oleh

Korupsi dan Degradasi Moralitas Kepemimpinan

-Opini-756 views

Oleh: Kanisius Bauk

George Berkeley, dalam tulisannya mengatakan bahwa “kebenaran adalah jerit kerinduan semua orang, namun permainan bagi segelintir orang”. Andai saja konteks kepemimpinan bangsa kita ditempatkan dalam ‘awasan’ George, maka mekanisme kepemimpinan kita tengah berada di suatu persimpangan yang minus akan nilai moralitas. Pemimpin pada umumnya adalah orang yang dipercayakan untuk memimpin suatu kelompok masyarakat. Sebab itu pemimpin adalah titik utama atau tokoh sentral bagi masyarakat. Kepemimpinan sejatinya adalah proses atau rangkaian kegiatan yang saling berhubungan satu dengan yang lain, sekaligus merupakan seni mengatur kesejahteraan, keadilan dan kedamaian bersama. Seni mengatur kesejahteraan sama halnya dengan suatu proses kinerja yang benar-benar menyentuh sekaligus membahagiakan kehidupan universal. Hal ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Untuk mencapai titik ini maka seorang pemimpin harus benar-benar bijak. Sebab itu, moralitas menjadi sahabat utama yang sangat penting bagi seorang pemimpin.

Moralitas adalah ukuran dari kebaikan dan kebenaran. Setiap kebenaran selalu berpangkal pada moral. Moral adalah kata hati, suara hati, perasaan sekaligus merupakan suatu prinsip yang apriori dan absolut. Moral sejatinya adalah kata hati. Kata hati merupakan suatu categorical imperative, perintah tanpa syarat yang ada di dalam kesadaran manusia. Kata hati itu memerintah. Perintah itu ialah perintah untuk berbuat sesuai dengan keinginan universal, yaitu suatu hukum kewajaran. Hukum kewajaran itu adalah keadilan dan kesejahteraan universal. Sebab itu, pada titik ini perlu diketahui bahwa kata hati adalah keberadaan kebenaran dan kebaikan yang paling hakiki.

Emanuel Kant dalam tulisannya mengatakan bahwa kebaikan moral adalah sesuatu yang baik dari segala segi dan baik tanpa pembatasan. Jadi, yang baik bukan hanya dari beberapa segi, melainkan baik begitu saja dan secara mutlak. Yang baik tanpa pembatasan sama sekali hanya satu yaitu kehendak baik. Kant menandaskan bahwa segala perbuatan baik dan benar selalu berpangkal pada moral yang kemudian disempurnakan oleh iman. Iman pada umumnya merupakan identitas diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang bermoral. Iman adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan religius manusia.

Namun, dewasa ini dalam mekanisme kepemimpinan kita tampak jelas bahwa, pemimpin kita tengah berada di suatu persimpangan yang benar-benar minus akan nilai moralitas. Kita tahu bahwa pejabat-pejabat kita, baik di daerah maupun di pusat memanipulasi kehendak sovereign, serta korupsi yang terus merajalela. Hal ini semakin jelas kita lihat di sini bahwa terjadi sebuah anomali relasi kekuasaan antara ‘pejabat’ dan rakyat jelata.

Realitas di atas terkesan tidak masuk akal. Akan tetapi, nyatanya melukai nurani publik, lantaran prinsip-prinsip demokrasi seperti kesamaan, keadilan, kesejahteraan umum, rasionalitas dan kebebasan dikangkangi. Fenomena ini terlihat semakin jelas dengan merebaknya Covid-19 yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Kita lihat bahwa di tengah situasi yang cukup miris dan sulit, akibat Covid-19 ini pun masih terjadi mekanisme persekongkolan dan korupsi yang tak terhindari.

Pos kupang.com Selasa, 2 Juni 2020 memuat berita terbaru bahwa di tengah keprihatinan yang dialami warga akibat pandemi Covid-19 ini, pemerintah menyalurkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) guna membantu masyarakat yang miskin dan menderita. Namun, di tengah situasi tersebut Kepala Dusun dan anggota BPD, tega mengorupsi BLT yang diberikan kepada masyarakat. Selain itu pada tempat yang lain sebagaimana yang dilansir dalam pos kupang.com Selasa 12 Mei 2020 terungkap bahwa Kadis PU Ngada di tengah pandemi covid-19 ini juga, telah mengorupsi uang negara dengan jumlah mendekati 1 miliar rupiah. Fenomena ini cukup miris dan sangat memprihatinkan.

Senada dengan kedua kasus di atas, pada tempat yang lain pun masih terjadi hal yang sama. Sebagaimana yang dimuat dalam Kompas.com Rabu 22 April 2020 bahwa terdapat delapan anggota pejabat yang dipecat karena mengorupsi uang Negara.

Beberapa fakta di atas sekiranya menandaskan lebih jelas bahwa skandal korupsi melanda bangsa ini belum berakhir dan belum cukup tuntas dibasmi. Fakta ini pun sesungguhnya mau menunjukkan bahwa kepemimpinan kita dewasa ini cukup menodai nilai moralitas yang adalah fondasi utama sebagai kekuatan dalam memimpin masyarakat. Moral, meminjam bahasa Paul Ricoeur, adalah sesuatu yang berkaitan dengan realisasi hidup baik dalam bentuk norma-norma yang mengandung kewajiban atau obligasi serta kesejahteraan universal. Kewajiban dan kesejahteraan adalah dua hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab kedua hal ini membutuhkan suatu tanggung jawab yang hakiki. Tanggung jawab yang dimaksudkan di sini adalah bukan sembarangan tanggung jawab, melainkan suatu tanggung jawab yang benar-benar berasal dan bersumber dari kata hati atau moralitas demi kebahagiaan bersama. Kebahagiaan adalah tujuan terakhir hidup, yang diharapkan oleh setiap manusia.

Emmanuel Levinas dalam tulisannya mengatakan bahwa tanggung jawab pada prinsipnya merupakan perbuatan atau tindakan untuk menanggapi situasi kemanusiaan. Situasi kemanusiaan itu tidak lain adalah kesusahan, kemelaratan dan kemiskinan. Sebab itu, perlu diketahui bahwa tanggung jawab pertama-tama adalah sebuah jawaban yang diberikan atas kehadiran yang lain. Yang lain, yang dimaksudkan di sini adalah semua masyarakat, bukan untuk kelompok tertentu.

Namun, realitas sekali  lagi menunjukkan bahwa pada zaman sekarang terlihat suatu fenomena yang cukup miris dan cukup memprihatinkan. Kita lihat bahwa dewasa ini, manusia pada umumnya, dan kepemimpinan kita pada khususnya belum sungguh-sungguh menyadari esensi dan nilai dari tanggung jawab dan moralitas itu sendiri. Bahwasannya, tidak sedikit pemimpin yang bertindak sesuka egonya, demi kepentingan kelompok sendiri ketimbang keadilan bersama dan kesejahteraan universal.

Fakta di atas sekiranya semakin jelas menandaskan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi tidak cukup menjamin integritas kepribadian seorang pemimpin ketika berhadapan dengan hasrat untuk keuntungan pribadi dengan statusnya sebagai pejabat pemerintahan. Moralitas dan kaitanya dengan pencegahan kasus korupsi merupakan proses aplikasi praktis pendidikan untuk mencegah kecendrungan egosentrisme dalam diri manusia. Sebab itu pada bagian ini penulis memberikan beberapa point terkait pencegahan merebaknya kasus korupsi.

Pertama, mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang takan pernah bebas dari hasrat dan dorongan-dorongan egoisme, maka pada titik ini menjadi sangat penting mempersiapkan diri secara matang. Mempersiapkan diri yang dimaksud penulis di sini adalah memperkokoh fondasi religius serta keyakinan yang benar-benar membantu serta mengarahkan hati nurani pada praksis moral. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, sebab seorang pemimpin yang mengabaikan norma moral agamanya, bukan tidak mungkin lebih mengikuti hasrat untuk memuaskan keinginan pribadi ketimbang orang lain.

Kedua, realitas menunjukkan bahwa tidak sedikit pejabat yang bertindak sesuka hati. Maka, masyarakat memiliki peran yang sangat penting untuk memperhatikan serta meningkatkan kontrol sosio-politik. Masyarakat yang kritis terhadap pemimpinnya bukanlah suatu kejanggalan, melainkan unsur hakiki yang harus ada untuk mengontrol kebijakan ataupun isi pembelotan pemerintah. Menurut hemat penulis, kedua poin ini mampu mencegah atau sekurang-kurangnya menekan angka kasus korupsi yang merebak di negara ini. Hal yang terpenting di sini yaitu integritas kepribadian seorang pemimpin yang selaras dengan nilai moral serta dikukuhkan oleh imannya. Sebab itu, moralitas harus diprioritaskan dalam diri setiap manusia, teristimewa para pemimpin serta para pejabat pemerintahan.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero

Komentar

Jangan Lewatkan