oleh

Geliat Industri Penerbangan di Nusa Tenggara Timur Pada Masa Pandemi

-Opini-741 views

Oleh: Leonar Do Da’Vinci T., SST.

Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya merupakan kepulauan. Kondisi geografis yang demikian tentu memberi nilai tambah tersendiri bagi mata pencarian penduduk di NTT, dengan akses laut yang mudah, penduduk semakin banyak mengusahakan hasil-hasil kelautan seperti ikan, rumput laut, dan garam. Hanya saja, wilayah yang terpisah-pisah tersebut mempersulit jaringan distribusi, baik masyarakat maupun barang-barang kebutuhan penduduk. Jalur darat hanya dapat ditempuh oleh para pelaku ekonomi yang berada dalam satu pulau atau daratan. Sementara jika penduduk hidup terpisah antar pulau, maka jalur yang ditempuh adalah jalur laut atau jalur udara.

Kegiatan distribusi melalui laut lebih banyak menghabiskan waktu. Hal tersebut tentunya dipengaruhi keterbatasan mesin dan kondisi perairan yang tidak menentu. Bagi masyarakat yang hendak bepergian dalam waktu singkat tentunya mengalami kerugian dari sisi waktu karena waktu diperjalanan bisa dihabiskan lebih lama ketimbang waktu yang dihabiskan di tempat yang dituju. Oleh karena itu, moda transportasi udara menjadi primadona masyarakat ketika hendak melakukan perjalanan pulang-pergi ke tempat yang dituju.

Imbas COVID-19 terhadap industri penerbangan di Nusa Tenggara Timur

Hingga saat ini, COVID-19 masih tetap menjadi momok yang menakutkan di Indonesia. Khusus di Indonesia, kasus infeksi COVID-19 belum mengalami titik jenuh, kasusnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini juga mengakibatkan protokol kesehatan tetap diberlakukan. Orang-orang yang bepergian juga dibatasi dan harus mengantungi beberapa persyaratan ketika hendak naik pesawat. Di dalam pesawat juga ditetapkan protokol jaga jarak, sehingga kapasitas penumpang yang diangkut juga berkurang.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, semenjak merebaknya kasus COVID-19 pada bulan Maret tahun 2020, jumlah penumpang angkutan udara di Nusa Tenggara Timur mencapai 246.876 orang. Kemudian pada bulan April mengalami penurunan drastis sebesar 69,6 persen sebagai akibat dari pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan jumlah 75.050 orang saja. secara total, akibat PSBB, berbagai bandar udara juga ditutup untuk menekan jumlah orang yang datang maupun bepergian. Hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan tetap bepergian. Hal ini tentu saja akan berakibat langsung pada omset yang diterima oleh industri penerbangan di Nusa Tenggara Timur.

Efek domino industri penerbangan di Nusa Tenggara Timur

Sektor yang mungkin mengalami dampak paling besar sebagai akibat lesunya kegiatan penerbangan di Nusa Tenggara Timur adalah sektor pariwisata. Hal ini dapat dilihat dari struktur Produk Domestik Bruto (PDRB), berdasarkan data yang dihimpun BPS Nusa Tenggara Timur, subsektor penyediaan makanan dan minuman turun sebesar 32,5 persen dari 113.469,10 juta rupiah pada triwulan I menjadi 76.583,72 juta rupiah pada triwulan II.

Sementara jika ditelaah dari masing-masing indikatornya, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Nusa Tenggara Timur juga mulai turun drastis sejak merebaknya wabah COVID-19. TPK mengukur banyaknya malam kamar terpakai terhadap jumlah kamar yang tersedia. Berdasarkan data yang dihimpun BPS Nusa Tenggara Timur, pada bulan Maret tahun 2020, TPK hotel bintang di Nusa Tenggara Timur mencapai 25,19 persen yang juga sudah turun sejak bulan Februari yang mencapai 38,5 persen. Kemudian pada bulan April turun drastis hingga hanya mencapai 13,32 persen saja, dan titik terendah pada bulan Mei yang mencapai 11,57 persen.

Tentu saja hal ini diakibatkan jumlah tamu yang datang terbatas sebagai akibat pelarangan orang untuk melakukan perjalanan lintas daerah. Sementara daerah wisata di Nusa Tenggara Timur sangat menarik bagi wisatawan mancanegara, begitu pula sarana akomodasi yang diuntungkan dengan kondisi tersebut. Meskipun sumbangan sektor pariwisata bukan menjadi sektor utama yang menyumbang PDRB Nusa Tenggara Timur, namun subsektor-subsektor di dalamnya menjadi andalan masyarakat yang tinggal di daerah wisata, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja dan pemanfaatan sumber daya kepariwisataan lainnya yang telah menolong masyarakat untuk mencari sumber-sumber pendapatannya.

Geliat industri penerbangan di masa pandemi

Ketika kondisi new normal diberlakukan, terlihat geliat industri penerbangan di Nusa Tenggara Timur mulai menunjukkan perbaikan meskipun tidak terjadi secara serta merta. Berdasarkan data yang dihimpun BPS, pada bulan Juni, jumlah penumpang angkutan udara meningkat dari 832 orang saja pada bulan Mei menjadi 44.990 orang dan menjadi 102.942 orang pada bulan Juli. Hal ini ternyata seiring dengan peningkatan TPK hotel berbintang di Nusa Tenggara Timur. Pada bulan Juni, TPK hotel berbintang di Nusa Tenggara Timur mencapai 19,69 persen, kemudian pada bulan Juli naik hingga 27,15 persen. Secara kasat mata, hal ini menandakan bahwa sektor pariwisata bergantung pada jumlah penumpang yang menggunakan transportasi udara.

Dari hal tersebut juga terlihat bahwa geliat transportasi udara ini sangat dipengaruhi oleh regulasi yang diberlakukan pemerintah sebagai upaya mengatasi wabah COVID-19. Tanpa adanya kebijakan pemerintah untuk menggenjot industri ini, masyarakat masih dihantui rasa takut untuk menggunakan jasa transportasi udara. Penumpang diharuskan melakukan tes kesehatan sebagai salah satu syarat untuk menaiki transportasi udara. Sedikit banyaknya pengaruh yang ditimbulkan, ternyata regulasi ini telah membangkitkan geliat transportasi di masa pandemi ini.

Kesadaran Masyarakat

Jika pandemi ini belum dapat ditanggulangi, maka diperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut. Secara khusus, transportasi udara sulit untuk kembali dan akan tetap stagnan dikarenakan jumlah penumpang yang menggunakan jasa penerbangan masih harus dibatasi. Kedatangan wisatawan mancanegara utamanya juga akan terhambat karena pandemi ini.

Oleh karena itu masyarakat diharapkan tetap sadar akan bahaya dari pandemi ini tetapi tidak juga harus takut. Penumpang pesawat diharapkan mematuhi protokol yang telah ditetapkan dan secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ketika akan dan telah menggunakan jasa transportasi udara. Peran masyarakat menjadi sangat penting karena wabah ini beredar di masyarakat. Ketika masyarakat disiplin dengan peraturan yang ditetapkan, maka pandemi Ini dapat segera berakhir dan masyarakat dapat kembali menikmati perjalanan lintas daerah dengan aman. Pada akhirnya industri penerbangan dan sektor-sektor lain yang saling terhubung dapat kembali normal.

 

Penulis adalah ASN BPS Kabupaten Alor

Komentar

Jangan Lewatkan