oleh

Merembuk Skenario Pelaksanaan Tahun Ajaran 2020/2021

-Opini-1.013 views

Oleh: Fredrik Abia Kande

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud) sedang mempersiapan skenario pelaksanaan Tahun Ajaran 2020/2021. Oleh karena grafik penyebaran  Covid-19 masih menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat sehingga belum ada keputusan terkait pelaksanaan tahun ajaran 2020/2021. Untuk sementara tetap mengacu kepada tahun-tahun sebelumnya, yakni tahun ajaran akan dimulai pada pertengahan Juli 2020. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), pihaknya masih menunggu keputusan dari Gugus Tugas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan.

Pentingnya membicarakan pelaksanaan tahun ajaran, oleh karena selain merupakan amanat Undang-Undang, membicarakan tahun ajaran adalah membicarakan keberlangsungan pendidikan. Pendidikan sebagai jembatan emas menuju masa depan bangsa, pendidikan adalah investasi masa depan. Bahkan “pendidikan adalah investasi ilahi” (Toisuta, 2019). Pendidikan
adalah bukan sekedar tentang kehidupan tetapi untuk kehidupan (Fromm). Itulah sebabnya membicarakan keberlangsung pendidikan sama halnya dengan membicarakan keberlangsungan
bangsa, bahkan keberlangsungan kehidupan.

Berdasarkan pemikiran di atas, Penulis ingin urun rembuk terkait skenario pelaksanaan tahun ajaran 2020/2021, kiranya dapat dipertimbangkan demi keberlangsungan pendidikan di Indonesia.

Skenario Pertama, Kemdikbud dapat mengacu kepada kalender pendidikan yang ada, yakni pada pertengahan Juli 2020, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan: semua siswa dan guru wajib menggunakan masker, menerapkan physical distancing, membawa handsanitizer, sekolah menyediakan tempat cuci tangan, dan barangkali pelindung wajah. Khusus untuk physical distancing oleh karena secara umum class size tidak memungkinkan untuk menerapkan physical distancing sehingga hanya diikuti sebagian siswa saja, sedangkan sebagian yang lain dapat mengikuti di hari berikutnya. Di saat sebagian siswa belajar di sekolah, guru dapat memberi tugas untuk materi yang sama kepada siswa yang lain untuk mengerjakan di rumah. Begitu seterusnya bergantian hingga akhir semester. Tentu pilihan skenario pertama disesuaikan dengan tingkat penyebaran Covid-19 di suatu daerah berdasarkan data dan
keputusan Gugus Tugas dan Kementerian Kesehatan RI (zona hijau).

Skenario Kedua, mirip dengan skenario pertama, akan tetapi Kemdikbud dapat
menetapkan kebijakan bagi sekolah agar menggunakan model pembelajaran yang tidak tunggal bagi siswa: Bisa online dengan beragam platform dan sistem modular, mengingat masih terdapat ketimpangan teknologi informasi antarsekolah dan antarsiswa. Khusus sistem modular perlu disiapkan secara baik karena sangat bertumpu pada aktivitas mandiri siswa, namun untuk jenjang pendidikan dasar perlu menambahkan satu perangkat lain yaitu Pedoman Pemantauan atau Pengawasan dari Orang Tua. Beberapa komponen lainnya dapat mengadopsi skenariometode pembelajaran modular dari Universitas Terbuka. Tentu pilihan untuk skenario kedua disesuaikan dengan tingkat penyebaran Covid-19 di suatu daerah berdasarkan data dan keputusan Gugus Tugas dan Kementerian Kesehatan RI (masih zona merah).

Skenario ketiga, Kemdikbud dapat menunda tahun ajaran 2020/2021 ke tahun 2021, apakah Bulan Januari 2021 atau Bulan Juli 2021. Skenario ini mungkin dipilih mengingat pemerintah dan rakyat sedang berhadapan dengan situasi atau kejadian luar biasa, bukan epidemi, tetapi pendemi. Tentu terlebih dahulu perlu merevisi peraturan terkait pelaksanan tahun ajaran. Namun sama halnya dengan skenario pertama dan kedua, yakni disesuaikan dengan tingkat penyebaran Covid-19 di suatu daerah berdasarkan data dan keputusan Gugus Tugas dan Kementerian Kesehatan RI.

Satu hal yang perlu diperhatikan juga adalah oleh karena bangsa Indonesia sedangkan menghadapi situasi luar biasa, pendemi maka pemerintah perlu membuat Standard Pelayanan Minimal bidang penddikan di masa Covid-19, oleh karena tidak mungkin menerapkan SPM yang ada sekarang yang cocok diterapkan dalam kondisi normal. Antara lain: Persentase kepemilikan buku pelajaran untuk semua mata pelajaran oleh siswa, persentase keikutsertaan siswa dalam uji sampel mutu pendidikan; persentase lulusan SMK yang diterima di dunia kerja menurut keahliannya, dan seterusnya.

Dengan skenario-skenario di atas, kiranya Kemdikbud lebih optimis mengelola pendidikan secara nasional di tengah-tengah situasi pandemi Covid-19, dan semoga pandemi Covid-19 tidak membuat “jembatan emas patah”, agar bangsa ini dapat menggapai masa depan yang gemilang.

 

(Penulis adalah Dosen FKIP UNTRIB Kalabahi, Alor, NTT)

Komentar

Jangan Lewatkan