oleh

Himbauan Menghindari Covid-19, Sinisme dan Rendahnya Kesadaran Moral Masyarakat

-Opini-232 views

Oleh : Agustinus M. Samuel

Meningkatnya jumlah kasus yang terjangkit oleh virus corona (Covid-19) di sejumlah  Negara di dunia, menjadikan kewaspadaan warga dunia terhadap pandemi Covid-19 juga semakin meningkat.

Negara Indonesia pun tidak bisa terhindar dari merebaknya Covid-19 ini, bahkan hingga Senin, 24 Maret kemarin sudah 49 orang yang meninggal lantaran terjangkit wabah Covid-19. Karena banyaknya orang yang  terjangkit, dan meningkatnya  jumlah orang yang meninggal karena wabah Covid-19, masyarakat pun diminta untuk benar-benar waspada tanpa harus panik juga. Artinya bahwa kita semua harus mengangap Covid-19 sebagai virus atau wabah yang paling berbahaya dan mematikan, kita semua harus taat kepada himbauan  yang diberikan pemerintah, kita semua harus disiplin, harus mampu mengendalikan diri kita masing-masing, atau pun mengisolasikan diri kita di rumah untuk sementara waktu. Kemudian juga harus sosial distancing atau jaga jarak antara satu sama lain.

Artinya bahwa mengikuti instruksi  atau mentaati himbauan yang diberikan oleh pemerintah adalah hal yang mesti dilakukan.

Mengapa ini sangat penting? Walaupun kita di lingkungan yang belum terjangkit oleh wabah Covid-19 tersebut, itu dikarenakan oleh potensi hadirnya Covid-19 pasti selalu ada dan selalu meningkat hari demi harinya. Data yang didapat bahwa yang terjagkit oleh wabah Covid-19 dan bahkan yang meninggal karena Covid-19 telah meningkat sangat signifikan, pada  pertengahan Maret 2020, menurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) jumlah masyarakat yang terinfeksi Covid-19 sekitar 250.000 kasus dengan jumlah orang yang meninggal mencapai lebih dari 10.000 orang.

Terdengar begitu sangat berbahayanya wabah virus corona ini, pemerintah telah mengeluarkan himbauan secara lisan maupun secara tertulis kepada masyarakat, agar segalah bentuk aktivitas dalam bentuk apa pun harus dibatasi atau pun dihentikan , hal ini demi mencegah dari terinfeksi wabah Covid-19.

Fakta yang didapat bahwa, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap himbauan yang telah diberikan oleh pemerintah  cenderung menurun bahkan hingga ke tingkat yang paling rendah. Sebagai contoh bahwa masih banyaknya masyarakat yang tetap melakukan aktivitas pekerjaan mereka adalah untuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara umumnya, dan Kabupaten Manggarai, Mnggarai Barat dan Manggarai Timur secara khususnya, masih banyak masyarakat yang berprofesi sebagai sopir trevel angkutan antara kota Labuan Bajo-Ruteng, Ruteng- Borong yang masih menjalankan aktivitas mereka, dan juga masih banyaknya masyarakat yang berjualan di pingir jalan Labuan Bajo-Ruteng, Ruteng-Borong yang sampai sekarang masih melakukan aktivitas penjualan di pingir jalan. Banyaknya masyarakat yang masih melakukan aktivitas seperti pada contoh di atas, penulis mengartikan tindakan mereka sebagai pandagan yang bersifat sinisme atau sinis terhadap himbauan pemerintah, bahkan lembaga-lembaga kesehatan pun tak dapat terhindar dari sinisme atau sisnis yang hebat dari masyarakat.

Kalau kita melihat di taraf internasionalnya, negara Italia sekarang sudah menjadi kota mati. Dalam artian bahwa sudah tidak ada lagi aktivitas-aktivitas masyarakat. Dari data yang didapat negara Italia mengumumkan lonjakan angka kematian baru dalan satu hari pada Senin, 24 Maret akibat virus corona mencapai 602 orang. Hingga kini sebanyak 6.077 orang telah tewas akibat virus corona di negara tersebut, dengan sekitar 59.000 kasus. Ini diakibatkan karena masyarakatnya yang bersikap acuh tak acuh terhadap himbauan yang diberikan oleh pemerintah di Negara Italia. Kita mestinya belajar dari  kasus di negara Italia, artinya bahwa mentaati instruksi dari pemerintah adalah hal yang harus dilakukan oleh kita semua.

Kalau kita kembali ke masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) secara umumnya, dan masyarakat di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Tmur secara khususnya, kebayakan dari mereka mengunakan konsep pasrah, yang berarti berserah kepada Tuhan, untuk mengartikulasikan sikap ini. Sebab mau buat apa konsep pasrah kepada Tuhan ini saja yang mampu mereka lakukan.  Sehingga sampai sekarang pun masih banyak masyarakat yang melakukan aktivitas mereka walaupun sudah ada himbauan dari pemerintah sebelumnya.

Penulis disini mau mengartikan soal kosnsep pasrah kepada Tuhan ini sebagai sebuah pandangan yang bersifat sinisme atau sinis terhadap himbauan pemerintah.

Sinisme, berasal dari kata sinis yang artinya mengejek, dan memandang rendah, merupakan pandangan atau pernyataan sikap, pemikiran, kata, dan tindakan yang mengejek yang memandang rendah atau anggap enteng terhadap sesuatu. Sinisme juga merupakan ketidak seimbangam dalam arti hanya melihat sisi negatifnya saja dan membuang hal-hal positif. Jadi pandangan sinisme terhadap himbauan  pemerintah menunjukan suatu konsep pikiran, melalui ketidak seimbangan pandangan, yang merendahkan nilai-nilai kebenaran yang ada dari maksud himbauan pemerintah.

Adanya sikap sinisme ini dikarenakan  oleh rendahnya kesadaran moral dari masyarakat, setidaknya masyarakat harus mampu melihat bahwa ada sebuah kebenaran yang terkandung dari segala bentuk himbauan yang diberikan oleh pemerintah. Benar bahwa Tuhan adalah Maha Kuasa dialah yang mengatur kehidupan kita mulai dari kelahiran sampai pada kematian semua sudah diaturnya, akan tetapi konsep pasrah kepada Tuhan sangatlah salah untuk menangapai persoalan wabah virus corona ini. Tuhan sudah mengatur segala bentuk mulai dari kelahiran sampai pada kematian bukan berarti selalu bergantung padanya.

Pertanyaan keritisnya adalah, bukankah pencegahan sebelum terjangkit virus corona lebih mudah daripada mengobati disaat kita sudah terkena atau positif corona?.

Artinya bahwa membatasi segala bentuk aktivitas dan bahkan memberhentikan segalah aktivitas adalah pencegahan yang bersisfat preventif. Mengingat bahwa  untuk daerah NTT yang sudah dalam status (ODP) sebanyak 101 orang secara umumnya dan untuk Kabupaten Manggarai ada 4 orang berstatus (ODP), Manggarai Barat ada 20 orang berstatu (ODP) ada 1 orang status positif corona (PDP), dan untuk Manggarai Timur ada 1 orang berstatus (ODP);

Jadi kosep berserah kepada Tuhan bukanlah solusinya, mentaati segala bentuk himbauan dari pemerintah adalah solusi yang terbaik.

 

(Penulis adalah Warga Masyarakat, tinggal di Ketang, kecamatan Lelak, kabupaten Manggarai)

Komentar

Jangan Lewatkan