oleh

Kematangan Pemikiran Sistem

-Opini-323 views

Oleh: Vincent Gaspersz

Metodologi Sistem belum banyak dipahami oleh akademisi maupun praktisi di Indonesia, sehingga menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis sistem menjadi lambat. Demikian pula pembangunan berbasis sistem terintegrasi belum dilakukan untuk mencapai keunggulan-keunggulan seperti efektivitas, efisiensi, produktivitas dan kualitas yang memenuhi persyaratan, kebutuhan dan kepuasan pihak-pihak yang terlibat dan berkepentingan (stakeholders).

Sistem adalah sekumpulan elemen terintegrasi, sub-sistem, atau rakitan (assemblies) yang mencapai tujuan tertentu sesuai kesepakatan yang didefinisikan. Elemen-elemen ini termasuk perangkat keras, perangkat lunak, firmware, proses-proses, orang-orang, informasi, teknik-teknik, fasilitas, jasa-jasa, dan elemen pendukung lain (INCOSE, 2015).

Rekayasa Sistem (System Engineering) adalah sebuah pendekatan interdisipliner atau multi disiplin dan upaya yang memungkinkan realisasi sistem yang sukses. Hal ini berfokus pada penentuan kebutuhan pelanggan dan kebutuhan fungsionalitas sejak awal mulai dari siklus pengembangan, mendokumentasikan persyaratan, dan kemudian dilanjutkan dengan sintesis desain dan validasi sistem sambil mempertimbangkan masalah secara lengkap atau komprehensif yang berkaitan dengan: operasional, biaya dan jadwal, kinerja, pelatihan dan dukungan, uji-uji, pembuatan atau pengolahan, dan pembuangan.

Rekayasa sistem mengintegrasikan semua disiplin ilmu dan kelompok khusus menjadi usaha tim yang membentuk proses pengembangan terstruktur yang dihasilkan dari konsep menjadi produksi kemudian operasional. Rekayasa sistem mempertimbangkan secara bersama kebutuhan pasar dan kebutuhan teknis dari semua pemangku kepentingan dengan tujuan memberikan produk yang berkualitas agar memenuhi kebutuhan pengguna.

Hirarki Sistem

Dalam hirarki sistem, menempatkan Sistem Informasi sebagai hirarki terendah (hirarki paling dasar – hirarki 1) dari semua hirarki sistem. Kita bisa membayangkan, jika pada hirarki paling mendasar itu saja, kita tidak memahami, maka apalagi memahami pada hirarki di atasnya.

Itu alasan sehingga organisasi yang hanya menggunakan manajemen omong-omong tanpa informasi, maka disebut Stupid Organization karena tidak memiliki kecerdasan dan tidak akan ke mana-mana, artinya tujuan organisasi itu tidak akan pernah tercapai.

Thwink.org (2017) membagi pemikiran sistem ke dalam beberapa tingkat berikut:

Pertama, Tingkat 0. Tidak Sadar – Sepenuhnya tidak mengetahui konsep pemikiran sistem.

Kedua, Tingkat 1. Kesadaran Dangkal – Pemikir sistem pada Tingkat 1: Kesadaran Dangkal cukup sadar akan konsep sistem namun tidak memahaminya dengan baik. Masalahnya di sini adalah tipe orang ini mungkin merasa sebagai telah memahami dan berpikir sistem, tetapi sesungguhnya mereka bukan pemikir sistem yang benar.

Mereka yang berada pada Tingkat 1: Kesadaran Dangkal ini, tidak mendapatkan manfaat dari analisis berpikir sistem yang sebenarnya. Mereka juga tidak bisa menilai yang mana merupakan sistem yang baik dan yang mana merupakan sistem buruk? Mereka yang berada pada tingkat 1: Kesadaran Dangkal ini sering disebut sebagai pemikir sistem semu.

Ketiga, Tingkat 2. Kesadaran Mendalam – Pemikir sistem yang berada pada Tingkat 2: Kesadaran Mendalam ini sepenuhnya menyadari konsep kunci pemikiran sistem dan memiliki pemahaman yang baik akan pentingnya dan potensi manfaat dari pemikiran sistem. Mereka dapat membaca diagram alir sebab-akibat dan model simulasi sederhana, dapat berpikir sedikit dalam hal loop umpan balik, namun mereka belum dapat menciptakan diagram dan model sistem yang baik.

Keempat, Tingkat 3. Pemula – Seorang pemikir sistem pemula memiliki kesadaran yang dalam dan mulai melakukan penetrasi atau “membedah” kotak hitam untuk mengetahui mengapa sebuah sistem berperilaku seperti itu?. Paling sedikit mereka telah belajar bagaimana menciptakan diagram alir sebab akibat dan dapat menggunakannya untuk solusi masalah yang mudah dan sedikit masalah sistem yang kompleks. Seorang pemikir sistem pemula yang baik akan mampu membaca model simulasi sistem secara baik.

Kelima, Tingkat 4. Ahli – Seorang ahli telah melakukan langkah-langkah raksasa lebih jauh daripada seorang pemula. Mereka telah belajar bagaimana membuat model simulasi yang benar menggunakan alat-alat dinamika sistem. Hal ini memungkinkan mereka memecahkan masalah sistem yang rumit atau kompleks.

Keenam, Tingkat 5. Guru – Ini adalah seorang ahli berpengalaman yang mampu mengajar orang lain untuk menjadi ahli dan yang dapat membuat kontribusi penting untuk memecahkan masalah sistem yang kompleks dan sangat sulit.

Berdasarkan pengalaman penulis tingkat kemajuan seorang pemikir sistem akan meningkat secara pesat bersamaan dengan aplikasi pemikiran sistem dalam dunia nyata setelah yang bersangkutan berada pada Tingkat 2: Kesadaran Mendalam.

 

Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management Systems Lead Specialist

Komentar