oleh

Menyoal Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

-Opini-1.065 views

Oleh: Ture Simamora, S.Pt., M.Si

Menurut Undang Undang Nomor 7 Tahun 1996 ketahanan pangan adalah suatu kondisi telah terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang diwujudkkan dari ketersediaan pangan yang cukup secara kuantitas dan kualitas, aman, merata serta terjangkau. Pangan menjadi kebutuhan paling vital bagi masyarakat untuk dapat mempertahankan hidupnya. Dengan demikian diharuskan ketercukupan pangan bagi setiap individu pada setiap waktu. Menurut Ismet (2007) pangan menjadi bagian hak asasi manusia yang harus dipenuhi.. Sebagai bagian dari hak asasi, tentunya pangan memiliki posisi dan peran penting dalam suatu negara. Ketidakstabilan suatu negara bisa terjadi, bila kebutuhan pangan masyarakat tidak terpenuhi akibat kurangnya ketersediaan pangan nasional. Oleh karena itu, ketersediaan pangan harus selalu cukup disetiap waktu sesuai kebutuhan nasional.

Pangan sebagai kebutuhan penting tersebut telah menyita perhatian publik di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Hal ini didasarkan adanya kekuatiran sebagian masyarakat akan terjadinya krisis pangan. Bahkan Food Agriculture Organization (FAO) telah memperingatkan bahwa pandemi Covid-19 ini akan menyebabkan resesi ekonomi dan potensi terjadinya krisis pangan secara global. Di Indonesia kekuatiran akan terjadinya krisis pangan tentunya sesuatu hal yang wajar, karena Covid-19 ini telah mengganggu kegiatan sektor pertanian dari hulu hingga ke hilir. Apalagi pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia selama ini sebagian masih bergantung pada impor dari negara lain.

Dampak pandemi Covid-19 pada sektor pangan di Indonesia bisa kita amati berdasarkan kompononen ketahanan pangan dan gizi antara lain Pertama, ketersediaan pangan (stok) semakin menipis seiiring terganggunya bahkan terhentinya aktivitas produksi pangan di sentra produksi yang disebabkan wabah Covid-19 tersebut. Kedua, pembatasan aktivitas masyarakat tentunya memberikan dampak terhadap terganggunya kelancaran akses pangan, transportasi, informasi dan kelembagaan. Meski pun pemerintah sebenarnya tidak membatasi aktivitas di bidang logistik. Ketiga, ketidakamanan pangan menjadi sesuatu yang potensial terjadi ditengah maraknya penularan Covid-19 di lingkungan masyarakat. Keempat, melemahnya ekonomi masyarakat yang disebabkan Covid-19 menjadikan daya beli pangan menurun dan fluktuasi harga pangan pun meningkat.

Rapuhnya ketahanan pangan nasional menyebabkan ancaman terjadinya krisis pangan semakin nyata apalagi di situasi pandemi ini. Kekuatiran akan terjadinya krisis pangan tersebut tidak terlepas dari belum terciptanya sistem pemenuhan pangan nasional. Berbagai permasalahan pangan kita yang belum terselesaikan selama ini antara lain produksi pangan yang sebagian besar terfokus di Jawa dan Sumatera, munculnya komsumsi satu komoditas pangan pokok seperti beras sebagai makanan pokok padahal kita memiliki bahan pangan lokal yang bisa diolah dalam pemenuhan kebutuhan, belum adanya data presisi terkait jumlah produksi dan jumlah kebutuhan pangan di setiap desa, kurang optimalnya pemberdayaan dan proteksi petani skala kecil yang merupakan produsen pemenuhan pangan nasional, miniminya penerapan inovasi dan teknologi pangan di petani skala rakyat, serta kurang optimalnya rantai pasok dalam negeri selama ini.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan (2020) terkait perkiraan stok dan kebutuhan pangan Maret-Mei 2020 beberapa komoditas pangan seperti beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras dan gula pasir merupakan komoditas pangan yang diperkirakan masih memiliki stok hingga akhir Mei 2020. Namun untuk komoditas pangan bawang putih dan daging sapi yang selama ini mengandalkan pasokan impor tampaknya masing-masing tidak akan tercukupi dengan perkiraan stok hingga akhir Mei hanya 65.000. ton dan 19.000 ton. Hal ini tentunya membutuhkan upaya akselerasi dari pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan kedua komoditas tersebut dimana kebutuhan komoditas ini akan meningkat seiring dengan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri. Satu-satunya cara pemerintah melalui koordinasi Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan tentunya segera mungkin melakukan impor dari negara lain sebelum masing-masing negara mitra impor komoditas tersebut melakukan penghentian ekspor pangan sementara untuk memproteksi kebutuhan pangan dalam negara masing-masing di tengah pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 ini telah memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa pentingnya menciptakan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis pemerintah di bidang pangan ditengah situasi pandemi Covid-19 ini. Beberapa langkah-langkah tersebut adalah (1) Pemerintah harus memastikan akurasi data kebutuhan dan pasokan komoditas pangan di seluruh Indonesia sampai dengan akhir tahun 2020. (2) Pemerintah harus memastikan sistem logistik pangan berfungsi secara optimal. (3) Pemerintah harus menjadi konsolidator para pelaku usaha dengan petani/peternak rakyat untuk menjaga keseimbangan suplay dan demand serta menjaga keseimbangan harga komoditas pangan. (4) Pemerintah mendorong kegiatan produksi terutama wilayah-wilayah pedesaan yang belum terpapar Covid-19 untuk tetap berproduksi dengan memberikan stimulus ekonomi berupa permodalan. (5) Pemerintah harus menciptakan lahan usaha tani baru di daerah yang masih zona hijau untuk peningkatan produksi pangan. (6) Pemerintah perlu mendorong upaya pemenuhan pangan nasional dengan pemanfaatan sumber pangan lokal. (7) Peningkatan peran penyuluh dalam optimalisasi pengelolaan pekarangan sebagai sumber pemenuhan komsumsi pangan rumah tangga. (9) Peningkatan peran penyuluh untuk pendampingan petani/peternak rakyat dalam pemanfaatan teknologi pangan dalam mempercepat dan meningkatkan efisiensi kegiatan produksi pangan.

Langkah-langkah strategis di atas diyakini akan memberikan dampak siginifikan membantu pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri. Bila langkah-lah tersebut terealiasi, bukan tidak mungkin kita bisa melewati situasi pandemi Covid-19 ini dengan kepastian ketercukupan pangan serta kita bisa menghilangkan rasa kuatir akan terjadinya krisis pangan.

 

(Penulis adalah Dosen Universitas Timor Nusa Tenggara Timur)

Komentar

Jangan Lewatkan