oleh

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pemasaran Produk Peternakan

-Opini-2.065 views

Oleh: Ture Simamora, S.Pt., M.Si

Situasi Pandemi Bukan Pertama Kali

Kalau kita menelurusi peristiwa lampau sebenarnya pandemi global seperti saat ini bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia. Setidaknya ada dua kejadian yang tercatat sebagai pandemi di masa lalu antara lain: (1) black death, suatu penyakit yang terjadi pada tahun 1346-1353 disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis dengan estimasi korban meninggal 75.0000.000-200.000.000 orang. (2) penyakit spanish flu terjadi pada tahun 1918-1919 juga salah satu penyakit pandemi yang menelan korban dengan estimasi 17.000.000-50.000.000 orang. Bahkan penularan virus flu yang terjadi begitu cepat saat itu menyebabkan kepanikan manusia dan terjadi penutupan aktivitas ekonomi maupun aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang. Dengan demikian dapat kita pahami bahwa peristiwa pandemi masa lalu dan pandemi Covid-19 saat ini senantiasa berdampak sama pada bidang ekonomi dan kehidupan sosial manusia.

Dampak pandemi Covid-19 yang terjadi secara global ini telah dirasakan oleh berbagai belahan dunia saat ini. Bahkan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2020 ini diperkirakan akan mengalami kemerosotan. Setidaknya ada 3 lembaga yang telah mempublikasikan data terkait dampak Covid-19 bagi perekonomian global tahun ini. Sebut saja IMF pada April 2020 lalu telah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia mengalami -3 persen, kemudian JP Morgan pada Maret 2020 merilis prediksinya bahwa akan terjadi kemerosotan ekonomi dunia sebesar -1,1 persen serta The Economist Inteligence Unit pada maret 2020 memperikirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami kemerosotan sebesar 2, 2 persen. Apapun perkiraan ketiga lembaga tersebut, pada dasarnya menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 ini berdampak luas bagi kehidupan masayarat global termasuk rakyat Indonesia.

Di Indoneisa, pandemi Covid-19 telah berdampak pada berbagai bidang mata pencaharian masyarakat. Tidak terkecuali bidang peternakan telah mengalami dampak besar akibat terganggunya kegiatan produksi, distribusi pemasaran produk pangan peternakan di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sejalan dengan penerapan kebijakan stay at home, phisyical distancing dan PSBB yang mempengaruhi ruang aktivitas ekonomi masyarakat sehingga berdampak pada penurunan daya beli dan komsumsi masyarakat terhadap produk pangan hewani tersebut. Beberapa komoditas produk peternakan turut mengalami dampak penurunan daya beli antara lain daging, telur dan susu. Kondisi ini telah berimbas kepada kerugian bahkan ancaman kebangkrutan akibat ketidakseimbangan produktivitas usaha dengan biaya operasional usaha peternakan.

Salah satu bidang yang mengalami dampak akibat terjadinya pandemi Covid-19 saat ini adalah bidang peternakan ayam. Banyak peternak ayam terancam gulung tikar disebabkan oleh penjualan ayam yang anjlok hingga 40 persen. Harga di tingkat pedagang hanya berkisar 7.000-8.000 rupiah per kilogram sementara biaya produksi mencapai 17.500 per kilogram. Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) harga ayam ras di tingkat konsumen rata-rata nasional mencapai 28.500 rupiah per kilogram. Sehingga dapat diduga anjloknya harga penjualan ayam oleh peternak turut disebabkan permainan harga pasar oleh spekulan.

Pemasaran Produk Peternakan

Bila kita mencermati pola usaha komoditas ternak domestik sebanyak 80 persen di usahakakan oleh peternak rakyat. Peternak rakyat umumnya adalah peternak yang memiliki keterbatasan sumber daya manusia maupun sumber daya modal. Oleh karena itu, peternak rakyat menjadi salah satu yang rentan mengalami dampak di masa pandemi Covid-19 ini. Ketidakmampuan peternak rakyat dalam mengatasi pemasaran di tengah pandemi Covid-19 ini tidak terlepas dari kebiasaan peternak rakyat dalam memasarkan produk hasil peternakan secara konvensional. Pada hal kondisi seperti sekarang telah membuktikan bawah pemasaran berbasis digital menjadi paling tepat untuk dilakukan.

Pandemi Covid-19 ini secara tidak langsung telah memaksa peternak rakyat untuk beralih cara memasarkan hasil usaha peternakanya. Kini tidak ada pilihan bagi peternak rakyat untuk memasarkan produk usahanya dengan sistem online. Dengan adanya pembatasan sosial ini memberikan dampak signifikan bagi pemasaran produk peternakan. Selama ini sebagian peternak rakyat dalam mengembangkan usaha peternakanya ada yang bermitra dengan perusahaan. Pada kondisi peternakan rakyat seperti ini, sebenarnya peternak lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan kegiatan operasional usaha, sebab produk dari usaha tersebut senantiasa di tampung oleh perusahaan untuk di pasarkan ke sentra konsumen. Namun di masa pandemi seperti sekarang ini, perusahaan mitra mana pun pasti mengalami kesulitan pemasaran produk akibat menurunnya daya beli masyarakat. Dengan demikian sudah pasti peternak rakyat yang selama ini bermitra dengan perusahaan juga akan mengalami dampak, sebab bisa terjadi pengurangan produksi atau penghentian operasional kemitraan usaha.

Di sisi lain, peternak rakyat yang selama ini mengelola dan memasarkan usaha ternaknya secara mandiri juga merasakan dampak negatif dari pandemi Covid-19 ini. Sebab selama ini peternak tersebut umumnya memasarkan produk peternakan secara konvensional dan bergantung kepada kehadiran pembeli atau pedagang pengumpul. Tentu dimasa sulit seperti ini, pedagang pengumpul yang selama ini turun langsung membeli hasil usaha peternakan rakyat akan membatasi ruang atau berhenti melakukan aktivitas kegiatan jual beli hasil usaha peternakan. Kini pandemi Covid-19 telah mengharuskan cara baru dalam keselamatan pemasaran produk-produk pangan. Hal ini dikarenakan terjadinya perubahan perilaku konsumen di masa pandemi ini lebih suka melakukan transaksi jual beli produk pangan secara online. Salah satunya pemasaran produk pangan hewani kini banyak ditemukan di media sosial baik melalui facebook, Whatssapp, instagram maupun media sosial lainnya. Pemasaran seperti ini menjadi lebih efektif dan efisien terlebih di kala situasi pandemi Covid-19 ini. Pemanfaatan ruang online untuk memasarkan produk peternakan akibat pembatasan interaksi sosial juga telah mampu memperpendek rantai pasok produk peternakaan.

Secara sadar atau tidak, situasi pandemi Covid-19 ini telah memberikan wawasan baru kepada peternak rakyat pentingnya melakukan adopsi inovasi teknologi dalam kegiatan pemasaran usaha peternakanya. Peternak yang lamban dan cenderung dengan pemasaran secara konvensional pada keadaan seperti sekarang ini dinilai akan sulit untuk bertahan. Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk peternak selain cepat dan tanggap mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Sebelum masa pandemi ini banyak peternak rakyat merasa aman menjual produk usaha ternaknya karena pada umumnya permintaan konsumen akan produk peternakan senantiasa tinggi dan pedagang pengumpul selalu datang membeli. Dengan situasi pandemi ini menjadi momentum perubahan model pemasaran bahkan peluang bagi peternak untuk melakukan pemasaran secara online.

Penutup

Dengan demikian pemasaran produk usaha peternakan berbasis online ini dinilai akan semakin mengalami kenaikan pada masa Covid-19 ini. Pandemi Covid-19 saat ini telah menyebabkan perubahan perilaku konsumen dan rantai pasok. Peranan jaringan online dalam pemasaran produk peternakan selama situasi pandemi Covid-19 ini dinilai akan mampu meningkatkan keunggulan kompetitif, efisiensi biaya dan produktivitas serta keberlanjutan usaha dan inovasi. Namun pasca Covid-19 ini pemasaran produk peternakan berbasis online ini dinilai akan semkain meningkatkan keberlanjutan usaha, memperpendek waktu recovery, meningkatkan resiliensi bisnis jangka menengah dan panjang serta mengurangi ketergantungan kepada modal manusia karena sosial distancing dan less contact economy.

 

(Penulis adalah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Timor, Mahasiswa Doktoral Ilmu Penyuluhan Pembangunan-IPB)

Komentar

Jangan Lewatkan