oleh

Covid-19: Polemik Pendidikan di Indonesia

-Opini-628 views

Oleh: Kanisius Bauk

Dunia manusia dan seluruh sejarah peradabannya tidak terlepas dari berbagai realitas diabolis. Realitas diabolis ini sungguh meresahkan manusia sebab eksistensinya menimbulkan penderitaan berujung kematian. Realitas diabolis ini seperti bencana alam, peperangan dan ‘pandemi’. Bencana yang paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia adalah pandemi. Pandemi yang melanda manusia seperti wabah hitam, ebola, flu spanyol dan sebagainya. Akhir-akhir ini merebak pandemi yang sangat mematikan yakni virus corona yang lazim dikenal dengan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019).

31 Desember 2019, dunia dikejutkan dengan peristiwa munculnya Covid-19 (Corona Virus Disease 2019). Virus ini pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, provinsi Hubei, China bagian tengah. Virus ini menjangkiti ribuan manusia di China yang kemudian menularkan pneumonia yang berbahaya bahkan banyak juga akhirnya meninggal dunia. Perkembangan dan penyebaran virus ini begitu cepat hingga menewaskan ribuan jiwa manusia di beberapa Negara seperti Italia, Singapura dan Indonesia sendiri yang kini tengah gencar mengatasi laju penyebaran virus tersebut.

Kompas.com 31 Mei 2020 menyampaikan informasi bahwa di Indonesia, pasien positif Covid-19 mencapai 26.473 jiwa. Jumlah yang tidak sedikit ini menandakan bahwa Indonesia masih terkurung dalam kategori zona merah. Fenomena ini semakin problematik sebab bangsa Indonesia belum memiliki strategi penanganan yang efektif lantaran belum memadainya sarana prasarana medis ditambah lagi dengan keberadaan masyarakat yang kurang disiplin mematuhi anjuran pemerintah dan protokol kesehatan. Dengan demikian jelas bahwa Indonesia masih harus berjuang lebih intensif dalam memutuskan rantai penularan Covid-19.

Mewabahnya Covid-19 di Indonesia pada umumnya dan di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada khususnya, berpengaruh pada kesehatan dan berdampak hebat pada seluruh aspek kehidupan masyarakat di berbagai pelosok. Hal ini seperti halnya aspek psikologis masyarakat yang semakin menurun dan juga aspek ekonomi yang semakin tak menentu. Realitas ini menunjukkan bahwa berkembangnya virus ini tidak hanya membawa dampak dan pengaruh yang besar terhadap dunia usaha, tetapi juga berpengaruh secara signifikan bagi dunia pendidikan.

Berhadapan dengan kondisi yang memprihatinkan ini, pemerintah dengan bijak mengeluarkan berbagai instruksi. Berbagai instruksi ini bertujuan untuk melindungi masyarakat terutama untuk peserta didik (murid, mahasisiwa) dari ancaman penularan Covid-19. Instruksi dari pemerintah itu seperti stay at home, social distancing, physical distancing, home learning dan berbagai instruksi kesehatan lainnya. Dengan demikian, instruksi pemerintah ini tentu saja punya andil yang besar dalam menjamin usaha memutuskan lajunya penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Menanggapi kondisi demikian, satuan pendidikan Indonesia mengeluarkan kebijakan bahwa pertemuan tatap muka antara guru dengan siswa ditiadakan demi melindungi peserta didik sekaligus memutuskan rantai penyebaran Covid-19. Walau demikian ada alternatif lain yang ditawarkan agar peserta didik tetap belajar. Alternatif tersebut ialah pemberlakuan metode pembelajaran daring (dalam jaringan internet) atau belajar online. Dengan demikian, peserta didik dapat menerima bahan pembelajaran dan sanggup belajar dari rumah secara mandiri. Namun, apakah home learning sudah menjadi suatu metode yang efektif dan dapat memberi kemudahan serta progresifitas dalam proses belajar mengajar di Indonesia selama pandemi ini?

Suara.com, Kamis, 19 Maret 2020, menyuguhkan kepada masyarakat berita seputar keluhan peserta didik terhadap home learning. Peserta didik cukup mengalami kesulitan dalam membeli pulsa data serta jaringan internet yang kurang mendukung, sehingga siswa lebih memilih berkumpul bersama untuk mengakses internet, agar dapat memperoleh informasi serta pembelajaran dari guru atau dosen. Kondisi ini menandakan bahwa pembelajaran daring atau belajar online tersebut masih memiliki kendala infrastruktur dalam hal ini jaringan (signal) internet yang kurang mendukung, misalnya banyak peserta didik yang tinggal di pedesaan tanpa jaringan, serta keadaan ekonomi yang kurang memadai untuk membeli pulsa internet.

Selain itu, Maltildis Mensi Tiwe, SE, MSi melalui Pos Kupang.com, Jumat, 17 April 2020, mengatakan bahwa “di Kabupaten Ende ada desa-desa yang belum dialiri listrik PLN, sehingga peserta didik merasa sulit untuk mengakses internet dan membuka TVRI pada waktu pagi hari”. Kondisi ini tentu merupakan suatu ironi dan jelas pembelajaran daring kurang efektif sebab para peserta didik tidak hanya mengalami kesulitan dalam membeli pulsa data, tetapi juga sulit karena sarana prasarana seperti listrik yang cukup tidak mendukung. Faktor lain, seperti peserta didik yang belum memiliki smart phone, menunjukkan bahwa peserta didik tersebut tidak dapat mengikuti proses pembelajaran, karena masih terhimpit situasi dan beban ekonomi yang kurang menunjang.

Eksistensi pendidikan memang sangatlah urgen dalam memajukan kualitas sumber daya manusia. Proses belajar mengajar merupakan basis pendidikan integral yang penting untuk membebaskan manusia dari kebodohan. Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor pendidikan Indonesia mengatakan bahwa: “pengajaran harus memerdekakan manusia dari aspek lahiriah yaitu bebas dari kemiskinan dan kebodohan; dan pendidikan harus memerdekakan manusia dari aspek batiniah yaitu manusia yang mempunyai otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, dan mentalitas demokratis”.

Pendidikan (education) pada umumnya dapat dilihat sebagai suatu gugatan terhadap realitas yang terarah pada transformasi diri dan lingkungan sosial. Gugatan yang dimaksudkan adalah suatu usaha serta perjuangan yang giat. Oleh karena itu, gugatan menuju transformasi diri yang lebih matang hanya akan terjadi bila peserta didik berjuang dan belajar dalam suasana yang ‘bebas’.

Jalan menuju ‘kebebasan’ atau kemerdekan seperti yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, pada tempat yang pertama, menuntut adanya dukungan serta perhatian dari pihak pemerintah. Dukungan dan perhatian, tidak hanya sebatas mengeluarkan instruksi, tetapi yang lebih penting adalah membantu serta menggenapi keluhan dari peserta didik. Otonomi pendidikan menjadi syarat yang mau tidak mau harus diperhatikan dan diperjuangkan (without bargaining).

Di pihak lain, pendidikan adalah jalan panjang dan tak selesai, proses tak berkesudahan tentang tanggung jawab menjadikan manusia lebih manusiawi, sadar dan terbebaskan dari belenggu ‘ketidakbebasan’ dalam pembelajaran. Tentu jelas, pendidikan bukan soal ‘guru’ yang hanya sekedar memberikan bahan pempelajaran, lalu selesai. Akan tetapi, pendidikan adalah suatu bentuk ‘perjuangan’ kekreatifan menuju suatu transformasi diri yang matang.

Menanggapi situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia saat tini, maka saya berpendapat bahwa, pertama, sarana prasarana adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Afirmasi ini adalah suatu kebenaran yang tak terbantahkan. Sarana prasarana menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pembelajaran peserta didik di tengah pandemi Covid-19. Mengingat tidak sedikit siswa yang sulit untuk membeli pulsa data, sulit mengakses saluran televisi sebagai media pembelajaran, seperti yang dialami oleh para siswa di daerah Ende yang kesulitan mengakses saluran TVRI, serta sulit mengakses internet karena kualitas signal yang kurang memadai untuk mendukung sistem pembelajaran online. Bertolak dari realitas problematis ini, maka pihak pemerintah (Menkominfo beserta teamnya) sangat diharapkan agar lebih aktif dan bijak dalam bertindak untuk menjamin ketersediaan kualitas signal internet yang kuat terutama di daerah-daerah terpencil, serta memperhatikan aliran listrik PLN di daerah-daerah.

Kedua, mewabahnya Covid-19 menyebabkan menurunnya kualitas pendidikan di tanah air, bahkan dapat dikatakan bahwa program home learning tidak cukup efektif. Sehingga sangat diharapkan pihak pemerintah perlu merevitalisasi serta memodifikasikan kembali sistem pendidikan di Indonesia selama pandemi Covid-19 ini, agar dalam kondisi belajar online sekalipun pendidikan di Indonesia tetap menarik, efektif, intensif, produktif, dan tetap memacu semangat peserta didik untuk terus belajar.

Ketiga, jika metode pembelajaran online akan dijadikan sebagai basis pola pembelajaran dalam sistem pendidikan di Indonesia maka pemerintah terlebih dahulu menyiapkan secara matang tenaga kependidikan yang handal. Hal ini merupakan poin yang sangat urgen bahwa pemerintah sangat diharapkan membentuk team untuk mempersiapkan ‘guru-guru’ yang profesional dan kreatif, agar para ‘guru’ tidak keliru dalam mengakses internet saat belajar online, apalagi salah dalam menggunakan dan memanfaatkannya. Dengan demikian proses belajar mengajar berjalan lancar dan mekanisme pembelajaaran menjadi efektif. Dengan demikian, pendidikan kita dapat berjalan lancar dan pada akhirnya mencapai kematangan dalam berpikir secara ‘bebas’ dan merdeka.

 

(Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero, sekarang tinggal di wisma Mikhael)

Komentar

Jangan Lewatkan