matang emosi, matang di dunia politik bahkan matang pengalaman di segala bidang. Mari, kita tinggalkan ego kepentingan mendominasi atau yuridiksi kepartaian untuk menguasai sistem kepemimpinan bangsa ini, melainkan kita kedepankan politik pembangunan untuk membangun kota Solo.

 

(Penulis adalah Jurnalis dan Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI)

Komentar

Jangan Lewatkan