oleh

Kebijakan Lokcdown vs Social Distance

-Opini-1.670 views

Oleh : Fridrik Makanlehi

Bagaikan babak baru “pencitraan perang politik antar kekuasaan (pemimpin)”.

Lockdown dan social distance merupakan sebuah kata yang sangat popular maupun sebuah kata keren yang sedang familiar digunakan pasca terjadinya wabah virus corona atau Covid-19 di seluruh dunia.

Awalnya, virus corona terjadi di kota Wuhan Cina hingga kini menyebar ke seluruh dunia. virus corona menyerang pada sistem pernapasan manusia hingga berakibatkan kematian. Efek dari menyebarnya virus corona ini, mengakibatkan manusia menjadi ketakutan keluar rumah, manusia sulit beraktivitas, manusia sulit membangun sosial kemasyarakatan dan manusia sulit gotong royong di lingkungan keberadaannya. Lantas, dari manakah datangnya virus corona?

Semua orang bertanya-tanya, darimanakah virus ini. Siapa penyebab terjadinya virus ini, kok sampai saat ini, belum ditemukan penangkalnya?. Ada yang mengatakan virus corona datangnya dari hewan seperti kelelawar, ular hingga trenggiling dan beberapa jenis binatang lainnya disebut sebagai reservoir virus corona. Sehingga jenis hewan ini pun masih dalam tahap kajian, ada pula mengatakan, Amerika dalangnya virus corona. Tujuannya adalah strategi Amerika untuk menghancurkan perang dagang yang akan dikuasai oleh Cina. Sehingga Wuhan Cina menjadi sasaran utama penyerangan virus corona.

Kenapa kota Wuhan Cina menjadi sasaran utama penyerangan Virus Corona?

Menurut Alwi Haidar, diduga bahwa Amerikalah dalangnya virus corona untuk menghancurkan system perdagangan, sistem perekonomian, sistem produk manufaktur sebab kota Wuhan merupakan jantungnya Tiongkok, tempat persimpangan jalur kereta api, perencanaan untuk membentuk wilayah Tiongkok Tengah, Airport Tianghe Internasional satu satunya bandara yang mempunyai penerbangan langsung ke lima benua yang berbeda, Selaib itu, kota manufaktur yang memproduksi mobil maupun peralatan medis.

Target utama penyebaran virus corona adalah kota Wuhan Cina, namun penyebaran pandemic virus corona tersebut berpotensi, berdampak bahkan akan menyebar secara global ke seluruh dunia. Terbukti sudah kurang lebih 141 negara telah terjangkit virus corona, termasuk Indonesia.

Dampak penyerangan virus corona: sistem perekonomian bisa melemah/lumpuh, sistem perdagangan bisa terhenti, aktivitas pekerjaan akan terhenti sementara waktu.

Dampak tersebut berpengaruh pada perang politik kekuasaan antar kepemimpinan, kini sedang terjadi di negeri sendiri (Indonesia) yakni ada dualisme keputusan yang dilakukan oleh Pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang tidak sejalan.

Kebijakan Presiden vs Gubernur DKI Jakarta

Maraknya penyebaran virus corona di pusat Ibukota menyebabkan pro dan kontra antar pendapat, antar komunitas, antar Partai, antar individual, bahkan antar Pemerintah dengan Pemerintah yakni Pemerintah Provinsi tidak sejalan dengan keputusannya Pemerintah Pusat. Parahnya Presiden Republik Indonesia membuat keputusan tidak diikuti oleh bawahannya. Inikah yang dinamakan pencitraan perang politik antar kekuasaan?

Untuk mencegah dampak masalnya penyebaran virus corona di Indonesia, Presiden Republik Indonesia memutuskan bahwa seluruh pekerjaan, kuliah, sekolah, dilakukan secara social distance (work for distance). Presiden Jokowi mengambil keputusan ini demi menghindari kontak fisik, jarak komunikasi/sentuhan face to face, perkumpulan dan lain sebagainya. Ada beberapa negara telah menerapkan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona.

Jokowi mengatakan “Tidak ada kita berpikir ke arah kebijakan lockdown,” Pemerintah pusat belum berpikir tentang lockdown namun Pemerintah lebih berpikir tentang social distance, lanjutnya, pemerintah berupaya mengurangi mobilitas perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain, mengurangi kerumunan/pertemuan perkumpulan yang membawa risiko besar penyebaran virus corona.

Sedangkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengambil keputusan “lockdown” artinya mengunci, lockdown virus corona ialah suatu bentuk tindakan penanganan untuk mencegah penyebaran wabah virus corona, tujuannya untuk mengunci seluruh akses keluar maupun masuknya rotasinya manusia dari/asal dan mau ke tujuan begitupun sebaliknya.

Walaupun pro dan kontra kebijakan, indahnya kedua kebijakan ini disatukan dengan kebijakan work from home atau bekerja di rumah.

Lalu, pertanyaannya; sampai kapan kita akan terus bertahan di work from home, lockdown dan social distance?

Lalu, apa yang terjadi jika kita tetap bertahan di kebijakan Lockdown?

  1. Bisa jadi, Indonesia akan menjadi negara lumpuh/mati karena tidak ada aktivitas pekerjaan manusia secara fisik, secara langsung atau tidak ada pergerakan manusia secara terlihat.
  2. Terjadinya peningkatan pengangguran akibat terhentinya aktivitas ekspor dan impor. Parahnya, karyawan yang dipekerjaan berdasarkan hitungan jam kerja akan rugi total. Sehari tidak masuk kantor pasti ada pemotongan gaji.
  3. Distribusi bahan pangan atau sembago akan terhambat/mandeg/lumpuh sehingga harga bahan pangan maupun sembako akan mahal, monopoli harga barang akan terjadi dimana-mana.
  4. Bisa jadi, pihak sebelah akan demo berjilid-jilid katanya Presiden tidak sanggup mengatasi harga ekonomi yang melonjak tinggi, krisis ekonomi terjadi, Pemerintah tidak sanggup mengatasi virus corona dan lain sebagainya. Seribu alasan dijadikan kaum oposisi untuk menyerang Kualisi-pemerintah.
  5. Di momen lockdown, orang akan menggunakan kesempatan ini untuk berlibur atau mudik ke kampung halaman secara serempak. Dampaknya, orang yang bermudik dari kota ke pedesaan akan fatal. Sehingga pedesaan pun tersuspect atau tertular wabah virus corona.
  6. Indonesia merupakan negara yang 30 persen kuota impornya dipenuhi oleh Tiongkok sebesar Rp 611 Triliun atau USD 44,5 miliar (Haidar Alwi). Rute penerbangan ke beberapa kota di Cina dihentikan maka dengan sendirinya, Indonesia akan kelabakan perputaran ekonomi atau perdagangan antara Indonesia dengan Cina akan tersendat. Tentu Indonesia akan rugi meroket.

Wabah virus corona semakin hari semakin bertambah, semakin menular kesegala tempat, lantas sampai kapan kita akan bersembunyi terus menerus demi melawan atau mencegah penyebaran virus corona. Sehingga hal lockdown perlu dipikirkan kembali.

Apakah pemerintah sanggup menanggulangi jutaan kebutuhan manusia di Indonesia?

Silakan di-lockdown berbulan-bulan asalkan Pemerintah sanggup mengakomodasi atau menanggulangi kekurangan kebutuhan rumah seperti kekurangan kebutuhan dapur, kebutuhan kamar mandi, kebutuhan kamar tidur dan kebutuhan penanggulangan fasilitas lainnya.

Lambat laum keran lockdown akan dibuka demi memenuhi kehidupan perekonomian dalam rumah.

Kita lihat saja episode selanjutnya antara pencitraan perang politik kekuasaan kepemimpinan negeri ini, siapakah yang akan mengalah demi bangkitan kehidupan masyarakatnya.

Masyarakat Indonesia tidak perlu panik, tidak perlu takut, tidak boleh menyebarkan berita yang hoaks atau berita yang bersifat manakuti, perlu menfilter/menyaring sumber berita pemberi informasi virus corona, tetap berwaspada, saling menguatkan satu sama lain, sebarlah berita yang pantas dan bisa memotivasi orang lain, tetaplah berdoa dan mengandalkan TUHAN. TUHAN pun tidak tinggal diam melihat anak-anakNya menangis terus menerus. Mari kita bergandengan dari hulu sampai hilir kita perangi virus corona.

 

(Penulis adalah Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI dan DPP Gemuruh Partai NasDem)

Komentar

Jangan Lewatkan