oleh

Covid-19 dan Tuntutan Pendidikan Abad 21

-Opini-659 views

Oleh: Alex Andiwatir

Wabah Covid-19 yang melanda seluruh negeri, mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan berdoa di rumah. Karena itu, teknologi digital adalah alternatif pilihan sebagai media untuk bertemu. Namun, alternatif ini hanya berlaku di daerah yang tersedia fasilitas serta sumber daya manusia yang terlatih. Dan menjadi momok besar (penghambat) bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas seperti Laptop/Komputer, tidak ada jaringan internet, belum ada akses listrik, dan kurang siapnya mutu sumber daya manusia.

Kebijakan ini implisit mengafirmasikan agar revolusi sistem pendidikan Indonesia harus segera dimulai. Pembangunan Nasional yang tidak merata serta perbedaan kesempatan untuk mengakses media adalah satu-satunya alasan agar revolusi ini digaungkan. Karena dengan demikian pemerintah melalui Kemendikbud dapat membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam menggagas pendidikan modern sebagai aktivitas yang hadir di mana-mana, dan dapat diakses dan dinikmati oleh setiap peserta didik di tanah air yang berkiblat pada pengembangan IPTEK dan teknologi digital (Gates, 1996).

Untuk itu, pengembangan mutu sumber daya manusia dan pembangunan nasional tidak bisa ditawar, tetapi harus segera disesuaikan, sehingga tersedia fasilitas (sarana pendukung) dan mutu sumber daya manusia yang terlatih.

Penyesuaian mutu sumber daya manusia ini menjawabi tuntutan masyarakat global pada abad 21 yaitu bahwa setiap manusia harus memiliki keterampilan untuk berpikir kritis, kreatif, fleksibel, terbuka, inovatif, tangkas (dexterity), kompetitif, peka terhadap masalah, menguasai informasi, mampu bekerja dalam tim (team work) serta keterampilan untuk hidup (life skills) (Semiawan, 1998).

Soft Skill dan Pembelajaran Kontekstual

Ketika teknologi untuk memperoleh dan menyebarkan pengetahuan menembus rumah, tempat kerja dan tempat-tempat lainnya, para pendidik pada abad 21 seharusnya tidak terperangkap dengan pola konvensional yang hanya mementingkan ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi harus mengarahkan murid-murid menjadi manusia utuh dengan memenuhi aspek intelektualitas, keterampilan, kepribadian, dan kepekaan sosial.

Model pembelajaran pada pendidikan tingkat dasar saat ini tidak cukup hanya dibekali dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung atau “Tree Rs” (reading, writting, arithmetic), tetapi juga harus dibekali dengan kompetensi masyarakat global, yaitu komunikasi, kreatif, berpikir kritis, dan kolaborasi atau “Four Cs”(communicators, creators, critical thingkers, and collaborators) (NEA, 2012).

Wabah Covid-19 telah memberikan sebuah situasi pembelajaran baru yang berlangsung di “sekolah elektronik” sekolah tanpa tembok. Situasi sekolah ini memberikan sebuah tantangan baru yang harus dihadapi oleh setiap pendidik yaitu mengintegrasikan fungsi sosial dalam jaringan pembelajaran (Colin Rose & Malcolm J. Nicholl, 2002).

Inilah saatnya. Peserta didik harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan soft skill mereka melalui aktivitas reading and writing, jurnalistik, problem solving, communication skill, penemuan diri dan gender.

Siswa tidak harus terpaku dengan materi yang ada pada buku-buku pelajaran.  Peserta didik dilatih agar memiliki kemampuan untuk melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengomunikasikan (mempresentasikan) kembali apa yang telah diperoleh selama proses pembelajaran atau pengalaman mereka selama masa karatina.

Kesempatan ini diberikan dengan tujuan untuk mengeksplore kemampuan peserta didik, sekaligus mengembangkannya sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Harapan ini akan terwujud jika pendidik mampu mendesain pembelajaran selama masa belajar di rumah dengan model pembelajaran kontekstual, untuk menggali dan menemukan potensi serta kreativitas peserta didik. Proses pembelajaran harus berpusat pada siswa (student center) dengan acuan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skill (HOTS) (Anwar, 2014; Kemendikbud, 2016).

Kreativitas

Prasyarat utama lahirnya kreativitas adalah kebebasan berpikir untuk merangsang tumbuh dan berkembangannya daya pikir peserta didik. Peserta didik akan berani  bertanya, beropini, dan berinisiatif yang menggambarkan keunikan ekspresi dari masing-masing individu, jika suasana pembelajaran mengizinkannya.

Pengalaman pembelajaran demikian akan memberikan inspirasi dan motivasi bagi peserta didik untuk berpikir kritis, logis, tahu sebab akibat, Sistematis dan kritis, mampu membandingkan, membedakan, menganalisa dan mengambil kesimpulan, sehingga hakikat pendidikan sebagai learn to think, learn to read, learn to write, learn how to learn, dan learn to create dapat tercapai.

Pola dan oreintasi pendidikan yang cenderung feodal dan konvensional, yang menekankan pada hafalan dan keseragaman, akan melumpuhkan kemampuan daya pikir siswa. Akibatnya, manusia generasi konvensional ini gampang terjebak dalam rutinitas atau pola tertentu dan jika berbentur dengan suatu masalah langsung tidak berdaya, karena tidak terbiasa mencari alternatif lain. Maka tidak heran dengan karakter-kareakter yang sering kita jumpai di lapangan seperti yes man, bisu, pasif, tidak berani melawan arus, gampang frustasi, cepat tersinggung, takut berbuat salah dan disalahkan serta mau cari aman.

Pendidikan yang memberikan penghargaan pada kepatuhan dan keseragaman, adalah pendidikan yang menghadirkan suasana gulita dan terkesan mencekam. Jika ada yang berbeda dari pola tertentu, dengan gampang sekali akan diberi label sebagai perilaku menyimpang dan disalahkan. Ekspersi individu amat tidak dihargai. Imbasnya adalah orang sering tidak berani berbeda, takut mencoba hal-hal baru, mudah khwatir atau cemas dalam menghadapi rintangan, tidak berani bertanggung jawab atas perbuatannya karena tidak terlatih untuk tampil sebagai individu (dengan menunjukkan inilah saya). Berbuat salah adalah akhir dari segalanya.

Sebaliknya orang yang kreatif tidak pernah takut menghadapi masalah karena mempunyai segudang alternatif. Dengan sigap bisa memecahkan masalah, tidak pernah punya momok untuk berbuat kesalahan, karena dari kesalahan lahir ide baru yang lebih segar dan lebih baik. Proses dalam hidup tidak pernah mandeg, karena selalu berpikir apa lagi yang bisa saya lakukan? Ia berani mempertanggung jawabkan perbuatannya karea ia yakin kalau pun ia dianggap gagal atau berbuat kesalahan, itu bukan akhir dari segalanya.

 

Penulis adalah Pimpinan Taruna Akademia, Lembaga Layanan Pelatihan dan Bimbingan Belajar Persiapan Masuk TNI/Polri/Sekolah Kedinasan, Pembinaan Kerohanian, Leadership Training & Psikotes Pendidikan

Komentar

Jangan Lewatkan