oleh

Edukasi Politik Pilkada 2020

-Opini-718 views

Oleh: Jelo Jehalu

Secara etimologis istilah demokrasi berasal dari bahasa yunani yaitu “Demokratia”yang terdiri dari dua suku kata yaitu demos yang berarti “Rakyat” dan Kratos yang berarti “kekuatan/pemerintah”, secara harafiah demokrasi adalah pemerintah dengan rakyat sebagai pemegang kedaulatannya.

Menurut Abraham Lincoln (Presiden AS ke 16), demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Indonesia merupakan salah satu Negara yang menerapkan sistem ini dalam memilih pemimpin baik presiden, gubernur, bupati, kepala desa dan juga DPR.

Seketika kita melihat bahwasannya penerapan demokrasi ini mampu membawa Indonesia menjadi salah satu Negara yang berhasil mengahadirkan pemimpin yang berkualitas dan mampu menjawab probelmatika yang terjadi dengan berbagai program kerja yang di laksanakanya. Tentu ini menjadi hal yang harus diapresiasi meskipun masih saja melenceng dari substansi demokrasi itu sendiri.

Sudah sekian lama kita melaksanakan pemilu ataupun pilkada sebagai represntasi dari sistem demokrasi dan tahun ini kembali kita berpesta demokrasi dengan melaksanakan pemilihan kepala daerah atau pilkada di berbagai daerah tak terkecuali kabupaten Manggarai Barat, NTT. Pilkada yang dilaksanakan pada 9 Desember 2020 mendatang sudah disahkan dalam Perppu nomor 2 tahun 2020, kendati demikian para bakal calon sudah mulai mempersiapkan diri berkontestasi pada pilkada Manggarai Barat tahun ini, hal semacam ini tentu tidak asing lagi bagi publik Manggarai Barat dalam artian bahwa hingar bingar atau tepatnya nuansa pilkada di Manggarai Barat sudah bisa terbaca.

Para bakal calon sudah mulai mengetuk pintu partai politik guna untuk mendapatkan kursi sebagai salah satu syarat untuk maju dalam momentum ini, lalu kemudian pamflet, baliho baik yang berukuran kecil maupun besar terpampang di setiap wilayah di Manggarai Barat, foto yang ditampilkan pun adalah foto-foto terbaik dengan mempunyai senyuman manis ditambah dengan amunisi diksi yang dituangkan dalam tulisan visi dan misi, semuanya dengan tujuan untuk mengambil hati rakyat yang kemudian bisa keluar menjadi pemenang dalam kontestasi ini.

Bukan hanya itu, para bakal calon pun sudah mulai turun ke lapangan membawa segudang cerita yang sangat menarik untuk didengar sembari melakukan ritual adat di berbagai kampung untuk meminta dukungan leluhur. Inilah yang kemudian kita dapat menyimpulkan bahwa memang para calon betul-betul sudah siap berkontestasi dalam pilkada Manggarai Barat.

Pendidikan politik publik menjelang pilkada Manggarai Barat

Pendidikan politik pada umumnya mempunyai andil besar dalam kemajuan bangsa dan negara terlebih kusus dalam konteks memilih pemimpin. Pemahaman yang dangkal akan mempengaruhi publik dalam menentukan pilihanya. Pengetahuan politik yang dangkal adalah salah satu celah dari orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam pilkada Manggarai Barat.

Nah, ketika kemudian kita menanyakan soal bagaimana kesiapan dari rakyat sebagai pemilih dalam menyambut pilkada ini terutama soal pendidikan politiknya, apa semuanya sudah matang? Ataukah situasi ini dibiarkan begitu saja sehingga kemudian bakal calon dengan gampang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan suara terbanyak? Inilah yang kemudian menurut saya hal terpenting dalam pilkada Manggarai Barat, bahwansanya Manggarai Barat betul-betul membutuhkan orang yang mempunyai integritas kuat untuk memimpin Manggarai Barat lima tahun kedepan, maka salah satu cara adalah dengan menguatkan pendidikan atau edukasi politik bagi wajib pilih yang memang mempunyai tingkat pemahaman minim soal politik.

Saya berasumsi bahwa “pendidikan politik yang kuat” merupakan faktor penentu akan kehadiran pemimpin yang bisa membangun Manggarai Barat. Dalil yang kemudian saya gunakan adalah tentang hal paling rawan sekali terjadi dalam setiap kontestasi pilkada Manggarai Barat ataupun di daerah lain yaitu soal praktik politik uang atau money politik, hoaks, menyebarkan isu SARA dan lain sebgainya.

Pertama saya ingin menjelaskan soal bagaimana dengan politik uang. Saya tidak sedang menuding bahwa Pilkada Manggarai Barat sebelumnya rawan dengan politik uang, akan tetapi money politik memang menjadi penyakit yang paling rawan dalam momentum pilkada, hal itu dapat kita lihat himbauan dari pihak-pihak terkait misalnya himbauan dari KPU, BAWASLU atau bahkan banyak pemberitaan di sosmed tentang praktik money politik.

Kemudian yang kedua terkait hoaks dan Isu SARA, hemat saya bahwa inilah yang sangat menarik dan tak kalah rawan dengan money politik, bahwasanya ketika kita melihat beberapa bakal calon yang akan berkontestasi dalam pilkada Manggarai Barat mempunyai latar belakang yang berbeda baik di lihat dari suku dan agamanya. Tentu ini menjadi salah satu titik rawan ketika kemudian tidak dibarengi dengan pendidikan politik yang kuat dari wajib pilihnya, dalam artian bahwa semua hal yang berkaitan dengan praktik busuk ini akan tidak terjadi jika edukasi politik masyarakat tinggi.

Lalu siapa yang mengedukasi mereka, saya rasa bahwa tugas ini bukan hanya dari lembaga terkait saja melainkan semua pihak yang nota bene mempunyai tingkat pemahamannya tentang politik lebih tinggi, dengan demikian momentum pilkada Manggarai Barat ini bukan hanya sekedar dilaksanakan atas amanah Undang-undang melainkan menjadikannya sebagai waktu yang tepat untuk mendapatkan hasil yang baik dengan memilih pemimpin yang bisa mengatasi segala problematika di Manggarai Barat.

 

Penulis adalah Mahasiswa Unwira Kupang asal Manggarai Barat

Komentar

Jangan Lewatkan