oleh

Kasih: Persaudaraan Sejati

-Opini-458 views

Oleh: Sr. M. Laurensia, SFS

Persaudaraan sejati adalah kebutuhan utama umat manusia dalam relasinya satu sama lain. Persaudaraan sejati itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa dahsyatnya dan akan mengubah wajah dunia manakala manusia hidup di dalamnya. Kasih dapat menjadi dasar dan landasan bagi kita dalam upaya untuk dapat mewujudkan persaudaraan sejati. Persaudaraan dalam hidup bersama sering saya ibaratkan dengan tanaman dalam satu pot atau sebuah rangkaian bunga yang indah. Dalam hidup bersama walapun satu keluarga, tetap ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Rangkaian bunga yang indah itu terdiri dari berbagai macam warna, jenis, ukuran yang dijadikan satu dalam satu vas, sehingga menjadi satu kesatuan yang indah, demikian pula, dengan satu pot yang berisi satu jenis tanaman. Dari satu jenis tanaman yang sama pun tetap ada tanaman yang tua, muda, panjang, pendek, hijau tua, hijau muda, ada yang sudah agak kuning, dan mungkin juga ada yang sudah kering. Jika kita perhatikan, perbedaan tersebut malah menjadikan tanaman itu semakin tampak indah dan serasi sesuai dengan kodratnya. Tuhan telah menciptakan dalam keindahannya apa yang menjadi anugerah istimewa bagi kita, umat-Nya.

Upaya untuk mewujudkan persaudaraan sejati telah berlangsung sekian lama. Namun, hingga kini kebencian, keserakahan, keputusasaan, dendam, peperangan dan lain-lain masih merajalela di muka bumi ini. Persaudaraan sejati ternyata masih jauh dari jangkauan, meski riak-riak kehadirannya terus kita rasakan. Bagaimana dengan hidup kita dalam keluarga, masyarakat, terlebih dalam kebersamaan di Gereja? Apakah kebencian masih meraja dalam hidup menggereja kita? Pertanyaan-pertanyaan ini kadang kurang kita perhatikan, yang penting kita merasa senang, dan akhirnya menjadi kurang peduli dengan orang lain yang ada di sekitar kita.

Dasar dari konsep persaudaraan sejati adalah konsep saudara. Saudara sangat berkaitan dengan pertalian darah antar individu dalam suatu masyarakat. Namun, itu hanya satu aspeknya atau arti sempit dari kata itu. Saudara juga kita pahami secara lebih luas, sebagai sesama manusia, siapa saja yang ada di sekitar kita yang karena satu dan lain hal terjalin erat dengan kita. Santo Fransiskus Assisi memahami kata saudara secara jauh lebih luas, dengan melihat seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudarinya. Bersama Fransiskus Assisi kita patut melihat bahwa segala sesuatu yang ada di dalam alam raya yang maha besar ini, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, saling berhubungan karena semuanya mempunyai akar dan sumber yang satu dan sama, yakni Yang Ilahi,Sang Pencipta sendiri. Karena itu, sepatutnya semua unsur ciptaan hidup dalam keharmonisan dan keseimbangan, keharmonisan antara manusia dengan sesama dan alam sekitar.

Persaudaraan mengandaikan cinta, hormat, dan melakukan yang terbaik bagi orang-orang lain di sekitar kita.Karena itu ‘saudara’ artinya adalah mereka yang menyusu pada ibu yang satu dan sama, berbagi rahim, hidup dalam satu rumah, menanggung penderitaan dan membagi kegembiraan bersama. Kalau pandangan ini ditarik lebih jauh, dengan menempatkan ibu bumi sebagai rahim dan penyalur kehidupan (susu), maka semua penghuni alam semesta adalah sesama saudara.

Berdasarkan pemahaman di atas maka persaudaraan sejati berarti suatu pertalian antar individu yang saling menghargai, menghormati, mencintai, melindungi. Suatu pertalian yang mendorong orang untuk melakukan hal-hal terbaik yang dapat dia lakukan untuk sesamanya tanpa pretensi untuk mencari keuntungan pribadi. Banyak tokoh yang telah menjalani hidup seperti ini. Yesus Kristus, orang Nazareth, patut menduduki posisi puncak untuk ini, dan Dialah model bagi suatu kehidupan di dalam ikatan persaudaraan sejati. Tokoh-tokoh lainnya yang bisa kita masukkan adalah Santo Fransiskus dari Assisi, Ibu Theresa dari Kalkuta, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Paus Yohanes Paulus II dan masih banyak lagi.

Untuk dapat membangun persaudaraan sejati pertama-tama kita perlu menegakkan suatu relasi yang benar dengan sesama dan lingkungan. Engkau dan aku adalah sejajar. Di sana tidak ada dominasi dan kontrol. Hubungan yang sejajar itu diberi unsur cinta dan hormat lalu kemudian diperkaya dengan kehendak yang kuat untuk selalu melakukan yang terbaik bagi sesama dan lingkungannya. Terwujudnya persaudaraan sejati adalah impian semua orang. Bahkan inti pesan yang disampaikan para nabi dalam kaitannya dengan hubungan antara manusia adalah demi terwujudnya persaudaraan sejati. Yesus memberikan diri-Nya sebagai saudara bagi semua orang. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Banyak karya cipta manusia yang menunjukkan betapa besarnya impian manusia akan terciptanya suatu persaudaraan sejati di muka bumi ini. Sebagai contoh, adalah karya Santo Fransiskus yang telah disebut di atas. Sejatinya, agama tidak bisa menjadi penghalang terwujudnya hidup dalam damai dan persaudaraan. Bila agama dijalankan sesuai dengan jiwanya, maka dampaknya adalah hidup dalam perdamaian dan persaudaraan. Itulah barangkali yang disebut sebagai surga di bumi.

Aspek penting dari persaudaraan adalah pertama-tama cara mewujudkan hubungan antar manusia. Pertanyaan pokok dalam rangka itu yaitu apakah kita bergaul sebagai saudara? Apakah kita berlaku satu sama lain sebagai saudara sejati dengan perhatian dan respek? Apakah kita bekerja sama sebagai saudara? Apakah kita mampu memperjuangkan suatu proyek bersama-sama berdasarkan nilai-nilai bersama? Dalam arti itu, persaudaraan merupakan kualitas perilaku manusia. Persaudaraan itu bisa dilatih dan kita bisa berusaha untuk mewujudkannya.

Dalam persaudaraan kita menemukan batas-batas pribadi kita yang ada karena ‘egosentrisme’ alamiah atau pemusatan pada diri sendiri. Walaupun kita berbudi luhur, jika kita ingin tetap menjadi manusia yang sehat, kita harus mengindahkan kebutuhan alamiah kita akan keamanan, pegangan, dan kepastian. Untuk itu, kita membutuhkan orang lain. Di sisi lain, kita juga harus melindungi dengan baik ruang gerak hidup kita sendiri. Tidak seorang pun bisa hidup dalam kevakuman. Manusia tidak bisa hidup dalam ruang dan waktu tanpa kepastian tertentu. Persaudaraan menciptakan ruangan aman dengan banyak unsur persamaan. Dalam persaudaraan kita bisa menerima orientasi.

Kasih adalah suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan baik mahkluk hidup maupun benda mati, seperti menyayangi diri sendiri berlandaskan hati nurani yang luhur. Kita sebagai warga Negara Indonesia yang baik sudah sepatutnya untuk terus memupuk rasa kasih terhadap orang lain tanpa membedakan saudara, suku, ras, golongan, warna kulit, kedudukan sosial, tua dan muda. Dalam hidup yang semakin tak menentu ini, telah banyak sekali perubahan terjadi. Khususnya pada perilaku dan cara bepikir manusia. Makin lama semakin bergeser ke arah yang memprihatinkan.

Di mana-mana sering terjadi ketidakpedulian akan nasib dan keadaan sesamanya. Rata-rata tiap orang sibuk, bahkan terlalu cenderung memikirkan diri sendiri. Tak peduli akan kondisi dan keadaan yang ada di sekitarnya. Hal ini tak lepas dari pengaruh cara bepikir yang maunya enak sendiri, benar sendiri, dan mau menang sendiri. Jarang sekali kita lihat rasa kepedulian yang benar-benar murni karena ingin menolong dan berbagi terhadap sesamanya. Selalu saja ada embel-embel di balik tindakan yang sedang dilakukan. Yang jelas, ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi atau golongan. Terlalu banyak bumbu-bumbu kemunafikan yang dicampurkan. Terlalu sering kebohongan ditampilkan tanpa rasa malu.

Nilai-nilai keutamaan dan kebaikan sudah mulai luntur oleh kerakusan, kemurkaan, keangkuhan, dan kebodohan kita sendiri. Sampai kapan ini akan selalu menimpa hidup dan kehidupan kita? Tak ada yang bisa menjawabnya kecuali diri kita sendiri.Ya, semua kembali kepada niat dan kemauan pribadi masing-masing. Dimana ada kemauan, di situ pasti akan ada jalan. Asal semua itu dilakukan dengan dasar keikhlasan dan kemurnian hati yang tulus. Banyak jalan dan cara untuk berbagi kepada sesama. Banyak jalan untuk menuju persaudaraan yang hakiki. Banyak cara untuk mewujudkan kasih yang membangun persaudaraan yang sejati. Kita semua bisa dan pasti bisa untuk menjalaninya! Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa merasa tertekan. Orang lain memberi pegangan kepada kita. Mereka memberi kita peluang untuk mengembangkan kehidupan kita sendiri ‘dengan aman’.

Yakinlah, bahwa hidup ini akan semakin lebih punya arti dan makna, jika kita mau saling berbagi dan mengasihi. Kebahagiaan sejati adalah ketika kita mau memberi. Kedamaian sejati adalah saat kita bisa menerima kenyataan akan perbedaan yang ada. Tiada yang lebih luhur dari saling mengasihi; tiada yang lebih mulia dari saling memberi. Mari kita saling berbagi dan saling mengasihi. Semoga kedamaian dan kebahagiaan selalu mewarnai kehidupan kita. Persaudaraan sejati semakin nyata dalam kebersamaan kita. Salam dan Berkah Dalem. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan