oleh

Covid-19, Biomedis dan Kebijakan Jokowi

-Opini-1.084 views

Oleh : Agustinus Viki

Sebetulnya kita tidak takut dengan SARS-CoV-2 atau Covid 19. Yang kita takuti adalah histeria masal, dari publik tak cerdas dan informasi pakar yang tidak sistematis dan menakutkan. Seakan-akan patogen ini dengan sendirinya bisa membunuh kehidupan kita. Meski belum tersedia obat pamungkas, penanganan medis terbukti bisa menyembuhkan pasien terinfeksi dengan kombinasi kloroquin, hidrokloloquin dan juga belakangan obat antivirus remdesivir. Untuk yang sehat, sistem imun tubuh adalah pertahanan terbaik.

Tentang hal ini, kita perlu mendengar peringatan keras para pakar epidemologi. Bahwa tanggapan kita, berupa tindakan medis yang ceroboh dan respon kebijakan yang abai akar masalah, bisa lebih mematikan dari infeksi dan penularan virus itu sendiri. Publik yang cerdas, biomedis yang cekatan dan tata kelola kebijakan multi-sektoral cegah pandemi menjadi tiga kunci sukses penanganan pandemi. Tidak sambung antara tiga prinsip ini adalah akar masalah di balik pandemi berkepanjangan.

Terbatasnya Pengetahuan Biomedis

Sampai hari ini, bisa diduga histeria masal, gangguan mental serius itu, disebabkan oleh ketidaktahuan atau keterbatasan
informasi-pengetahuan mengenai virus (virologi), sistem imun tubuh (imunologi) dan cara penularannya (epidemologi). Tiga pengetahuan dasar tentang sehat dan sakit, sekian lama dijauhkan dari ruang publik dan pendidikan dasar sampai menengah atas, tidak kita pelajari lagi dengan bertambahnya usia atau karena dikarantina menjadi urusan medis dan monopoli tentakel bisnis penyakit dan obat-obatan.

Momen pandemi ini menjadi momentum penting untuk belajar kembali apa itu sehat, sakit dan relasi saling membentuk antara keduanya. Dalam ilmu kesehatan atau kedokteran umum, disebut biomedis, sakit dan penyakit adalah salah satu bagian dari kesehatan. Terpenting adalah kesehatan, yang bekerja secara alamiah melalui tubuh kita. Vaksin dan obat hanya suplemen, material tambahan dari luar tubuh untuk memperkuat sistem kekebalan alamiah dan kekebalan adaptif melawan virus, parasit, bakteria dan jamur yang menimbulkan berbagai penyakit kronis.

Kendati demikian, harus diakui bahwa sekian lama telah berlangsung pertarungan di antara tradisi biomedis dengan tekanan pada pola hidup sehat dan tradisi yang memusatkan perhatian pada penyakit dan obat. Perhatian pada aspek medis menjadi dominan dan aspek pola hidup sehat kurang diperhatikan. Hal ini bisa dimaklumi karena biomedis berada dalam tarik menarik antara produksi pengetahuan, industri-bisnis kesehatan dan kebutuhan kebijakan. Ini berlaku untuk semua cabang ilmu, dari filsafat, ekonomi, sosiologi, ilmu politik sampai psikologi dan psikoterapi.

Covid-19, Penyakit dan Kekebalan Tubuh

Di dalam biomedis terdapat suatu postulat yang tak terbantahkan. Bahwa semua penyakit, termasuk pnemonia yang ditimbulkan infeksi Covid 19, berkaitan langsung dengan kondisi dan kapasitas sistem kekebalan tubuh kita. Virus ini sedang menguji sistem deteksi sel terhadap patogen dan sialnya, virus ini belum terdeteksi, belum terekam dalam memori sel dan dengan itu, belum bisa teratasi dengan cepat oleh antibodi kita.

Apalagi kalau tubuh kita lagi menderita penyakit kronis yang berhubungan dengan organ-organ tubuh vital seperti hati, ginjal, jantung dan pembuluh darah/arteri. Covid 19 rentan menimbulkan infeksi cepat dan mematikan bagi penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), hepatitis (liver), tuberkolosis (paru-paru), diabetes (gula darah), pnemonia (paru-paru basah), dan kolesterol.

Semua penyakit kronis tersebut berhubungan dengan sistem imun tubuh yang bekerja melalui darah dan sel-sel tubuh kita. Sama halnya dengan menjelaskan mengapa kita menderita penyakit kronis, covid 19 memperlihatkan kembali hubungan saling pengaruh antara kerja 13 sistem anatomi tubuh manusia, khususnya pernapasan, pencernaan, peredaran darah, endoktrin, limpatik dan sistem ekskresi.

Beruntung jika tubuh kita sehat tanpa ada penyakit kronis. Kendati sulit bagi sistem imun, upaya antibodi bisa lebih terpusat mendeteksi dan berusaha menghadang replikasi virus pada paru-paru atas dan bawah. Cara kerjanya sama seperti virus influenza, hanya lebih ganas dan antibodi kita belum bisa membedakan dengan cepat ini lawan atau kawan.

Di sini mutu darah kita menjadi penentu. Sel darah merah yg bekerja dengan baik alirkan oksigen dan karbondioksida berkorelasi dengan kerja sel darah putih atau lekosit untuk mengatasi infeksi virus secara perlahan-lahan. Sayangnya, sampai saat ini, para pakar biomedis belum sepakat, apakah jenis golongan darah berpengaruh terhadap tinggi atau rendah kemampuan imun sel terhadal infeksi covid. Diduga saja, golongan darah A, B, dan AB lebih rentan terhadap infeksi karena memiliki antigen yang mudah mengikat virus ke dalam sel, dibanding golongan darah O tanpa antigen.

Pentingnya mengetahui kondisi penyakit kronis dan kapasitas golongan darah kita sangat menentukan seberapa jauh kita mudah atau sulit terpapar infeksi virus baru ini. Tentu tindakan medis penanganan terhadap pasien dengan gejala ringan dan gejala berat, menjadikan hal ini sebagai dasar pertimbangan dibuatnya tindakan pengobatan dan perawatan pasien Covid. Diagnosis yang tepat bisa menyelamatkan hidup, tetapi diagnosis ceroboh dan tindakan yg keliru bisa mempercepat gagal pernafasan dan matinya organ-organ tubuh vital penunjang perlawanan terhadap infeksi akut ini.

Demikian kita saksikan suasana haru dan galau dialami dokter dan petugas kesehatan, mengurus sekian banyak pasien dengan komplikasi penyakit berbeda-beda dan menurunnya kapasitas imun tubuh pasien lansia. Dokter dan petugas medis bekerja di tengah keterbatasan obat seperti kloroquin dan avigan, tidak memadainya jumlah ventilator, dan alat kesehatan lain yang sangat dibutuhkan. Belum lagi mereka mengalami kelelahan fisik dan mental, tidak dilengkapi APD yang memadai, atau juga sedang menderita penyakit kronis, yang membuat mereka rentan terpapar infeksi dalam ruangan yang dikuasai virus dari pasien kritis.

Sejauh ini tindakan medis yang gagal atau keliru menuju kematian pasien menjadi misteri publik, sementara rekaman tindakan medis yang berhasil menyelamatkan pasien dikabarkan melalui berbagai media. Ini tantangan baru bagi kedokteran selama dan pasca pandemi, mengembangkan pola penanganan yang baku, terukur dan efektif di masa depan, sambil menanti obat-obat anti-covid dan vaksin diproduksi setahun lagi. Transparansi publik tindakan medis menjadi sangat penting, setidaknya bagi keluarga dan kerabat pasien yang tak terselamatkan.

Vaksin dan Epidemi Covid-19

Vaksin anti-covid yang sedang dibuat dan dinantikan, bukan hal terpenting. Karena tujuan kita disuntik vaksin bukan untuk membunuh virus atau bakteri tetapi untuk memicu produksi antibodi oleh sistem imun tubuh kita sendiri. Vaksin berisi inti virus/RNA yang dilemahkan-terkontrol, yang dimasukan ke dalam darah agar sel-sel tubuh kita mulai bisa mendeteksi, merekam dan menyerang virus ini di masa depan, bagi semua golongan usia belum terinfeksi, khususnya balita. Ini berlaku untuk semua jenis vaksinasi seperti BCG, Polio, Influenza dan Hepatitis A/B.

Pembicaraan publik mengenai vaksin dan antiviral sebetulnya bukan hanya soal teknis medis tetapi berdampak pada pilihan kebijakan penanganan dan pencegahan dengan segala konsekuensi ekonomi, sosial-politik dan kemanan sebagaimana melanda berbagai negara saat ini. Kisruh politik di setiap negara terdampak bercerita tentang pilihan pendekatan, kapan dan berapa lama pendekatan itu diterapkan.

Kisruh itu pun tak terpisahkan dari perdebatan di kalangan pakar virus, pakar imun dan pakar epidemi, sembari sambil lalu menengok instruksi WHO yang kian diperlemah dari dalam maupun dari pertarungan Cina dan AS. Kurang lebih, untuk mengatasi penularan kita harus mengandalkan isolasi-lockdown atau menerapkan herd immunity. Atau kombinasi keduanya tergantung pada hasil massive-rapid tes pada populasi di wilayah tertentu. Demikian debat itu menegaskan bahwa berakhirnya epidemi di Wuhan, misalnya, bisa disebabkan lockdown atau justru karena herd immunity yang sudah berlangsung sebelum lockdown dimulai.

Pendekatan isolasi, pembatasan berskala besar sampai lockdown datang dari tradisi berpikir vaksin dan antiviral. Bahwa virus ini mematikan, belum ada obat dan vaksin. Orang sakit harus dipisahkan dari yang sehat. Yang sakit segera ditangani medis sementara yang belum terpapar bersembunyi di rumah dan lingkungan yang sehat. Ibarat perang, musuh berkeliaran, tubuh-tubuh tanpa pertahanan (nir-vaksin) diselamatkan ke luar kota dan rumah sakit menjadi arena perang antara virus dan obat-obatan. Pendekatan ini menyelamatkan kehidupan saat ini, tapi tidak memberi kekebalan tubuh ketika epidemi gelombang kedua tiba lebih cepat dari produksi vaksin.

Di lain pihak, pendekatan herd immunity percaya pada sistem imun tubuh manusia. Manusia sehat tanpa penyakit kronis, dewasa dan remaja, harus menjadi pasukan penghadang penularan ketika jumlah yang terinfeksi masih sangat terbatas dibandingkan populasi sehat di wilayah tersebut. Tujuannya, selain menghentikan penularan sebatas pada mereka terinfeksi, juga untuk memastikan sistem imun tubuh langsung mengenali virus ini, merekam dan memproduksi antibodi anti-covid secara alamiah. Ini percobaan beresiko karena tak pasti berapa banyak orang sehat dan penderita penyakit kronis dalam masyarakat. Tetapi bisa menghasilkan kekebalan masyarakat menghadang epidemi covid gelombang berikutnya sebelum vaksin diberlakukan.

Pangan, Makanan dan Pola Hidup

Di atas semuanya, dua tradisi dalam biomedis termasuk dua pendekatan epidemi di atas, kembali kepada pentingnya makanan dan pola hidup. Sistem imun tubuh kita harus bertenaga, segar dan cerdas mengatasi infeksi covid pada paru-paru. Rantai pemeriksaan berlangsung, bagaimana kerja liver/hati, pangkreas, usus halus, lambung dan akhirnya kembali kepada yang paling pokok, apa yang kita makan, minum, dan hirup.

Untuk kita yang sehat alias belum terpapar, memperkuat sistem imun tubuh dengan makanan bergizi tinggi untuk membantu kerja usus halus memproduksi protein, karbohidrat dan lemak sebelum disempurnakan dan diatur melalui hati, dan dikirim melalui 4-6 liter darah dalam tubuh manusia dewasa. Selain itu tak kalah penting istirahat yang cukup agar keseluruhan proses metabolisme berjalan lancar memproduksi antibodi dalam sel-sel tubuh.

Dengan demikian, stay at home bukan berarti sembunyi dari sergapan penularan melainkan kesempatan memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan asupan nustrisi dan vitamin melalui makanan dan minuman sehat. Termasuk mengurangi rokok dan konsumsi miras yang merusak kerja hati dan paru-paru. Hal ini penting karena boleh jadi kita sudah terpapar namun karena antibodi alamiah dan antibodi adaptif dalam tubuh kita sudah mendeteksi dan sedang melawan infeksi virus ini.

Konsekuensi Kebijakan

Semoga dengan pengetahuan dasar tentang virus, sistem kekebalan tubuh dan epidemi covid 19, kita bisa mulai membahas dan mempelajari kebijakan 405,1 triliun yang ditetapkan Jokowi. Kita bisa lebih mudah memeriksa turunan kebijakan cegah pandemi di sektor kesehatan 75 triliun dan sektor fiskal dan sektor moneter. Apakah benar, seperti kata Jokowi, pemerintah tak boleh bekerja dengan pola business as usual, atau justru sebaliknya, birokrasi pusat sampai daerah semakin menormalkan cara kerja yang keliru, business as extraordinarily usual.

Dari sana bisa terungkap, efektif atau tidaknya program-program cegah pandemi dan atasi dampak sosial-ekonomi. Seberapa jauh kebijakan medis (rumah sakit, obat, SDM petugas medis, alkes, laboratorium, dan riset medis) dihubungkan dengan sektor pendidikan (pengajaran pola hidup sehat, penelitian resiko sosial-ekonomi pandemi), dan terpenting sektor pertanian, perkebunan, perikanan yang membuat kita hidup sebagai warga negara bertubuh sehat dan cerdas. Juga tak kalah penting, seberapa jauh pandemi ini menjadi bahan belajar cepat di kalangan politisi dan birokrat untuk keluar dari virus berpikir sektoral menuju sistem berpikir kebijakan lintas sektoral.

Jika tidak dipelajari dan diawasi, tambahan anggaran 405, 1 triliun menjadi insentif kejahatan baru oligarki industri kesehatan, oligarki perekonomian khususnya eksportir-importir pangan, yang sudah lama menggerogoti Indonesia tercinta, dari pusat sampai daerah. Ini jauh lebih penting dan mulia daripada mempersetankan orang-orang kecil yang memilih menjadi kriminal demi kelangsungan hidup keluarganya akibat kebijakan isolasi dan PSPB pemerintah.

Indonesia bisa memanfaatkan momentum persatuan politik 2019 dalam pemerintahan sebagai kekuatan nasional penanganan dan pencegahan Covid 19 pada 2020. Bandingkan dengan pengalaman Amerika Serikat terkini, politisasi dua kubu parpol dan dua jenjang pemerintah terhadap pandemi berdampak pada krisis legitimasi pemerintah dan lambannya penanganan darurat medis. Akibatnya fatal, yang terpapar sebanyak 708.297 sementara angka kematian mencapai 36.959 jiwa.

Kendati demikian, dengan jumlah 5.516 terpapar Covid 19 dan 496 jiwa meninggal dunia (17/4), memberi sinyal kuat untuk akselerasi tanggap darurat. Demikian juga, pemerintah pusat dan daerah sebaiknya selalu terbuka terhadap saran dan kritikan dari berbagai kelompok masyarakat yang saat ini memikul beban ekonomi dan masalah sosial akibat kebijakan pencegahan.

 

Penulis adalah Dosen FISIPOL UGM Yogyakarta

Komentar

Jangan Lewatkan