oleh

Makna Tahun Baru di Tengah Keberagaman

-Opini-355 views

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M.Pd

Kita mengubah dunia bukan dengan apa yang kita katakan atau lakukan, tetapi sebagai konsekuensi dari telah menjadi apa kita.“… (David R. Hawkins)

Setiap tahun kita merayakan tahun baru, namun apa makna tahun baru bagi kita? Tahun baru hanya akan bermakna, manakala kita dilahirkan secara baru, sebagai manusia baru yang memiliki hati yang baru, budi yang baru, kepribadian yang baru (sikap, perilaku, tutur kata dan perbuatan) yang mencirikan manusia yang baru. Kalau demikian, tahun baru adalah kita manusia yang dilahirkan secara baru. Dan tentunya hal ini, ada korelasi yang signifikan dengan peristiwa NATAL. Sebab, NATAL, bukan hanya memperingati kelahiran Yesus, 2000 tahun yang silam, melainkan kita juga lahir secara baru berkat NATAL. Maka, hanya dalam arti itulah, tahun baru akan bermakna. Jika kita tidak hidup secara baru sebagai manusia yang baru di tahun yang baru, maka tahun baru hanya sebuah nama tanpa makna. Jadi, tahun baru hanya akan bermakna, jika kita hidup secara baru, cara berpikir, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata dan cara bertindak kita haruslah baru, dengan meninggalkan cara dan kebiasaan hidup lama kita yang lama, yang buruk, yang jelek, yang jahat. Apalagi ditengah keberagaman, sangat dibutuhkan keharmonisan, kedamaikitaan, kerukunan, kasih sayang, toleransi dalam hidup, walau kita beda suku, agama atau RAS. Jika tidak, maka akan terjadi situasi yang “chaos”. Maka tahun baru, harus menjadi momentum untuk kita saling berkomitmen, agar di tahun yang baru, kita hidup bersahabat dengan semua orang, sesuai dengan tema Natal tahun ini. Hidup bersahabat dengan semua orang harus diwujudkan dengan hidup saling mengasihi, saling memaafkan dan saling berdampingan satu dengan yang lain, tanpa membeda bedakan suku, agama, budaya ataupun RAS. Dan jika, kita sungguh-sungguh memaknai tahun baru, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kita secara pribadi, tetapi juga bisa dirasakan oleh sesama, mulai dari keluarga, masyarakat dan bangsa. Jika, kita mampu mengubah “dunia” diri kita, niscaya kita mampu mengubah dunia yang luas di sekitar kita. Cerita berikut, mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita. Cerita ini diketahui tertulis di makam seorang Uskup Anglikan di Westminster Abbey, sekitar 1100 AD. tentang seorang pria yang ingin mengubah dunia, sebagai berikut:

Ketika aku masih muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini”.

Pesan yang dapat kita petik dari cerita di atas adalah, jangan pernah bermimpi yang muluk-muluk, yang spectakuler atau melakukan hal-hal yang besar, luar biasa, melainkan mulailah dengan melakukan hal-hal yang realistis, sederhana dan kecil yang bisa dilakukan dan diwujudkan dengan tindakan nyata. Bunda Teresa dari kalkuta pernah menulis “dalam hidup ini, barangkali kita tidak bisa melakukan hal-hal yang besar, tetapi kita bisa melakukan banyak hal yang kecil dengan cinta yang besar. Oleh karena itu, saling memaafkan atau mengampuni, hidup berdampingan dan saling mengasihi satu dengan yang lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain, adalah contoh hal-hal yang realistis, nyata dan sederhana. Asal juga kita memiliki keberanian untuk hidup beralih atau berubah dan berani untuk memulai untuk bertindak. Tidak ada gunanya, kita hidup dalam permusuhan, hidup ini sangat singkat. Maka, mari kita usahakan perdamaian, kerukunan, persatuan, satu dengan yang lainya, sebab kita semua berasal dari Allah yang satu dan sama. Itu berarti kita adalah bersaudara, kita adalah satu keluarga dalam Allah. Dan untuk mewujudkan ini, maka kita harus mulai mengubah diri kita, mindset atau cara berpikir kita. Sebagaimana yang diucapkan oleh Plato bahwa “sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran kita bisa maju atau mundur, dengan pikiran kita bisa bahagia atau sengsara”. Karena itu, “Plato” sekali lagi menegaskan ”ubah pikiran anda, niscaya kehidupan anda berubah”. Andaikan ini yang terjadi, maka damailah Indonesiaku, damailah Indonesia kita. Ingat, Indonesia adalah kita semua yang hidup di persada indonesia., bukan hanya milik sekelompok orang, suku, agama, budaya atau RAS tertentu. Namun, hal ini hanya akan menjadi sebuah retorika belaka, manakala kita secara pribadi tidak dapat mengubah mindset atau cara berpikir kita tentang sesama, kelompok, suku, agama, budaya tertentu, maka cita-cita semboyan indonesia menjadi NKRI adalah harga mati, akan tetap menjadi sebuah slogan.

Oleh karena itu, jika kita yang menghuni bumi persada indonesia ini memiliki komitmen yang satu dan sama menjadikan indonesia NKRI, maka mindset pribadi, kelompok, suku, agama, budaya atau golongan kita, harus diubah, dilebur menjadi mindset bersama tanpa ada sekat suku, agama, budaya, RAS, SARA. Ingat, sekali lagi, kita adalah satu keluarga dalam Allah, karena kita diciptakan oleh Allah yang satu dan sama. Kita diciptakan hanya dengan satu predikat yang sama, yakni MANUSIA. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara umum manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain, dalam berinteraksi dengan manusia yang lain. Dan tentunya, dalam berinteraksi, manusia yang berakal budi harus bisa mengontrol dirinya, emosinya, sikapnya, perilakunya, tutur katanya dan tindakannya. Itulah hakikat manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk sosial yang berakal budi.

Di eja lebih jauh, bahwa dengan berakal budi, manusia sesungguhnya haruslah semakin BERIMAN, BERADAB, BERBUDAYA dan BERKUALITAS, dalam bersikap, berperilaku, bertutur kata dan bertindak, yang mencerminkan sebagai makhluk Tuhan yang mulia dan berakal budi. Oleh karena itu, maka perlakukan sesama manusia sebagai “homo homini socius”, yang berarti manusia yang lain sebagai teman, sahabat, saudara, sebagai satu keluarga dalam Allah, walau suku, agama, budaya, RAS, status sosial kita berbeda. Jangan pernah memperlakukan sesama yang beda suku, agama, budaya atau RAS, sebagai musuh, yang harus dibunuh, dimangsa seperti seekor serigala “homo homini lupus”. Sebaliknya, sesama manusia, termasuk ciptaan lain adalah juga sesama saudara yang harus dijaga, dipelihara, dirawaat. Jika kita disebut sebagai manusia berakal budi, namun sikap, perilaku, tutur kata dan perbuatan kita, selalu menghasut, memprovokasi, meremehkan, memfitnah, melecehkan, menghina, memecahbelah serta menciptakan permusuhan antar sesama dan alam sekitar, maka pribadi tersebut, bukanlah manusia yang berakal budi, bukanlah manusia yang BERIMAN, BERADAB, BERBUDAYA dan BERKUALITAS..

Akhirnya, mari kita hidup secara baru di tahun yang baru, dengan mengenakan manusia baru, yang memiliki hati dan budi yang baru, yang diwujudkan lewat sikap, perilaku, tutur kata yang sopan dan tindakan yang santun yang mencerminkan ciptaan Tuhan yang berakal budi, BERIMAN, BERADAB, BERBUDAYA dan BERKUALITAS. Dengan demikian, pribadi yang BERIMAN, BERADAB, BERBUDAYA dan BERKUALITAS, merupakan buah dari insan yang berakal budi atau makhluk berpikir. Seorang ilmuwan bernama “Pascal” berujar “kemuliaan manusia terletak pada pikirannya”. Hal ini, sesuai dengan kodrat manusia yang diciptakan sebagai makhluk mulia oleh Tuhan, karena manusia dikaruniai akal budi atau pikiran. Oleh karena itu, “Socrates” berkata “dengan pikiran seseorang bisa menjadi bebunga-bunga atau berduri-duri. Semoga ditahun baru ini, kita semua menjadi bunga-bunga yang indah nan segar, semerbak aromanya yang menghiasi “dunia” di sekitar kita. Indah bumiku indonesia, lestari bangsaku, damai hatiku, hatimu dan hati kita. Itulah kita Indonesia….Hanya dengan begitu, tahun baru akan bermakna bagi saya, anda dan kita…TAHUN BARU dan KITAPUN LAHIR SECARA BARU. HAPPY NEW YEAR 2020… BE A NEW MAN…LET US CROSS TO THE OTHER SIDE.

 

(Penulis adalah Kepala SMPK Frateran Ndao Ende)

Komentar