oleh

Hospitalitas dan Tanggung Jawab sebagai Upaya Menyikapi Era Kenormalan Baru

-Opini-396 views

Oleh: Irfan Bau

Musibah pandemi Covid-19 yang bersifat global telah berdampak pada seluruh tataran kehidupan manusia. Prahara Covid-19 menyebabkan kelesuan pada berbagai sektor: finansial, perdagangan, turisme, sosial-budaya dan juga pertumbuhan ekonomi. Ada berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menangani musibah yang memusnahkan kehidupan kita bersama. Upaya-upaya yang strategis seperti keharusan memakai masker keluar rumah, mencuci tangan secara rutin, menjaga jarak dengan orang lain, memakai kaus tangan, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat adalah tindakan-tindakan yang mesti masyarakat jalankan dalam memasuki situasi kenormalan baru di tengah musibah Covid-19.

Era kenormalan baru sebagai penanda di mana praktik mengubah pola hidup dari suatu peradaban yang lama menuju suatu peradaban yang baru. Era kenormalan baru sebagai suatu peradaban baru yang tidak dapat kita hindari lagi. Kita tidak mungkin mengelak atau menjauh dari ‘kedatangan’ era kenormalan baru. Pemerintah menetapkan kebijakan kenormalan baru sebagai akses atau upaya untuk menggenjot sistem perekonomian yang lesu. Penerapan kebijakan kenormalan baru tentunya membawa dampak bagi kesehatan manusia. Penerapan kebijakan baru ini sangat bertolak belakang dengan keadaan di negara kita. Kurva penyebaran Covid-19 cenderung naik dan jumlah kasus positif masih fluktuatif (Aritonang, The Columnist, 31/5/2020).

Namun, perlu diketahui bahwa setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah harus mempertimbangkan pelbagai bentuk kehidupan yang fair dan pantas dan tidak boleh mereduksi kesanggupan manusia begitu saja. Kebijakan yang ditetapkan ini sangat berdampak bagi kesehatan manusia. Kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah mesti diafirmasikan secara lebih tegas oleh masyarakat dengan bertanggung jawab dengan menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kita mencoba memberi jawaban dalam perspektif filsafat Levinas tentang hospitalitas sebagai sapaan dan tanggung jawab. Terkait dengan konteks era kenormalan baru yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka perlu adanya hospitalitas sebagai suatu bentuk penerimaan sebuah peradaban yang baru, meski pun kebijakan yang diambil ini berdampak pada kesehatan manusia.  Oleh karena itu, hospitalitas dimulai dari kerelaan diri untuk menerima. Musibah Covid-19 sebagai musibah yang datang tanpa diundang. Covid-19 dilihat sebagai yang lain. Kedatangan yang lain adalah kedatangan tanpa undangan, tidak ditentukan (indetermine), tidak diduga bahkan tidak dapat dimengerti (Baghi 2012: 99). Maka, kita harus berdamai dengan Covid-19 dalam memasuki era kenormalan baru dengan bersikap menerima dan bertanggung jawab dengan situasi ini.

Hospitalitas Sebagai Akses Memasuki Era-Kenormalan Baru

Bagi Levinas, hospitalitas adalah akses pengakuan etis. Hospitalitas pertama-tama dimulai dari gerakan kesadaran yang intensional. Gerakan ini senantiasa mengarahkan kesadaran untuk keluar dari diri dan menuju kepada yang lain. Hospitalitas juga berkenaan dengan interupsi kesadaran untuk beralih dari diri sendiri (kesadaran diri) menuju kesadaran akan yang lain.

Dalam konteks ini, kebijakan kenormalan baru dilihat sebagai suatu bentuk kesadaran untuk beralih ke arah yang lain. Kenormalan baru sebagai penanda di mana praktik mengubah pola hidup dari suatu peradaban yang lama menuju suatu peradaban yang baru. Fase kenormalan baru di tengah musibah Covid-19 ini tentunya membutuhkan kesadaran untuk beralih menuju yang lain. Levinas menyebut keterarahan kesadaran untuk keluar sebagai bentuk interupsi diri.  Kiblat dari gerakan kesadaran ini adalah atensi, yaitu keterarahan yang melibatkan di dalamnya suatu perhatian penuh. Artinya bahwa dalam menghadapi situasi kenormalan baru, sangat diperlukan kesadaran untuk menerima sebuah realitas yang baru dengan tulus, ikhlas. Dengan adanya penerimaan  tersebut, kita mampu mengarahkan diri kita untuk berdamai dengan situasi baru yang sedang kita hadapi.

Era kenormalan baru yang telah ditetapkan oleh pemerintah tentunya membawa dampak positif dalam menggenjot sistem perekonomian yang saat ini tengah mengalami kemerosotan, tapi di sisi lain penerapan kebijakan ini membawa dampak negatif bagi kesehatan manusia. Intensi pemerintah dalam membuat kebijakan tersebut tentunya untuk memulihkan kembali keadaan perekonomian kita yang sedang merosot saat ini. Persoalan sekarang jika dikritisi secara lebih jernih, sebetulnya penerapan kenormalan baru hanya melahirkan setidaknya banyak ketimpangan yang meluas di ranah masyarakat kelas bawah. Penerapan kebijakan kenormalan baru sangat krusial. Tapi, tentu kita tidak ingin perekonomian masyarakat lumpuh yang justru bisa berdampak lebih destruktif ketimbang dampak medis yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 (Aritonang, 31/5/2020). Tatanan kehidupan baru saat ini bersifat dilematis. Dalam situasi kenormalan baru ini, yang kita butuhkan di sini adalah kesadaran baru dengan segala perubahan yang kita hadapi saat ini. Hospitalitas menjadi taruhan untuk menerima kebijakan kenormalan baru.

Merespons Kebijakan Pemerintah dengan Bertanggung Jawab

Setiap kebijakan publik yang diambil oleh pemerintah sebaiknya menyentuh pribadi-pribadi manusia (individual persons) yang berbeda. Kebijakan itu harus memperhitungkan potensi kesanggupan manusia yang heterogen dan tidak boleh memanipulasi atau mereduksi potensi kesanggupan manusia (Baghi 2014: 95). Kebijakan pemerintah dalam menerapkan kenormalan baru merupakan sebuah upaya yang langsung menyentuh kehidupan manusia. Pemerintah telah berupaya untuk menggenjot sistem perekonomian yang merosot meski pun kebijakan yang telah ditetapkan ini mereduksi kesehatan manusia. Era kenormalan baru terlihat juga dalam Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) yang akan dilonggarkan. Masyarakat akan kembali beraktivitas di ruang publik tetapi dengan mengikuti protokol kesehatan. Hal yang harus diperhatikan yakni kondisi dan situasi yang potensial bagi masyarakat untuk menikmati hidup yang layak. Artinya bahwa setiap masyarakat wajib mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga tercipta kondisi dan situasi kehidupan masyrakat yang layak. Ini semua adalah tujuan yang ingin dicapai (Baghi 2014: 93).

Memang berkaca pada realitas saat ini, kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah  membawa dampak yang cukup besar. Selain meningkatkan sistem perekonomian yang turun drastis, kebijakan ini diterapkan karena belum ditemukan vaksin sehingga pemerintah belum bisa memastikan musibah Covid-19 kapan berakhir. Namun, yang menjadi persoalannya sekarang, apakah dengan kebijakan kenormalan baru ini, masyarakat mampu menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau tidak?

Harus diakui bahwa masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan aturan pemerintah, misalnya tidak menjaga fisik, berkeluyuran di jalan dengan tidak menggunakan masker. Agar kebijakan kenormalan baru ini dapat berjalan efektif, tugas penting pemerintah adalah memastikan bahwa dalam setiap kebijakan yang dibuat seperti protokol kesehatan harus disertai dengan sanksi yang tegas bagi pelanggarnya. Travis Hirschi (1935-2017), ahli teori kontrol dari Amerika, menyatakan bahwa setiap manusia cenderung tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum (Rahayu 2011: 116). Penerapan sanksi yang tegas bagi masyarakat yang melanggar protokol kesehatan dari pemerintah dapat menjadi sarana untuk mengurangi potensi masyarakat melanggar protokol kesehatan dari pemerintah (Reanputra, The Columnist 31/5/2020).

Melihat realitas yang terjadi saat ini, implikasi praktisnya kita harus bertanggung jawab terhadap setiap tindakan kita dalam menyambut kenormalan baru. Artinya bahwa kita tidak boleh tenggelam dalam euforia baru sampai melupakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kenormalan baru menciptakan sebuah peradaban baru yang menuntut untuk peduli terhadap sesama. Tangung jawab untuk menaati protokol kesehatan sebagai sebuah tanggung jawab yang mesti dijalankan dengan sepenuh hati agar tidak membahayakan orang lain. Era kenormalan baru sebagai momentum membangun peradaban tanggung jawab terhadap diri kita dan terhadap sesama.

Di tengah meluasnya musibah Covid-19, Indonesia telah memasuki suatu era kenormalan baru. Era kenormalan baru sebagai suatu bentuk peradaban dari yang lama menuju kepada yang baru. Dalam memasuki era kenormalan baru sangatlah diperlukan hospitalitas dan tanggung jawab. Hospitalitas dan tanggung jawab kiranya menjadi kunci untuk memasuki era konormalan baru. Levinas secara gamblang menjelaskan tentang hospitalitas. Bagi Levinas, hospitalitas petama-tama dimulai dari gerakan kesadaran intensional. Dalam menyikapi kenormalan baru ini, kita harus mengarahkan kesadaran kita untuk keluar dari diri menuju kepada yang lain. Artinya bahwa, dengan adanya kebijakan kenormalan baru kita arus mengarahkan kesadaran kita untuk keluar dari peradaban masa lalu menuju kepada peradaban yang baru. Berkenaan dengan peradaban baru, kita membutuhkan keterbukaan yang tulus, ikhlas untuk menerima situasi ini. Bagi Levinas, kiblat dari kesadaran ini adalah atensi, yaitu keterarahan yang melibatkan di dalamnya suatu perhatian yang penuh. Perhatian tersebut harus diekspresikan dalam bentuk tanggung jawab terhadap protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dengan adanya kesadaran seperti ini, kita mampu melibatkan diri kita secara utuh dalam menghadapi peradaban yang baru.

Kebijakan kenormalan baru adalah sebuah imperativ yang ditetapkan oleh pemerintah. Masyarakat dituntut untuk terbuka, menyapa kenormalan baru sebagai sebuah realitas dari musibah Covid-19 yang tidak bisa dihindari lagi. Berkaca pada realitas saat ini, hospitalitas sebagai kekuatan yang menggerakan kita untuk keluar, yang memampukan kita untuk memberi respek terhadap situasi yang baru dengan mewujudnyatakan implikasi praktis dengan bertanggung jawab dalam menaati protokol kesehatan.

 

(Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero)

Komentar

Jangan Lewatkan