oleh

Istilah Asing dan Kiblat Perkembangan Bahasa Indonesi

-Opini-1.442 views

Oleh: Carlo Dagur

Globalisasi memungkinkan bangsa dan bahasa Indonesia eksis dalam konteks budaya global. Implikasinya, fenomena tertentu yang terjadi dalam skala global pun berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat, bangsa, dan bahasa Indonesia. Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19 atau penyakit virus korona) menjadi salah satu buktinya. Efeknya dalam bidang bahasa ialah serentak topik diskusi ruang publik berkisar pada Covid-19 dan bahasa pemberitaan media diwarnai istilah asing sekaligus ragam bahasa kesehatan.

Oleh karena bertaraf global, fenomena ini menyinggung bidang bahasa dalam hal adaptasi sosial-global (penanganan pandemi), sekaligus sarat mempertanyakan identitas bahasa Indonesia di tengah gempuran istilah asing. Bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang bersifat dinamis menjadikannya terbuka terhadap perkembangan zaman. Sebagaimana kehidupan yang dimiliki oleh makhluk hidup, bahasa pun tumbuh dan berkembang dalam dinamika. Bahasa menjadi hidup ketika masyarakat mempraktikkannya, dan mati jika tidak ada yang mempraktikkannya. Praktisnya, pengguna bahasa menentukan eksisnya sebuah kosakata. Namun, pengguna dalam berbahasa tentunya harus tetap mengikuti kaidah atau sruktur baku bahasa Indonesia.

Dalam praktik berbahasa kontemporer, globalisasi cenderung membuat masyarakat pengguna bahasa berpolemik: antara westernisasi dan primordialisme; antara kedinamisan sifat dan rigiditas kaidah berbahasa; serta antara perubahan dan kebiasaan. Problem yang banal ialah istilah asing lebih sering digunakan masyarakat daripada padanan kata hasil serapannya. Tulisan ini menjadi pijakan refleksi penulis yang menyoroti kiblat perkembangan bahasa Indonesia dalam pusaran pemodernan bahasa dan gejala keterjebakan bahasa dalam pusaran predisposisi (keadaan mudah terpengaruh).

Penyerapan Istilah Asing dan Ragam Bahasa Kesehatan

Bahasa adalah suatu lembaga kemasyarakatan. Kompleksitas dimensinya menjadikan bahasa berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain, baik perbedaan keragaman sosial penutur maupun keragaman fungsi sebagai alat komunikasi. Keragaman sosial penutur menghasilkan perbedaan idiolek, dialek, kronolek, dan sosiolek. Keragaman fungsi bahasa ditandai oleh perbedaan segi pemakaian, keformalan, dan segi sarana. Ditinjau dari segi pemakaian, variasi bahasa berhubungan erat dengan keperluan atau bidang yang dibicarakan (Wasiman, 2013: 1-2). Misalnya variasi bahasa bidang sastra, militer, pertanian, atau kesehatan tentunya berbeda satu sama lain. Dengan meruaknya pandemi Covid-19, intensitas pemakaian bahasa bidang kesehatan atau kedokteran pun meningkat.

Bahasa berperan penting dalam proses penelitian. Ainina Prihantini (2015: 2) menyebutkan salah satu fungsi umum bahasa yakni untuk mempelajari ilmu-ilmu tertentu. Ganasnya dampak pandemi Covid-19 menuntut para ilmuwan dan para medik agar serius melakukan penelitian terkait cara penyebaran dan upaya penjinakan virus tersebut. Alhasil, peran mereka meningkat drastis dalam keseharian dan media (media massa dan media sosial). Mereka memberikan klarifikasi, saran, dan upaya pencegahan terkait pandemi baru ini. Otomatis bahasa (istilah) yang digunakan ialah bahasa kesehatan (kedokteran), bahasa virologi, serta berbagai istilah asing dalam bentuk kata dan frasa. Istilah itu semakin diakrabi masyarakat melalui bahasa pemberitaan media dan himbauan pihak berwenang (pemerintah dan para medik).

Istilah asing yang bersifat internasional memudahkan pengalihan antarbahasa dan menjamin kelancaran interaksi global antarnegara. Proses penyerapannya dapat dipertimbangkan jika memiliki syarat: memudahkan pengalihan antar bahasa (lebih cocok dan lebih singkat) dan mendukung kesepakatan (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2012: 64). Bahasa asing umumnya berfungsi sebagai alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern dan alat pemanfaatan ilmu demi pembangunan nasional.

Dengan mengglobalnya pandemi Covid-19, umumnya istilah asing yang muncul terbagi dalam dua kategori, yaitu: istilah asing yang sudah memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia dan istilah asing bentukan baru yang belum memiliki padanannya dalam bahasa Indonesia. Kata atau istilah asing—khususnya kata yang dirangkum penulis selama masa pandemi—berintegrasi dengan bahasa Indonesia melalui cara penyerapan, penerjemahan, ataupun kombinasi keduanya.

Kata dan istilah hasil penyerapan ialah anus, urine, specimen (spesimen), pandemic (pandemi), local transmission (transmisi lokal), imported case (kasus impor), quarantine (karantina), social dinstancing (pembatasan sosial), cluster (klaster), Waba (Arab) diserap menjadi wabah. Kata dan istilah hasil penerjemahan ialah lockdown (penutupan, penguncian, dan pembatasan), work from home (bekerja dari rumah), droplet (butiran ludah), suspect (terduga).

Kata dan istilah hasil kombinasi antara cara penerjemahan dan cara penyerapan ialah rapid test (tes cepat), flattening the curve (pelandaian kurva), herd immunity (imunitas kelompok), hand sanitizer (penyanitasi tangan), thermal scanner (alat pemindai suhu), under investigation (dalam proses investigasi). Penyerapan dan penerjemahan semua istilah ini mengikuti kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan. Penyerapan mendukung sifat dinamis bahasa. Namun, sebagian besar hasil penyerapan ini tidak terdapat dalam KBBI V (edisi revisi) sebagai salah satu referensi baku dalam berbahasa Indonesia.

Sifat Dinamis dan Kiblat Bahasa Indonesia

Secara historis, bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu selalu mengalami perkembangan. Perkembangan itu mewujud dalam penambahan kata baru, penyerapan bahasa asing, hingga penetapan struktur penulisan atau ejaan yang baku. Ejaan bahasa Indonesia mengalami perkembangan dari masa ke masa, mulai dari ejaan Van Ophuijsen, Ejaan Soewandi, Ejaan Pembaruan, Ejaan Melindo, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hingga Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Implikasi praktis perubahan ini ialah revisi berkala Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kosakata baru turut memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia, tetapi tidak sampai merusak segi struktur bahasa.

Rentetan proses perubahan dan pembentukan dalam bahasa Indonesia menunjukkan sifatnya yang dinamis. Bahasa tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Sebagaimana kehidupan makhluk hidup, bahasa tumbuh dan berkembang dalam dinamika. Bahasa menjadi hidup ketika masyarakat mempraktikkannya, dan mati jika tidak ada yang mempraktikkannya. Praktisnya, pengguna bahasa menentukan eksisnya sebuah kosakata. Polemik berbahasa dalam praksis kontemporer masyarakat Indonesia merujuk pada sikap yang ambivalen: ada niat untuk memodernkan bahasa Indonesia, tetapi ada pula kecenderungan untuk lebih mengapresiasi bahasa asing.

Penetapkan aturan baku penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, selalu beriringan dengan praktik pengingkaran dari masyarakat. Dalam keseharian, kaum muda atau pemeran acara hiburan di teve yang berbahasa Indonesia dengan menyelipkan bahasa gaul dicap alay, orang yang menyelipkan bahasa asing dikatai kebarat-baratan, atau orang yang menyelipkan bahasa daerah dituduh primordialisme. Belum lagi kesenjangan antara bahasa perdebatan para pakar di teve dan tingkat pemahaman para pemirsa makin tampak. Namun, banyak juga pihak yang positif memandang rangkaian praktik seperti ini.

Gempuran istilah asing di tengah pandemi Covid-19 tentunya relevan dan efektif membantu para tenaga medik dalam negeri untuk mempelajari cara penanganan pandemi ini dari negara asing. Akan tetapi, absennya padanan kata dari istilah asing itu dalam pemberitaan dapat menimbulkan polemik dalam masyarakat. Hemat penulis, istilah asing yang muncul bersamaan dengan pandemi Covid-19 seyogianya menyulut semangat berpolemik masyarakat dalam menentukan nasib bahasa Indonesia. Bahwasanya, praktik berbahasa kontemporer terjebak antara ekstrem westernisasi dan primordialisme; antara predisposisi dan konsistensi; antara tuntutan kurikulum pendidikan dan keterbatasan pendidikan; serta antara perubahan dan kebiasaan.

Kiblat bahasa dipertanyakan karena kedinamisan sifat dan perkembangannya ditentukan oleh pengguna sendiri. Bahasa Indonesia tetap memancarkan autentisitasnya dalam arus perkembangan zaman, jika masyarakat Indonesia dengan gencar dan konsisten mempraktikannya secara baik dan benar. Yang pasti, bahasa Indonesia tidak boleh menjadi bahasa identitas tanpa status karena terjebak dalam pusaran predisposisi (mudah terpengaruh). Kiat penyerapan harus gencar dilakukan dan KBBI harus direvisi lagi. Berikutnya, media arus utama sebagai salah satu sarana pendidikan masyarakat harus gencar memasarkan penggunaan istilah hasil serapan tersebut. Dengan demikian, masyarakat terhindar dari kekacauan berbahasa, selain terjaganya stabilitas bahasa asli Indonesia dan bahasa hasil serapan.

 

(Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero)

Komentar

Jangan Lewatkan