oleh

Menjadi Manusia Modernis di Era Modernisasi

-Opini-1.199 views

(Sebuah catatan kritis-reflektif, terhadap marginalisasi dan resistensi sosial atas kelahiran era-modernisasi)

Oleh: Erthus Delmon

Diskursus seputar fenomena modernisasi bukanlah topik baru yang mesti dibahas dalam skala global, melainkan sudah menjadi topik hangat yang sudah berabad-abad dikaji pada kalangan filsuf dan cendekiawan termashur sejak rentang waktu dari abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20. Meninjau efektifitas dan dampak era modern atau modernisasi secara lebih mendalam, sekiranya penulis mencoba mengelaborasinya satu persatu.

Sebelum melangkah lebih jauh kita coba melihat term modern atau modernisasi berdasarkan arti harafiahnya juga melihat dari pelbagai perspektif yang digagaskan oleh beberapa tokoh penting yang kritis, dan mempunyai sumbangsih pemikiran terbesar dalam mengembangkan teori sosial, pada kususnya dalam bidang ilmu sosiologi.

Pada dasarnya kata modernisasi adalah modern. Kata modern berasal dari kata latin, yakni modernus yang di bentuk dari kata modo dan ernus. Modo berarti cara dan ernus menunjuk pada adanya periode waktu masa kini. Berdasarkan asal usul katanya modernisasi dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan sosial dimana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern (Y. Sri pujiastuti, Dkk. 2014; 2010). Namun di sisi lain pengertian modernisasi ini dipertajam oleh beberapa tokoh sosiologi, diantaranya; Wilbert E More, ia mengisbatkan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi dan organisasi sosial dari yang tradisional ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang didahului oleh Negara-negara barat yang telah stabil. Koentjaraningrat, berasumsi bahwa modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan keadaan dunia sekarang. Astrid S Susanto, modernisasi adalah suatu proses pembangunan yang memberikan pelbagai kesempatan kearah perubahan demi kemajuan (ibid; 2011).

Mengacu pada pelbagai konsepsi kritis terhadap terminus modern atau modernisasi, barangkali terkesan sebagai gagasan yang membuka horizon pemaknaan tanpa terhabiskan. Suatu usaha pencarian secara kontinyu kondisi-kondisi sosial yang acap kali terbengkelai dalam tatanan waktu atau keorisinalan ruang historis. Paradigma kritis mengorbit keleluasaan konsep berdasarkan analisis filosofis. Oleh karena itu pentingnyalah bagi kita untuk berkaca pada gagasan Hegel yang menurut Habermas merupakan filsuf pertama yang berhasil menjelaskan konsep modernitas secara filosofis. Berdasarkan kacamata Hegel, modernitas bukan hanya yang didunia baru “zaman baru; dengan kata lain konsep ini dipahami sebagai konsep waktu, temps moderns, zaman modern, yaitu periode setelah zaman kuno dan zaman setelah abad pertengahan. Modernitas adalah kesadaran akan kebaruan, tetapi kesadaran itu tidak melupakan masa silam. Karena itu konsep-konsep yang bertalian dengan modernitas adalah kemajuan revolusi, emansipasi, pembangunan, krisis, prubahan sosial, dsb. Hegel melihat waktu sebagai sesuatu yang tidak terulang, dan modernitas itu sendiri sama sekali dan ciri-cirinya tidak biasa diukur menurut kriteria zaman-zaman lain (F Budi Hardiman; 1993; 185). Dengan disebutnya nama Hegel dan tercantumnya kata “filsafat”. Nyatalah bahwa modernitas memiliki arti penting dalam diskursus filosofis. Sebagai filsuf kritis Hegellah menurut Habermas yang berhasil menjelaskan konsep modernitas secara filosofis. Tampak bahwa sejak berabad-abad lamanya proyek filsafat dan metafisika barat senantiasa dibayang-bayangi oleh logosentrisme, suatu sistem metafisik yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental di balik segala hal yang terjadi di dunia fenomenal. Logos tampak menular di setiap sendi ilmu-ilmu filsafat dan metafisika dengan mengklaim oposisi tanpa mempertimbangkan adanya pluralitas makna. Logos mengandung tendensi mentotalisasi yang lain (l’autre), mereduksi yang lain kepada yang sama (le’meme). Logos kerap mengeksiskan klaim oposisi antara terminologi yang satu dengan yang lain, mengatributkan yang satu sebagai yang lebih berarti dari yang lain. Dalam proyek filsafat, kehadiran logos teraktualisasi dengan kehadiran sang pemikir yang tidak lain merupakan subjek yang dianggapi memiliki otoritas terhadap makna yang dikatakannya.

Dengan demikian kehadiran logos atau kebenaran transendental di balik segala hal yang terjadi di dunia fenomenal sesungguhnya telah mempersempit makna yang sebenarnya tak terbatas, plural. Dimana pelbagai asumsi menyangkut term modernitas menghadirkan gagasan yang paradoksal. Gagasan yang acapkali terdiferensiasi pemaknaannya. Sehingga menimbulkan perdebatan sengit di kalangan pemikir intelektual barat. Sebagai misal perdebatan pandangan antara Hegel dengan Walter Benjamin, Seorang anggota institute penelitian social Frankfurt yang meminati estetika. Aneka pemikiran dan gagasan yang diajukan oleh pelbagai pemikir barang tentu tidak pernah mengandung eksklusivitas makna, melainkan memiliki makna yang plural. Dengan mengacu pada rekam jejak subjek, dapatlah mengeliminasi patologi logosentrisme dan tendensi pengkerdilan makna oleh subjek tertentu.

Marginalisasi dan Resistensi Sosial Dalam Bingkai Modernisasi

Merujuk pada faktum rill sosial, pemahaman term modernisasi kerap di salah paham sebagai westernisasi. Menjadi modern kerap disalah paham sebagai meniru secara mutlak pengaruh barat, meskipun banyak pengaruh barat tidak cocok dengan kebudayaan bangsa kita. Hemat penulis, perluhlah kita mengelaborasi kedua term ini agar tidak terjerumus dalam arus kegagalpahaman tentang otoritas dan hakikat pengertian dari kedua terminus termaktub. Sejatinya, modernisasi adalah adopsi teknologi dan revolusi industri. Sementara westernisasi adalah adopsi dari budaya dan ide-ide barat. Secara fundamental modernisasi mengindikasikan bahwa teknologi industri maju tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi dalam Negara berkembang tetapi juga perubahan struktural dan budaya lainnya. Ditengah anjloknya arus modernisasi yang membendung kanal globalisasi tampak manusia seakan terbangkit dari patologi kronis yang memenjaranya ke dalam ruang otoritas dan hegemoni kelas superior. Euforia kelahiran modernisasi, sepatutnya sebagai makhluk yang memiliki atribut kemampuan rasio dan kehendak, tentu kita mempunyai naluriah antisipatif dalam mengamati sebuah fenomena yang terjadi diseputar realitas kehidupan. Selanjutnya, dengan atribut akal sehat dapatlah secara kritis dan analitis, kita menyelektif setiap fenomena yang terjadi. Juga dengan nalar yang kritis kita mesti mampu mengendalikan diri kita tanpa terjerumus dalam arus patologi modern.

Modernisasi memang seperangkat alternatif konstruktif dan inovatif, yang menyumbangsih secara totalitas terhadap realitas perubahan hidup manusia. Toh, namun disisi lain modernisasi acap melahirkan kesenjangan sosial. Sampai pada titik ini kitapun kembali di ingatkan oleh gagasan Habermas “bahwasannya rasionalitas instrumental berfungsi sebagai tindakan “pemecahan masalah”(problem solving), dan karena itu “bersifat bertujuan” (purposive), tetapi Habermas juga menambahkan bahwa bentuk rasionalitas ini bersifat manipulatif karena subjek yang bertindak menggunakan kemampuan rasionalnya untuk mengukur syarat-syarat dan untuk membuat sebuah intervensi yang berhasil dalam dunia”. (Constantinus Fatlolo;2016;35). Berlandas pada asumsi Habermas termaktub hemat penulis bahwasannya rasionalitas instrumental menyatu dengan kemampuan individu untuk mengeksistensikan dirinya dalam ranah sosial. Wawasan dan keleluasaan pengetahuan yang dimiliki setiap individupun menjadi tolok ukur untuk mengeksplorasi dirinya demi mencapai kesuksesan dan menakluk alam lingkungannya. Berdasarkan perspektif lain, dalam rasionalitas ini esensi diri individu menanam konsepsi yang absolut dan matang dalam merealisasikan gagasan-nya untuk mengintervensi dunia secara totalitas dan berhasil. Fenomena ini tak urung melahirkan tendensi-tendensi minus yang mendeterminasi lebenswelt (menurut Husserel sebagai karakter kehidupan manusia serentak pemikirannya). Toh, bertautan dengan ini Produk-produk modernisasi di bayangi sebagai ajang pengklasifikasian multi dampak di era disruptif ini. Pembiasan fenomena sindrom trajektoris menghegemoni ruang gerak manusia, serentak dalam fenomena ini pendewaan terhadap akal budi mulai dipraktikan. Sebagai misal, sains kini bisa berpaling kepada dunia tanpa pembatasan teologis dan filosofis. Sejauh itu akal budi di mahfumi sebagai motor penggerak untuk merasionalkan segala motif tindakan manusia, bahkan yang jahat sekalipun. Akal budi dianggap roh yang seekuilibrium dengan yang ilahi. Bahwasannya akal budi dinobatkan sebagai alternatif yang telah berhasil melahirkan pelbagai gagasan rasional yang dituangkan oleh manusia modern, dalam usaha pembiakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena dimana, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan terjadinya revolusi industri. Serentak, revolusi industri mendorong orang untuk menghasilkan pelbagai penemuan baru. Berkaca pada pelbagai perspektif, modernisasi memang tampak menguntungkan manusia. Yakni dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menganulir pelbagai kemudahan bagi seluruh elemen yang bertautan dengan pemenuhan aspek hidup manusia. Sebagai misal penemuan teknologi informasi dan komunikasi semakin mempermudah manusia untuk menjalin relasi dengan sesamanya, dsb. Disisi lain modernisasi juga melahirkan patologi modern dalam kehidupan manusia. Hal ini tampak pada gejala negatif yang terjadi, sebagai missal penyalahgunaan alat-alat teknologi, prilaku kebarat-baratan dan konsumerisme.

Memang, ketika dianalisis secara kritis dan dikaji secara detail, hemat penulis bahwa ada sesuatu yang lain dengan proyek modernisasi. Yakni dimana ada konsep yang paradoks di sana, dalam kesejatian diri modernisasi. Sadar atau tidaknya manusia modern atau homo modernus sesungguhnya telah terjebak dalam arus kegelisahan akal budi. Virus modernisasi telah menjangkiti nalar kemanusiaan manusia, sehingga tak disangsikan lagi bahwa manusia-manusia modern adalah makhluk kawakan yang telah berhasil dijinakan oleh produk-produk ala modernisasi. Pendomestifikasian manusia oleh produk yang diproyeksi oleh akal budinya sendiri kini dianggap fixed.

Pelbagai multi dampak dan ilustrasi proyek era modernisasi seakan memacu kehidupan manusia dewasa ini untuk larut dalam kefanatisme-an dunia. Sungguh miris pula fenomena yang terjadi bahwa manusia modern pun berhasil mencerai beraikan dirinya dengan Tuhan dan agama. Lantas konsepsi homo scientificus (manusia sains) tak ada lagi keseimbangan dengan konsepsi homo religiosus (manusia religius). Bertautan dengan fenomena termaktub, tentu sebagai makhluk yang agamais serentak sebagai makhluk berakhlak mulia, mustahillah bagi kita untuk lari dari realitas yang terjadi, apalagi dengan opsi menolak semua perkembangan dan kreatif-inovatif yang telah dicapai oleh karsa dan kinerja umat manusia. Gambaran sikap kedewasaan dan pribadi yang kritis-selektif sebagai umat manusia tentu kita memilah dan memilih jalan alternatif untuk mencari tawaran solutif dalam menghadapi pelbagai persoalan dan tantangan jaman yang tersaji dalam aras perkembangan jaman, (baca: arus jaman modern). Artinya sikap kedewasaan kita mesti merunut pada actus menerima realitas yang terjadi disekitar alam lingkungan kita tanpa harus mengesampingkan aspek-aspek lain. Sebagai missal mengesampingkan aspek agama dan apalagi sampai pada tindakan merenggang relasi dengan Tuhan.

Alhasil untuk memperkuat kesadaran kita sebagai manusia modern yang modernis, kitapun bisa berkaca pada Albert Einstein dan Whitehead. Einstein berkata bahwa agama tanpa sains adalah lumpuh dan sains tanpa agama adalah buta. Whitehead-pun mengatakan, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seyogyanya merangsang pemikiran kritis yang pada akhirnya memperkuat pemahaman dan penghayatan agama. (*)

Komentar