oleh

Hidup Berdamai dengan Covid-19

-Opini-505 views

Oleh : Primus Dorimulu

Pernyataan “berdamai dengan Covid-19” bukanlah ungkapan fatalistik. Bukan sebuah sikap menyerah pada keadaan. Berdamai dengan Covid-19 dimaknai sebagai hidup dengan tatanan baru tanpa harus menunggu virus corona lenyap dari muka bumi.

Berdamai dengan Covid-19 adalah sebuah peradaban baru. Tidak sekadar new normal. Aktivitas dan pola interaksi antarmanusia berubah. Manusia lebih sadar akan pentingnya kesehatan dan kualitas hidup.

Hidup berdamai dengan Covid bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan dunia. Sebagai pandemi, Covid sudah menular di 213 negara. Di Indonesia, tak satu pun provinsi yang bebas Covid meski 68% angka positif masih berada di Jawa. Dalam persentase, angka luar Jawa, perlahan, meningkat.

Wabah Covid-19 tidak akan hilang dari bumi fana ini selama vaksin belum ditemukan. Meski Moderna Incorporation, perusahaan farmasi asal AS, sudah memberikan sinyal menemukan vaksin Covid-19, hasilnya masih dipertanyakan. Dunia baru akan tenang jika vaksin corona sudah diuji-coba secara luas, memberikan hasil meyakinkan, dan mendapatkan pengakuan World Health Organization (WHO).

Fakta, vaksin belum ditemukan dalam waktu dekat, satu hingga dua tahun ke depan. Masa hidup Covid masih sangat lama dan manusia tak bisa menunggu Covid berakhir untuk memulai beraktivitas.

Tidak salah ketika Presiden Jokowi awal Mei 2020 mengimbau seluruh rakyat Indonesia untuk belajar hidup berdamai dengan Covid-19. Karena kita belum bisa menaklukannya, maka kita harus “berdamai”, artinya, kita harus bisa mulai beraktivitas.

Hanya dengan kembali beraktivitas, kebutuhan hidup rakyat bisa terpenuhi. Pemerintah tidak bisa terus-menerus mensubsidi rakyatnya. Bantuan sosial (bansos) tak bisa diberikan terus-menerus tanpa batas. Untuk membiayai kebutuhan rakyat lebih dari empat bulan saja pemerintah sudah cukup kesulitan.

Dengan asumsi satu keluarga miskin mendapat Rp 2 juta per bulan dan pemerintah harus membiayai selama April hingga September 2020, maka 50% atau 35 juta keluarga miskin Indonesia harus diberikan dana bansos Rp 70 triliun per bulan atau Rp 420 triliun selama enam bulan. Bagaimana kalau setahun dan lebih?

Ini angka cukup besar mengingat banyak pos pengeluaran yang harus dibiayai pemerintah seperti dana stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah pun harus memberikan stimulus kepada korporasi dan membiayai sektor kesehatan.

Covid-19 ibarat palu godam yang mengingatkan kita akan rapuhnya kapasitas kesehatan kita. Rasio tempat tidur per 1.000 penduduk Indonesia hanya 1,04% dan rasio dokter per 1.000 penduduk hanya 0,3%. Bandingkan dengan RRT yang sudah mencapai 2%

Hingga 20 Mei 2020, jumlah penduduk Indonesia yang positif Covid-19 mencapai 19.189 atau menempati peringkat ke-33 dari 2013 negara yang tertular. Jumlah yang meninggal karena Covid sebesar 1.242 atau 6,5% dari angka positif. Sedang yang sembuh sebanyak 4.575 atu 23,8%.

Pemerintah tak bisa terus-menerus membiayai pengeluaran masyarakat. Solusinya, rakyat harus dibantu untuk bisa kembali beraktivitas. Saat ini saja, para jelata sudah mempertanyakan, apa pentingnya takut pada Covid hingga harus mengorbankan mata pencaharian.

Dana bansos yang tidak sampai Rp 1 juta per keluarga per bulan sama sekali tidak mencukupi kebutuhan dasar rakyat. Bukan saja makanan bernutrisi untuk meningkatkan imunitas tubuh melawan Covid. Sekadar membuat perut kenyang pun dana Rp 1 juta per keluarga tidak cukup. Mereka bahkan berani mengatakan lebih takut mati karena lapar daripada mati karena Covid.

Manusia harus mulai membiasakan diri hidup dengan Covid. Aktivitas manusia harus kembali berjalan dengan standar baru. Manusia harus bisa ke luar rumah untuk bepergian, bekerja, membuka usaha, belajar, belanja, berwisata, dan beribadah bersama.

Tapi, semuanya itu dijalankan dalam tatanan baru, new normal, yakni beraktivitas dengan standar kesehatan yang ketat. Setiap warga memahami, menghayati, dan menjalankan protokol kesehatan. Dari pusat hingga ke level RT dan RW dipastikan mulai hidup dengan norma baru, yakni beraktivitas sesuai protokol kesehatan.

Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 perlu merumuskan protokol kesehatan rinci untuk setiap sektor. Setiap provinsi, kabupaten, dan kota juga perlu merumuskan protokol kesehatan yang lebih rinci dan lebih lokal sesuai kondisi setempat.

Untuk konteks bangsa dan negara ini, berdamai dengan Covid-19 artinya mewujudkan sebuah Indonesia baru. Sebuah Indonesia yang lebih disiplin, sadar kesehatan, toleran, penuh semangat gotong-royong, dan efisien.

Disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan. Ke tempat umum, setiap warga selalu memakai masker. Menjaga jarak, minimal dua meter, setiap kali berkontak dengan sesama, termasuk di tempat kerja. Mencuci tangan di air mengalir dengan sabun setiap kali selesai beraktivitas.

Memasuki peradaban baru, kapasitas kesehatan dibenahi dan diperkuat. Rasio tempat tidur di rumah sakit per seribu penduduk perlu ditingkatkan. Demikian pula dengan rasio dokter per seribu penduduk. Rumah sakit pada masa akan datang harus selalu siap menghadapi pandemi.

Ke depan, orang tidak boleh lagi merasa tidak nyaman untuk memeriksakan diri ke dokter dan dirawat di rumah sakit. Ruang perawatan pasien Covid-19 dan penyakit yang cepat menular dipisahkan tegas dari ruangan pasien lain. Semua pasien, apa pun penyakitnya, bisa dilayani rumah sakit.

Alat pelindung diri (APD) dan peralatan untuk tes Covid tersedia di setiap6:30 PM rumah sakit. Laboratorium yang dilengkapi real time polymerase chain reaction (RT-PCR) tersedia di semua rumah sakit besar lengkap dengan tenaga ahli.

Pemerintah wajib mendorong swab test masif dan melakukan tracking untuk mengetahui pergerakan mereka yang sudah positif Covid. Hal ini sangat membantu upaya pencegahan dan penanganan.

Hidup berdamai dengan Covid artinya mendorong aktivitas ekonomi kembali berjalan. Deru mesin pabrik kembali terdengar. Berbagai jenis industri kembali berproduksi. Kegiatan perdagangan dan distribusi barang berjalan. Semua moda transportasi berfungsi. Rantai pasokan tersambung. Kegiatan produksi, ekspor dan impor, berjalan normal.

Kegiatan bisnis dan pariwisata kembali meramaikan hotel, restoran, kios, dan toko suvenir. Warga sudah kembali mengunjungi mal, pusat perbelanjaan, pusat permainan, olah raga, dan kebugaran.

Para siswa kembali ke sekolah. Kegiatan belajar-mengajar kembali berjalan. Orang boleh beribadah bersama. Tapi, semuanya dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat dan dikombinasikan dengan belajar dari rumah lewat online.

Kegiatan manusia pasca-Covid-19 berubah. Efisiensi dan kecepatan akan menjadi perhatian utama. Setiap kegiatan akan menggunakan teknologi digital. Bekerja dan belajar dari rumah akan menjadi budaya baru.

Kita berharap, mulai Juni 2020, hidup berdamai dengan Covid sudah mulai diimplementasi. Perlahan, sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah disiapkan dan disosialisasikan, masyarakat sudah boleh beraktivitas.

Memaksakan masyarakat tetap berdiam di rumah, tanpa aktivitas yang bermanfaat di luar rumah, hanya akan memperbanyak warga yang didera psikosomatik. Tingkat stress yang hebat akibat tinggal di rumah berbulan-bulan tanpa pendapatan akan memicu depresi dan penyakit jiwa, psikosomatik.

Kita harus bisa hidup berdamai dengan Covid dengan menerapkan sepenuhnya protokol kesehatan.

 

(Penulis adalah Jurnalis Senior tinggal di Jakarta)

Komentar

Jangan Lewatkan