oleh

Membedah Kontraksi Ekonomi di Nusa Tenggara Timur

-Opini-419 views

Oleh: Leonar Do Da’Vinci T., SST.

Pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah tidak akan jauh dari kata ekonomi. Ekonomi menjadi poros penting tolok ukur kemajuan maupun kemunduran dari daerah terpelosok hingga negara maju sekalipun. Semua sektor hingga aspek-aspek kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lain-lain pada akhirnya akan bermuara pada perekonomian wilayah tersebut. Oleh karena itu, ekonomi dan penyusunnya mendapat perhatian khusus, terlebih saat ini sedang di tengah-tengah pandemi COVID-19 yang belum jelas kapan akhirnya. Terakhir, pada triwulan II tahun 2020, Indonesia mengalami kontraksi dimana menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tercatat minus 5,32 persen, dilanjutkan lagi pada triwulan III yang masih melaju pada minus 3,49 persen jika masing-masing dibandingkan pada periode yang sama pada tahun 2019 (year on year).

Kontraksi sendiri merupakan penurunan kegiatan ekonomi secara agregat. Jika terjadi dalam dua kuartal berturut-turut maka dapat dikatakan wilayah tersebut mengalami resesi. Jika dilihat secara khusus pada kondisi perekonomian Nusa Tenggara Timur, di triwulan III tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 1,68 persen (yoy) dibandingkan dengan tahun 2019, sama dengan keadaan pada triwulan II yang mengalami kontraksi sebesar 1,96 persen (yoy). Kontraksi yang terjadi dua kali berturut-turut dalam dua periode mengindikasikan siklus perekonomian yang tidak baik. Kondisi ini bisa memburuk jika tidak ditangani dengan baik.

Keadaan Ekonomi Nusa Tenggara Timur Menurut Lapangan Usaha

Perekonomian Nusa Tenggara Timur terlihat bangkit dari triwulan sebelumnya. Berdasarkan data dari BPS Nusa Tenggara Timur, laju pertumbuhan ekonomi triwulan III mencapai 3,06 persen dari triwulan sebelumnya (quarter to quarter). Menurut lapangan usahanya, sektor jasa pendidikan menjadi penyumbang terbesar terhadap tren positif laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal yang bersangkutan. Laju pertumbuhan sektor jasa pendidikan sendiri mencapai 14,47 persen, hal ini bisa dipicu oleh kondisi pada saat pandemik yang mengharuskan murid dan guru memberlakukan sekolah online. Akibatnya banyak pengeluaran yang dianggarkan pada sektor ini untuk menunjang kegiatan tersebut.

Selanjutnya, sektor kedua yang menujukkan pertumbuhan yang cukup besar adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Hal ini tidak diragukan lagi dikarenakan sektor ini merupakan sektor pilihan bagi masyarakat yang melakukan peralihan usaha ataupun yang mengalami penghentian kerja dari tempat kerjanya. Industri makanan dan minuman secara khusus menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar, hal ini diakibatkan permintaan masyarakat yang juga meningkat pada saat pembatasan interaksi dan pemberlakukan work from home.

Sementara sektor yang memberikan kontribusi yang paling besar terhadap struktur perekonomian Nusa Tenggara Timur justru masih mengalami kontraksi sebesar 3,33 persen. Sektor tersebut adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Selain itu, sektor lain yang mengalami kontraksi adalah sektor industri pengolahan sebesar 1,46 persen dan sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 1,28 persen.

Keadaan Ekonomi Nusa Tenggara Timur Menurut Pengeluaran

Selain kontribusi dari berbagai sektor, kita juga dapat melihat besaran produk domestik regional bruto (PDRB) dari komponen pengeluaran yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi. Berdasarkan data BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur, laju pertumbuhan ekonomi dari triwulan III terhadap triwulan II pada tahun 2020 (qtq) memiliki tren yang positif untuk semua komponen, pertumbuhan terbesar berasal dari komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang mencapai 17,18 persen. Sementara jika dibandingkan dengan triwulan III pada tahun 2019 (yoy), hanya komponen pengeluaran konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga saja yang menunjukkan tren positif sebesar 1,68 persen, selain itu komponen lain menunjukkan tren negatif dengan kontraksi paling besar dialami komponen pengeluaran untuk ekspor barang dan jasa.

Hal ini memang tidak diragukan mengingat keadaan pandemi memaksa segala kegiatan dilakukan secara terbatas, termasuk barang-barang yang hendak di ekspor. Selain itu konsumsi rumah tangga juga mengalami kontraksi sebesar 2,38 persen (yoy). Hal ini memang dipengaruhi kondisi masyarakat diamana sebagian dari mereka mengalami penurunan pendapatan sehingga memaksa mereka melakukan penghematan dan pengurangan pengeluaran.

Konsentrasi pada Sektor yang Mengalami Kontraksi

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih belum menunjukkan tren positif sejak triwulan II pada tahun ini. Meskipun demikian, berdasarkan data BPS Nusa Tenggara Timur, sektor ini memiliki kontribusi sebesar 28,30 persen dan masih menjadi sektor penyumbang PDRB terbesar untuk Nusa Tenggara Timur. Kendala pada pemasaran produk pertanian, kehutanan dan perikanan di masa pandemi ini dapat menjadi penghalang bagi sektor ini untuk berkembang. Tidak hanya itu, kenaikan harga beberapa barang pendukung produksi yang naik juga turut menghambat proses produksi.

Pada akhirnya, masyarakat yang menggantungkan pendapatannya pada sektor ini memilih untuk tidak melakukan produksi. Ditambah lagi sebagian besar bantuan sosial dampak pandemi COVID-19 ini juga diterima oleh masyarakat pada kalangan tersebut. Sumber pendapatan masyarakat kecil beralih sementara dari usaha pertanian menjadi bantuan. Hal ini mungkin mendasari mengapa beberapa lahan pertanian dibiarkan atau tidak diusahakan. Pengusahaan lahan pertanian di tengah pandemi dapat dianggap beresiko merugi lebih besar ketimbang sebelum pandemi.

Begitu pula dengan sektor industri pengolahan. Berdasarkan data BPS Nusa Tenggara Timur, sektor ini mengalami kontraksi 1,46 persen dibandingkan dengan triwulan II (qtq), dan kontraksi 7,17 persen pada triwulan II di tahun 2019 (yoy). Untuk industri sedang dan besar mungkin paling terdampak oleh pandemi ini. Pengurangan jumlah pekerja hingga pengurangan jumlah omset akibat berkurangnya kemampuan produksi turut berimbas pada berkurangnya kontribusi sektor ini terhadap PDRB Nusa Tenggara Timur. Untuk industri kecil di Nusa Tenggara Timur, pengurangan jumlah pekerja mungkin jarang ditemukan karena pekerja untuk usaha tersebut biasanya berasal dari rumah tangga yang bersangkutan (pekerja keluarga). Kondisinya hampir sama dengan pelaku usaha sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Usaha mikro dan kecil pada akhirnya bergantung pada bantuan sosial dari pemerintah.

Kerja Keras Bersama

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memprediksi bahwa ekonomi pada triwulan IV akan semakin membaik setelah mengalami kontraksi di dua triwulan sebelumnya, yaitu triwulan II dan triwulan III. Tentunya hal ini terjadi apabila ada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan stakeholder lainnya. Stimulus terhadap usaha kecil sangat diperlukan pada saat ini. Suntikan modal secara khusus kepada usaha-usaha rumah tangga agar menggiatkan kembali kegiatan usahanya. Tidak dipungkiri bahwa banyak usaha-usaha kecil tidak mampu membendung perubahan ekonomi yang kemudian berpengaruh terhadap kelangkaan bahan baku atau naiknya bahan baku untuk proses produksi pada usahanya. Akhirnya usaha tersebut menghentikan produksinya atau bahkan tutup.

Selain itu masyarakat juga seharusnya tidak terlena dengan berbagai bantuan yang diterima selama pandemi ini. Usaha yang telah dijalankan, baik pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan serta sektor industri di rumah tangga sebaiknya tetap dikerjakan untuk menambah penghasilan maupun tabungan. Pandemi ini masih terus berlangsung dan belum dapat dipastikan akhirnya. Perekonomian juga belum dapat dipastikan stabil, dan tentu saja perubahan ekonomi akan sangat dirasakan masyarakat dengan pendapatan kecil.

Perekonomian ini tidak hanya dilakukan oleh satu pihak saja. oleh karena itu, masyarakat, pemerintah dan pengambil kebijakan harus saling bekerjasama untuk memulihkan keadaan ekonomi khususnya perekonomian Nusa Tenggara Timur.

 

Penulis adalah ASN di Badan Pusat Statistik Kabupaten Alor

Komentar

Jangan Lewatkan