oleh

Efektivitas Belajar Daring Selama Pandemi Covid-19

-Opini-1.456 views

Oleh: Vian Tukan

Bentuk pendidikan di Indonesia cenderung bergaya klasik, yaitu tatap muka langsung antara guru dan murid dalam ruangan kelas. Proses pembelajaran demikian membawa efek yang positif baik bagi para murid maupun bagi para guru. Kebiasaan seperti ini dapat membentuk kedisiplinan para murid dalam belajar dan mengembangkan bakat serta kemampuannya. Pengembangan bakat dan kemampuan para murid dalam proses belajar merupakan salah satu tujuan pendidikan di Indonesia. Secara umum, proses pendidikan di Indonesia bertujuan melahirkan generasi penerus bangsa yang dapat diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan lajunya perkembangan teknologi, negara Indonesia juga mengalami perubahan yang begitu besar, salah satunya pada dunia pendidikan. Misalnya, perubahan yang terjadi pada penggunaan alat tulis untuk para guru. Dulu para guru lebih akrab dengan penggunaan grave atau batu tulis dalam memberikan materi kepada siswa, kemudian menggunakan kapur tulis dan black board,  tetapi sekarang para guru lebih mengakrabkan diri  pada white board dan snowman serta  proyektor. Bila ditelusuri lebih jauh mengenai dunia pendidikan hingga dengan saat ini, maka terdapat empat peralihan alat teknis yang terjadi mulai dari penggunaan batu tulis hingga penggunaan proyektor. Perubahan ini juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak didik dalam proses pembelajaran. Jika pada zaman dulu orang lebih serius dan berjuang keras dalam proses pembelajaran sehingga dapat melahirkan generasi yang sungguh-sungguh berkualitas.

Sistem pendidikan di Indonesia juga mengalami perubahan ketika terpapar Covid-19. Perubahan itu tampak dalam penggunaan sistem belajar daring. Namun, sistem ini tidak sepenuhnya berdampak positif, tetapi juga berdampak negatif. Dalam tulisan ini, penulis secara khusus ingin membahas proses pembelajaran daring yang diterapkan oleh menteri pendidikan Indonesia dalam situasi pandemi Covid-19.

Belajar Daring sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah dalam mencegah Covid-19

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menginisiasi program “Belajar dari Rumah”. Program yang mulai ditayangkan di TVRI sejak 13 April 2020 (pukul 8.00) ini merupakan suatu bentuk dukungan terhadap kebijakan pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran Covid-19. Pelaksanaan program ini merupakan kelanjutan dari langkah Kemdikbud menyediakan serana yang bisa dipakai oleh para siswa/i untuk melaksanakan proses pembelajaran selama pandemi Covid-19. Program ini ditujukan kepada  para siswa/i jenjang TK/PAUD, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Sejalan dengan itu, menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Makarim juga mengeluarkan kebijakan melalui surat edaran.

Adapun surat nomor 4 tahun 2020 berisi tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darudat penyebaran virus corona yang isinya sebagai berikut: pertama, belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Kedua, belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19.

Ketiga, aktivitas dan tugas pembelajaran dari rumah dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah. Keempat, bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberikan skor atau nilai kuantitatif (http//m.kumparan.com). Dari sini, kita dapat melihat bahwa kebijakan yang diambil oleh menteri pendidikan dan kebudayaan merupakan suatu bentuk dukungan positif kepada pihak pemerintah pusat dalam mencegah Covid-19 dan memperjuangkan semangat belajar para siswa serta meningkatkan kualitas kecerdasan anak-anak bangsa.

Dampak Positif dan Negatif Pembelajaran Daring

Berhadapan dengan situasi pandemi Covid-19 setiap negara mengambil kebijakan sendiri dalam mengatasi penyebaran wabah Covid-19. Presiden Joko widodo mengambil kebijakan physical distancing dan social distancing dalam mengatasi pandemi Covid-19. Hal ini juga berdampak pada dunia pendidikan secara khusus pada proses belajar-mengajar di sekolah. Berhadapan dengan situasi ini menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia menerapkan kebijakan belajar Daring untuk semua siswa/i mulai dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi demi mendukung kebijakan pemerintah dalam menangani wabah Covid-19.

Menurut penulis, kegiatan belajar daring ini memiliki dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah: pertama, semua siswa bisa mendapatkan materi dengan mudah dan belajar mengevaluasi pembelajaran sendiri di manapun mereka berada. Kedua, semua siswa bisa belajar baik di ruangan tertutup maupun di ruangan terbuka. Materi yang diberikan akan mudah dipahami jika terdapat kebebasan dalam memanajemen waktu. Ketiga, pembelajaran daring membantu siswa menikmati pendidikan tanpa kendala biaya, waktu, dan tempat.

Dampak negatif kegiatan belajar daring adalah: pertama, manajemen waktu belajar yang buruk sehingga waktu cenderung digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi dalam media sosial. Kedua, kurangnya pemahaman siswa terhadap pembelajaran daring sehingga banyak siswa yang tidak menggunakan waktu dengan tepat dan konsisten. Ketiga, kesulitan dalam memahami materi yang dipelajari. Keempat, program belajar daring ini kurang efektif menjangkau banyak siswa karena banyak siswa yang bertempat tinggal di daerah yang jauh dari jangkauan internet sehingga mereka ketinggalan informasi  dari sekolah (Kompasiana.com).

Proses pembelajaran daring yang diterapkan oleh menteri pendidikan Indonesia dalam situasi pandemi Covid-19 sesungguhnya harus mendapat dukungan penuh dari semua pihak secara khusus para guru, orang tua, dan para siswa/i sendiri. Keaktifan staf pengajar yang ada diseluruh Indonesia dalam mendukung kebijakan menteri pendidikan Indonesia patut diapresiasi. Mereka telah berjuang semaksimal mungkin dalam memberikan materi kepada para siswa melalui proses belajar daring. Namun, penulis juga memberi masukan untuk diperhatikan bersama dalam proses belajar daring dalam situasi pandemi Covid-19, secara khusus bagi para guru, orang tua, dan para siswa/i. Pertama, untuk para guru. Para guru harus memahami sebaik mungkin proses belajar daring, termasuk langkah praktisnya. Kegiatan belajar daring bukanlah sebuah penindasan terhadap siswa/i. Artinya setiap tugas yang diberikan kepada siswa/i harus sesuai dengan tingkatan pendidikan dan kemampuan yang dimiliki oleh para siswa/i itu sendiri. Misalnya, tugas yang diberikan kepada siswa/i Sekolah Dasar sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang mereka peroleh. Bukan sebaliknya memberikan tugas kepada siswa/i Sekolah Dasar seperti memberikan tugas kepada siswa/i Sekolah Menengah Atas.

Kedua, untuk orang tua. Orang tua harus mengontrol proses belajar anak selama berada di rumah dalam situasi pandemi Covid-19. Orang tua harus menjamin keseriusan anak dalam mengikuti proses belajar daring. Ketiga, untuk para siswa/i. Para siswa/i harus mengatur waktu belajar secara teratur sehingga proses belajar daring dalam situasi pandemi  Covid-19 dapat memperoleh hasil yang baik pula. Dalam diri siswa harus  ada tekad kuat dan keseriusan  dalam mengikuti kegitan belajar daring. Jika ketiga poin ini dapat dijalankan dengan baik, pada akhirnya tercapai hasil yang positif.

 

(Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero, Tinggal di Wisma Gabriel)

Komentar

Jangan Lewatkan