oleh

Berjuang Demi Kampung: Jalan Baru Flores Timur

-Opini-932 views

Oleh : Muhammad Husen Db, M.Pd

Mengawali pokok pikiran ini dengan mengutarakan sebuah pertanyaan kepada setiap masyarakat yang berasal dari Flores Timur. Apakah saudara bangga berasal dari Flores Timur? Jika anda tidak bangga berasal dari Flores Timur, maka sesungguhnya anda sedang berada di jaringan masa lalu. Frekuensi anda sedang bermasalah, pikiran anda sedang dirundung masa lalu yang kelam.

Flores Timur adalah kabupaten yang kian hari kian menunjukkan potensi hebatnya dengan daya dorong anak muda yang kreatif dan inovatif. Sebut saja mereka yang melek terhadap teknologi di tengah keterbatasan, di wajah sumringah generasi muda sedang mengeksplorasi ide dan gagasan mengisi ruang publik atas nama anak Flores Timur.

Di Pulau Flores – Larantuka, sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Flores Timur, kita lihat anak muda sedang menggandrungi dialektika dengan mengedepankan diskusi soal isu nasional. Sesekali merasakan perihnya kehidupan masa kini, tetapi raut wajah harapan akan perubahan terlihat jelas di wajah kaum milineal. Diskusi yang menjadi makanan yang bergizi bagi tokoh hebat pendiri bangsa ini, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, semua pokok pikiran itu sudah dengan pesat terlihat jelas di ruang diskusi anak muda Flores Timur.

Merangkai imajinasi hebat yang dimiliki anak muda Flores Timur tidak lagi dianggap sepele. Ide tentang perubahan dan perbaikan Flores Timur tidak lagi hanya sebagai obrolan ruang hampa. Imajinasi yang dulu terkungkung oleh keadaan dan zaman, kini tempias dan memuncah seakan sebagai energi baru yang kian lama terpendam. Kaum muda kreatif yang dimiliki Flores Timur senantiasa menjadi kekayaan yang tidak ternilai. Ketika Nelson Mandela menggerakkan tokoh muda di negara yang dulunya pesimis akan keadaan, menjadi negara inspiratif dan membuat dunia terbelalak. Apa yang di lakukan Nelson Mandela sebagai presiden Afrika Selatan yang mengerakan anti rasial. Tokoh Revolusioner yang layak ditiru. Tokoh berkulit hitam berrambut keriting seperti potret masyarakat Flores Timur. Tidak ada yang menyangka, tetapi itulah gerakan bersama dalam mewujudkan perubahan yang lebih baik, butuh nalar progresif inovatif.

Lantas, apa yang harus dilakukan dalam mendorong perbaikan dan perubahan untuk Flores Timur?

Indeks Pembangunan Manusia Flores Timur berada di Posisi ke 8 dari 22 kabupaten kota se Nusa Tenggara Timur (NTT). Tetapi di bandingkan dengan Provinsi yang lain, NTT paling buncit ke 3 dari Provinsi Papua Barat dan Papua. Kita tentu harus berlari kencang mengejar ketertinggalan. Apakah kita bisa dan mampu mengejar ketertinggalan? Kita Bisa dan Kita Mampu. Bagaimana polanya?

Jika kita mengacu kepada teori perilaku maka ada tiga bagian penting yang menjadi perhatian, yaitu; Pengetahuan (Knowledge), Perilaku (Attitude) dan Tindakan (Practice). Pengetahuan menjadi dasar bagi perubahan dan perbaikan. Secara simultan, semakin banyak hal baik yang mengisi ruang pemikiran, maka semakin baik perilakunya. Selanjutnya, perilaku menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan pengetahuan itu. Potret perilaku menjadi gambaran bagi setiap orang dalam mengejawantahkan kebaikan yang menjadi sumber perubahan. Sebagai upaya pembuktian pengetahuan dan perilaku, wujud implementasinya adalah dengan tindakan. Pengetahuan menjadi tidak sesuai dan tidak bermakna manakala tindakan tidak mengiringi pengetahuan itu.

Hal yang menjadi penting dalam mendorong perbaikan dan perubahan yang kita inginkan seperti daerah lain, kita harus melihat secara lebih detail. Sebut saja yang paling kreatif dalam banyak sektor, kita lihat Kabupaten Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Selain paling banyak masyarakatnya secara kuantitatif, Jawa Barat juga memiliki anak muda yang kreatif dan inovatif. Berjibaku dan tenggelam menyibukkan diri dengan hal krearif yang kemudian dikonfersi menjadi kebanggaan yang melahirkan kemandirian secara ekonomi. Bagaimana dengan Flores Timur?. Secara kuantitas Flores Timur memiliki anak muda produktif rentang umur 14 sampai dengan 19 tahun adalah yang paling banyak. Jika usia produktif ini kemudian digerakkan menjadi juru bicara dan juru perubahan bagi Flores Timur, ini akan berbeda ceritanya.

Anak milineal kreatif yang bergerak sendiri di ruang sepi hanya akan menjadi lelucon bagi temannya, tetapi jika dikumpulkan menjadi satu dan kesatuan lalu meneriakkan kalimat Flores Timur, akan menggelegarkan jagad nusantara dengan gerakan jari menekankan tombol dalam media sosialnya. Perubahan bukan hal mudah dalam mewujudkan mimpi besar bagi perbaikan Flores Timur, tetapi imajinasi kita memaksa kita untuk lebih baik lagi dalam menerangkan mimpi besar kita untuk Flores Timur yang lebih baik. Jika kita berkehendak dan berkeyakinan kuat untuk perubahan itu, maka pasti ada Jalan lain bagi kita untuk mewujudkannya, yaitu Jalan Baru Flores Timur.

 

(Penulis adalah Tenaga Ahli Badan Sosialisasi MPR RI)

Komentar

Jangan Lewatkan