oleh

Covid-19 di NTT dan Ketakutan Psikologis Masyarakat

-Opini-4.505 views

Oleh : Alex Andiwatir

Penularan Covid-19 yang melanda seluruh dunia yang disajikan setiap hari melalui media cetak, elekrtonik, maupun online ternyata memberi dampak besar dalam seluruh aspek kehidupan baik pertumbuhan ekonomi, sistem kerja, transportasi, dan dampak psikososial terhadap seluruh warga masyarakat.

Sajian berita-berita ini membawa angin segar untuk memberi kekuatan dan peneguhan kepada masyarakat tentang keseriusan pemerintah pusat dan daerah dalam menangani pemutusan mata rantai pandemic global ini. Langkah strategis berupa kebijakan social distancing, physical distancing dan saat ini dengan kebijakan baru yaitu PSBB, membawa konsekuensi pada system kerja dengan pola baru seperti belajar dari rumah, bekerja dari rumah,dan beribadah di rumah.

Pada sisi lain penularan Covid-19 ini juga menyisakan gelisah, cemas, dan bahkan rasa takut bagi warga masyarakat, termasuk masyarakat NTT. Dalam catatan satgas Nasional Covid-19, NTT adalah provinsi yang ke-33 yang terpapar Covid-19 dengan diumumkannya pasien 01 oleh juru bicara satgas Nasional Covid-19 Achmad Yurianto (9/4/2020) . Situasi ini memantik warga menjadi cemas dan takut apabila suatu saat terjadi penularan dan makin banyak yang terinfeksi. Keresahan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena kejamnya virus ini dalam merenggut nyawa manusia.

Kaplan and Sadock, (2012) mengutarakan bahwa perasaan yang ditandai dengan rasa takut, tidak menyenangkan dan samar-samar adalah tanda-tanda orang yang sedang dalam situasi cemas. Warga masyarakat cemas, akan jumlah kematian akibat wabah ini yang semakin hari semakin meningkat, dan hingga saat ini belum ditemukan antivirus sebagai penangkal. Angka kematian sudah mencapai 154.734 orang perhari ini (bdk. Kompas.com, 18/4/2020). David DeStenao (2020) seorang ahli psikologi di Northeastern University, yang dikutip oleh Sapora Sipon (2020) Profesor (Psikologi Konseling) Universitas Sains Islam Malaysia, menyatakan bahwa angka kematian yang tinggi ini telah menyebabkan kecemasan dan ketakutan di antara seluruh dunia.

Kekhawatiran dan ketakutan orang tentang risiko Covid-19 ini adalah normal. Namun, akan menjadi suatu kekhawatiran yang serius jika kecemasan yang terjadi adalah munculnya ketakutan psikologis yang ekstrem dan tidak seimbang. Ketakutan psikologis ini dikaitkan dengan kombinasi faktor emosional dan pengetahuan tentang Covid-19.

Adam Kucharski, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa banyak individu tidak bijak dalam menyaring informasi yang diperoleh terutama dari media sosial. Penyebabnya adalah ketidaktahuan kita tentang bagaimana caranya untuk mengetahui dan menyaring berita yang benar, kemudian dengan keyakinan penuh kita segera dengan cepat membagikan link berita pada media-media social.

Pengetahuan yang minim tentang Covid-19, akan membuat kita lebih mudah terpapar dengan berita palsu dan membelenggu kita dengan sikap mudah mempercayai pada setiap berita yang kita peroleh, Hal ini terkadang amat menakutkan, apabila ditambah dengan permainan psikologis yang dibangun atas dasar ilusi rasional seperti isu penutupan bandara, pelabuhan, dan pasar. Selain itu himbauan untuk jaga jarak, selalu cuci tangan, tidak bersentuhan langsung, dan pakai masker jika keluar rumah dapat menciptakan ketakutan baru (asumsi-asumsi) dalam pemikiran kita bahwa orang di sekeliling kita adalah orang yang dapat menyebarkan (pembawa) virus Covid-19.

Bentuk ketakutan psikologis lain ialah sifat prejudis dan suka menyalahkan orang lain. Hal ini dapat kita lihat pada beberapa peristiwa yang terjadi di NTT seperti menutup pintu masuk bagi warga yang datang dari luar daerah (bdk. koranNTB, 18/4/2020), penolakan terhadap pemudik (bdk. TribunBatan.id,Maumere, 17/4/2020) dan penolakan terhadap rencana pemda untuk menjadikan lokasi tertentu menjadi tempat karantina (bdk. Vivanews, 7/4/2020), serta pembullyan terhadap pasien 01 (bdk. Dawainusa.com, (13/04/2020)

Dr. Danardi, S.pKJ(K) mengatakan bahwa kecemasan ini bersifat irasional, sebab apabila kecemasan terjadi di luar kendali maka akan terjadi depresi, dapat mengganggu fisik hingga fungsi saraf otonom. Hal demikian memicu munculnya berbagai reaksi dan jika hal ini tetap ada dan dibiarkan maka, orang akan melakukan tindakan dengan pilihannya sendiri tanpa memperhatikan dampak yang terjadi.

Ketakutan psikologi ini boleh diatasi dengan sosialisasi dan edukasi tentang cara mengatasi stigma dengan tepat terhadap dampak dan bahaya serta proses penularan dan penanganan Covid-19. Karena dengan demikian, ancaman yang terjadi dapat diredam melalui pemahaman yang baik sehingga dapat mengubah pola perilaku untuk hidup bersih dan sehat, serta pandangan dan perlakuan kita terhadap orang yang positif terinfeski. Dalam situasi inilah dukungan sosial serta semangat kebersamaan menjadi salah satu harapan bagi pasien dalam proses penyembuhan dan harapan bagi masyarakat untuk segera memutus mata rantai peyebarannya.

Cara lain untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan adalah, tidak cepat-cepat mempercayai berita-berita yang beredar di media social. Akses berita yang valid dapat kita akses pada laman berita yang terkonfirmasi seperti WHO, ODC, Kemenkes atau Dinas Kesehatan terkait. Dengan informasi akurat yang diperoleh seseorang bisa menjadi terproteksi dan tidak cemas berlebihan.

Hal yang terakhir adalah tidak membiarkan rasa takut mempengaruhi pengambilan keputusan dan proses berpikir yang rasional. Jika ini terjadi, harga yang harus dibayar sangat tinggi sehingga ketakutan psikologis ini jauh lebih berbahaya daripada wabah Covid-19 itu sendiri. Pihak yang berwajib sedang giat berusaha dalam menangani Covid-19. Mereka telah memberikan diri dengan pengorbanan yang amat tinggi. Kita harus memberi mereka dukungan yang kuat dan penghargaan yang tulus ketika mereka melaksanakan tanggung jawab mereka. Mereka juga perlu menjaga diri agar tidak terinfeksi oleh virus mematikan ini, maka kita pun harus ikuti anjuran mereka dengan di rumah saja.

 

(Penulis adalah Pimpinan Taruna Akademia, Lembaga Layanan Pelatihan dan Bimbingan Belajar Persiapan Masuk TNI/Polri/Sekolah Kedinasan, Pembinaan Kerohanian, Leadership Training & Psikotes Pendidikan)

Komentar

Jangan Lewatkan