oleh

Corona Merajalela, Pemerintah Wajib Berikan Insentif Kepada Pekerja Garis Terdepan

-Opini-903 views

Oleh : Irma Suryani Chaniago

Per hari ini 21 Maret 2019 kasus Covid-19 berjumlah 450 orang, meninggal 38 orang dan yang sembuh 20 orang. Artinya dari 450 orang yang terinfeksi ada 8,4% yang meninggal dan hanya 4,4% yang sembuh.

Penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dari mulai Close Down di beberapa Provinsi sampai dengan kebijakan meliburkan semua sekolah dan program work from home sudah merupakan tindakan tepat dalam menangani penyebaran virus di negara kepulauan seperti Indonesia. Tentu saja penanganan tiap negara akan berbeda, satu dengan yang lain dan yang dilakukan Indonesia sebenarnya sudah tepat, namun karakter dan kebiasaan banyak orang Indonesia yang tidak peduli terhadap kesehatan diri sendiri apa lagi dengan kesehatan orang lain dengan tidak mengindahkan himbauan pemerintah untuk tidak berkumpul di area area publik (mall, tempat rekreasi, tempat ibadah, dll) mengakibatkan penyebaran virus ini menjadi tidak terkontrol.

Pemerintah dalam hal ini Presiden telah mengambil langkah-langkah antisipasi yang baik dengan membentuk BNPB yang berkoordinasi dengan Kementerian terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kominfo, Pendidikan dan lain-lain.

Menkominfo sudah memperlihatkan kinerja positifnya dengan informasi-informasi yang disampaikan pada publik tentang bagaimana publik harus bersikap dan mencari pertolongan.

Kementerian Pendidikan, alhamdulilah cepat tanggap dengan program belajar work from home, hanya saja yang tampak gagap dan kedodoran adalah Kemenetrian Pariwisata dan Kemenhub yang telat mengambil langkah, Kementerian Pariwisata telat menghentikan masuknya turis-turis ke Provinsi-provinsi kunjungan wisata. Begitu juga Kemenhub yang tidak tegas dalam koordinasi dengan imigrasi, Angkasa Pura dan ASDP dengan tidak menutup bandara dari penerbangan luar negeri dan imigrasi tidak melakukan pemeriksaan dan inventarisasi intensif pada turis-turis asing yang masuk, begitu pula ASDP.

“Namun, apapun yang sudah terlewat, tentu tidak perlu lagi diperdebatkan, kita hanya bisa menjadikan semua itu  pelajaran berharga agar ke depan selain perlu the righ man in the righ place kita juga wajib untuk tidak menganggap enteng kasus pandemi”.

Pelajaran terbesar bangsa ini adalah reformasi yang kebablasan dan sikap masa bodoh yang berlebihan baik pada lingkungan maupun pada kesehatan.

Ketidakpedulian pada kesehatan publik dapat dilihat dari besarnya defisit anggaran BPJS (terlalu banyak yang sakit) dan ketidakpedulian pada lingkungan dapat dilihat dari maraknya demo-demo setiap hari yang faktanya mengakibatkan ketidak kondusifan dunia usaha dengan hengkangnya banyak industri besar ke Vietnam dan China. Begitu pula ketidakpedulian pada regulasi dengan pelanggaran-pelanggaran lalu lintas (se-enaknya melanggar jalur satu arah) parkir se enaknya, dan lain lain.

Semua tindakan pencegahan dan pengobatan atau pemulihan sedang dilakukan, tetapi ada satu yang WAJIB dan harus dilakukan oleh Kemenkeu dan Kemenaker, sudah berjanji akan memberikan stimulus anggaran bansos untuk kesehatan, namun Kemenaker tampaknya belum mengeluarkan kebijakan ketahanan keluarga dengan memberikan insentif tambahan kepada para pekerja di garis depan penanggulangan virus dan para pekerja lapangan di garis depan yang tidak bisa menghindar dari pekerjaannya karena tidak bisa dilakukan dari rumah. Disinilah Menaker diuji ketegasannya pada perusahaan perusahaan tersebut untuk menyisihkan anggaran CSR masing-masing sebagai dana insentif bagi mereka yang bekerja dengan resiko tinggi terpapar virus corona.

Sebagai aktivis Buruh, “saya mengimbau kepada Pemerintah cq. Kemenaker untuk segera hadir dengan kepeduliannya pada pekerja garis depan dengan ketegasan dan sanksi pada perusahaan yang tidak memiliki kepedulian pada bangsa dan negara”.

Pada Kemenkes, saya minta paramedis dilengkapi alat pelindung diri yang maksimal dan harus dapat insentif, karena mereka bertarung nyawa demi nyawa orang lain.

“Mereka rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan nyawa oramg lain”.

 

(Penulis adalah Ketua DPP Gemuruh Partai NasDem)

Komentar

Jangan Lewatkan