oleh

Bias Politik Bagi Warga Diaspora NTT

-Opini-415 views

Oleh :Tarsy Asmat MSF

NTT sebagai daerah penyuplai tenaga kerja di banyak perusahan perkebunan dan juga tambang di Kalimantan. Jumlah mereka tidak sedikit. Namun acap kali sistem outsourching di perusahan membuat nasib mereka seringkali tragis. Tenaga mereka terkuras menyokong perusahan, namun jaminan masa depan mereka kurang terjamin.

Begitu juga dalam ranah politik. Seringkali dalam kontestasi politik di tanah rantau, orang diaspora NTT dihadapkan dalam berbagai dilema dan perdebatan posisi politik. Ini menjadi persoalan karena sering kali dalam berpolitik, identitas kultural, agama dan sebagainya dijadikan kendaraan untuk mendapatkan kekuasaan.

Watak politik di Indonesia masih seperti yang dikatakan Machiavelli, politik hanyalah perebutan kekuasaan semata, apapun caranya. Perpsektif Machiavellian ini membuat politik seringkali tak mengindahkan nilai dan moralitas. Politik tidak lagi bagaimana membangun peradaban, tetapi bagaimana dan dengan cara apa saya mendapat kekuasaan. Itulah sebabnya yang menjadi politikus di Indonesia harus berduit milirian rupiah.  Rupiah mendapatkan kuasa dan kuasa menjaga dan mendulang rupiah. Tak punya banyak rupiah tak bisa menjadi pemain politik.

Mengamati perantau NTT di Kalimantan,  meskipun bisa diperdebatkan karena tanpa penyelidikan ilmiah, saya mencoba menulis persoalan yang dihadapi oleh orang dari NTT di Kalimantan atau juga di daerah lain di luar NTT.

Berbagai persoalan yang dapat dirumuskan ialah kelompok diaspora NTT kurang terakomodir dalam kebijakan pemerintah setempat, meskipun konstituen politiknya (para wajib pilih) cukup banyak dan diperhitungkan dalam perhelatan politik di daerah dimana mereka bekerja dan menetap.

Kedua, ketidakmampuan orang diaspora NTT membangun jaringan politik karena ego etnik, persoalan administrasi, kurang berjalannya organisasi, dan tidak adanya bentuk komunikasi politik yang bisa menjembatani antara aspirasi dan kehendak berpolitik.

Kebingungan

Orang diaspora NTT berada diantara dua kebingungan ini, termarginal dari kebijakan, tetapi tidak memiliki modal yang kuat membangun kekuatan politik dan ambil bagian dalam menentukan kebijakan politik secara langsung.

Akibat dari ketegangan dan dilema ini memicu ketegangan ke dalam (internal) warga diaspora NTT sendiri. Sehingga masing-masing mencari jalan, tanpa mempedulikan tangisan termarginalnya kelompok perantau yang jumlahnya cukup banyak.

Selain itu, karena termarginal biasanya rentan diperalat oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan kemenangan dalam kontestasi politik. Dengan acaman PHK dari tempat kerja,  alasan primordial putra daerah dan non putra daerah semakin membuat lutut bergetar dan terkocar-kacir sehingga akhirnya pasrah dengan keadaan.

Padahal orang NTT akan berbusa-busa bila bercengkrama atau berdiskusi tentang politik. Semua kepala memiliki teori dan jalan politik sendiri-sendiri. Namun fatalnya diskusi-diskusi itu tidak mampu menghasilkan kesepakatan dan visi bersama untuk terlibat langsung mengambil kebijakan.

Oleh karena itu, orang diaspora NTT harus melepas egoisme suku, kelompok dan duduk bersama, menyusun strategi dan membangun komunikasi politik ke dalam yang lebih baik. Flobamora jangan sekedar nama tetapi dihayati.

Membangun Sistem

Membangun organisasi untuk memperjuangkan hak sebagai warga negara dalam berpolitik adalah sah-sah saja.  Jangan takut. Tetapi yang paling utama juga adalah komunikasi dan diplomasi ke dalam dan keluar organisasi. Tidak untuk menguasai sesama atau unjuk kekuatan, tetapi memperjuangkan Hak politik dan hak warga negara dan hak dari kebijakan politik.

Perlu juga menyiapkan dan mempersiapkan tokoh yang mampu berperan seperti itu.  Untuk menyiapkan tokoh-tokoh tersebut maka dalam struktur organisasi perlu namanya meritokrasi.

Apa itu meritokrasi?  Meritokrasi adalah sistem pengkaderan berdasarkan keunggulan, integritas dan kemampuan untuk mengemban tanggungjawab dan amanah.

Jika tidak membenah diri, melucut ego sektoral seperti identitas daerah, suku, bahasa, kampung dsbnya, maka sampai kapanpun diaspora NTT hanya berbusa-busa mulut berbicara politik dan selalu termarginal dari kebijakan politik.

Mari membangun sistem yang baik, komunikasi yang baik, diplomasi yang baik dan tak lupa etos kerja yang tinggi. Sebab daging dari politik adalah ekonomi, jaringan dan komunikasi.

Komentar

Jangan Lewatkan