oleh

Dampak Negatif Pembelajaran Tingkat Rendah

-Opini-2.606 views

Oleh: Vincent Gaspersz

Di era perkembangan teknologi, yang paling tertinggal dari kita adalah outcome pendidikan karena masih berkutat pada model pembelajaran tingkat rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS) yang mengakibatkan fixed mindset, orang gampang menyerah dan cenderung menyalahkan kelemahan dalam diri.

Sehingga apa yang diungkapkan Albert Einstein berikut menjadi keniscayaan. “What is education? Education is a process of wasting half of our life to learn how to waste remaining half of our life“.

Belajar LOTS (Lower Order Thinking Skills) dan merasa success karena memperoleh nilai 90, sehingga tidak ada yang mau belajar HOTS (Higher Order Thinking Skills). Ini model pembelajaran “abal-abal”.

Siapa bilang Thomas Alva Edison itu orang bodoh dan tidak genius, tetapi poor education system tidak bisa menemukan bahwa orang-orang seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan lain-lain itu memang genius yang sesungguhnya. Apakah mungkin mereka akan menemukan atau menciptakan karya agung tanpa memahami konsep-konsep?

Memperhatikan fakta bahwa Albert Einstein, Thomas Alva Edison, dan banyak orang success dalam dunia nyata, maka Albert Einstein mengubah definisi Genius bukan berdasarkan nilai-nilai dalam transcript dari outcome pendidikan.

Antonius Ali ketika melamar kerja tidak pernah melampirkan ijazah dan trancript nilai IPK 4.0, karena jika itu diungkapkan maka semakin menunjukan kelemahannya, karena bagaimana mungkin seorang Magister dalam bidang ilmu tanah melamar posisi sebagai LSS Team Leader?

Saya telah mematahkan mitos bahwa siswa/mahasiswa yang memiliki nilai rendah (indeks prestasi kumulatif/IPK rendah) akan gagal dalam pendidikan formal lanjutan di Indonesia.

Berdasarkan perspektif Lean Six Sigma Thinking and Approach, maka yang harus digunakan adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan/atau solusi masalah (problem solver) baik ketika mengikuti kuliah maupun telah bekerja dalam dunia nyata (praktek).

Kriteria Berdasarkan Lean Six Sigma Thinking and Approach adalah:

Pertama; Genius, adalah orang yang selalu menetapkan target-target (sasaran) baru, selalu mencapai target (goal) baru itu, sehingga berarti ia selalu mencegah masalah yang akan terjadi.

Kedua; Intellectuals (orang pandai), adalah orang yang tidak mampu mencapai target (goal), tetapi ia mampu menyelesaikan masalah.

Ketiga; Stupid (orang bodoh), adalah orang yang tidak mampu mencapai target (goal), tidak mampu menyelesaikan masalah, tetapi ia selalu mencari-cari alasan pembenaran dengan menyalahkan lingkungan atau orang lain (hal-hal di luar dirinya).

Keempat; Resistance to change (status quo), adalah orang yang tidak mau berubah dan merasa nyaman sebagai korban atau berada terus-menerus di bawah pengendalian orang lain.

Kelima; Masalah gap (kesenjangan) antara target (goal) dengan aktual pencapaian hasil (outcome/output).

Keenam; Target Lean Six Sigma adalah mencapai goal 99,99966% atau hanya membuat kesalahan 3,4 per sejuta kemungkinan (atau 0,00034%).

Dampak Negatif dari Pembelajaran Tingkat Rendah atau Lower Order Thinking Skills (LOTS)

Secara konseptual beberapa dampak negatif dari pembelajaran tingkat rendah dalam dunia pendidikan maupun dunia industri adalah sebagai berikut:

Pertama; Orang-orang berpikir fungsional saja tidak mampu berpikir dalam konteks sistem. Seperti bagian HRD (Human Resource Development) hanya berpikir dalam konteks pengembangan sumber daya manusia sesuai konsep fungsional dari HRD itu bukan berpikir dalam konteks organisasi sebagai System of Systems (SoS) yang memiliki saling keterkaitan (saling berketergantungan) antara semua fungsi dalam organisasi: misalnya bagaimana keterkaitan fungsi pemasaran sebagai lokomotif organisasi bisnis dan industri yang akan menghela gerbong-gerbong seperti fungsi PPIC (Production Planning and Inventory Control), fungsi produksi, fungsi pembelian, fungsi maintenance pabrik atau bisnis, fungsi jaminan kualitas, fungsi akuntansi dan keuangan, dan lain-lain. Jika pembelajaran tingkat rendah ini dilakukan pada program studi magister manajemen (MM), maka seorang mahasiswa yang mengambil konsentrasi tertentu, misalnya konsentrasi human resource management, hanya secara kaku mempelajari kepentingan manajemen sumber daya manusia saja tanpa memiliki wawasan tentang keterkaitan fungsi human resource management dengan fungsi-fungsi lain dalam manajemen organisasi sebagai system of systems (SoS).

Kedua; Orang-orang lebih mementingkan urusan dan kepentingan fungsional saja, dalam dunia nyata disebut memiliki “ego sektoral”, tidak dalam konteks system of systems (SoS). Misalnya dalam Negara Indonesia, fungsi pendidikan sibuk dengan urusan dan kepentingan dalam bidang pendidikan, tanpa peduli permasalahan dan kepentingan sumber daya manusia dalam fungsi bisnis dan industri untuk menumbuhkembangkan perekonomian nasional, sehingga fungsi pendidikan tidak peduli dengan link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri.

Ketiga; Hanya menciptakan sumber daya manusia pembeo, ABIS (Asal Bapak Ibu Senang), tidak memiliki kepercayaan diri karena tidak memahami konsep System of Systems (SoS) secara komprehensif sehingga tidak berkompetensi dalam pembuatan keputusan, tidak berani bertanggung jawab, tidak mandiri, dst.

Keempat; Hanya menciptakan sumber daya manusia mekanistik, patuh secara kaku terhadap peraturan tanpa memiliki fleksibilitas menyesuaikan dengan fenomena dalam dunia nyata meskipun perilaku System of Systems (SoS) telah berubah.

Kelima; Tidak mampu menciptakan sumber daya manusia yang kritis, kreatif dan inovatif, karena karakteristik sumber daya manusia unggul yang dibutuhkan dalam era industry 4.0 dan society 5.0 hanya dapat diciptakan melalui pembelajaran tingkat tinggi (HOTS = Higher Order Thinking Skills).

Keenam; Masih banyak dampak negatif yang merugikan dalam pengembangan sumber daya manusia unggul.

Beberapa dampak negatif dalam pengembangan sumber daya manusia berdasarkan pembelajaran tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS) di atas, dalam jangka panjang akan membuat sumber daya manusia semakin tertinggal dalam mengikuti kemajuan perkembangan iptek maupun berbagai aspek dalam System of Systems (SoS) modern. Pembelajaran yang sesungguhnya baru akan mampu menciptakan sumber daya manusia unggul, jika pembelajaran yang dilakukan itu berada pada pembelajaran tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).

Fenomena pembelajaran tingkat rendah ini di Indonesia terjadi hampir di semua bidang kehidupan, baik pada pendidikan formal maupun informal, pusat-pusat pendidikan dan pelatihan organisasi, dan lain-lain, sehingga esensi dari pembelajaran untuk memperoleh Tacit Knowledge, yang memberikan 95% kontribusi pada total knowledge tidak tercapai. Patut dicatat bahwa Total Knowledge itu terdiri dari Tacit Knowledge (95%) dan Explicit Knowledge (5%).

Hal yang diungkapkan di atas, secara konseptual telah diungkapkan dalam buku Steffen Saifer (2018) berjudul: Higher Order Thinking Skills: Developing Higher-Order Thinking in Young Learners. Dalam buku ini diuraikan secara jelas tentang Taxonomy of Thinking Skills (ToTS) bahwa Output utama dari proses berpikir, adalah: (1) Memilih dan membuat keputusan, (2) Menyesesaikan masalah, (3) Merencanakan dan membuat strategi, (4) Menganalisis, dan lain-lain. Output utama ini hanya mungkin diperoleh melalui HOTS (Higher Order Thinking Skills).

LOTS, MOTS, dan HOTS

Steffen Saifer (2018) membagi Taxonomy of Thinking Skills (ToTS) ke dalam tiga tingkat, yaitu: LOTS, MOTS, dan HOTS berikut.

LOTS (Lower Order Thinking Skills), merupakan keterampilan berpikir fungsional, di mana informasi diperoleh melalui mengkopi, meniru, membeo, mengikuti peraturan-peraturan dan pengarahan-pengarahan, memorisasi, mengingat, memperoleh kembali informasi itu, mengetahui atau melakukan melalui menghafal, mengidentifikasi dan mengkuantifikasikan sesuatu.

MOTS (Middle Order Thinking Skills), merupakan keterampilan berpikir logika, di mana informasi digunakan untuk mengkarakterisasikan, mengasosiasikan, mendiferensiasikan, mengkategorisasikan, mengurutkan, mempolakan, menghitung, menghubungkan sebab dan akibat, merepresentasikan, dan menyimpulkan.

HOTS (Higher Order Thinking Skills), terdiri dari dua keterampilan berpikir, yaitu: keterampilan berpikir kritis dan keterampilan berpikir kreatif.

Dalam keterampilan berpikir kritis, informasi ditransformasikan untuk menguraikan, mengevaluasi, mengambil kesimpulan, mengubah paradigma, dan memindahkan sesuatu.

Sedangkan dalam keterampilan berpikir kreatif, informasi diciptakan untuk berimajinasi, menginterpretasikan, mensintesiskan, menginduksikan, membuat teori, membingkai ulang, dan menghasilkan sesuatu yang baru. Ide-ide kreatif hanya muncul dari keterampilan berpikir kreatif, kemudian apabila ide-ide kreatif itu diterapkan, maka akan menciptakan inovasi.

Apakah mungkin kita akan mampu menciptakan ide-ide kreatif untuk diimplementasikan menjadi karya-karya inovatif melalui pembelajaran LOTS (Lower Order Thinking Skills)? Sedangkan secara konseptual hal ini hanya terjadi dalam proses pembelajaran tingkat tinggi HOTS (Higher Order Thinking Skills).

 

(Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt and Certified Management Systems Lead Specialist)

Komentar