oleh

Panggilan Hati untuk Timor Tengah Utara

-Opini-798 views

Oleh: Muhammad Husen Db, M.Pd

Peradaban telah berubah, semua harus berjalan lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan. Perjuangan menghantarkan Timor Tengah Utara (TTU) untuk menjadi kabupaten yang bersaing dengan kabupaten dan kota lain di Indonesia bukan perkara mudah. Mensejajarkan nilai tawar dan kualitas masyarakat TTU dengan kabupaten kota lain juga bukan hal mudah. Tetapi dengan semua kelebihan dan keterbatasan yang TTU miliki, harusnya bisa lebih maju dan berkembang dengan beberapa perspektif yang menjadi landasan pokok pikiran dalam tulisan ini. Berluas wilayah 2.669,7 kilo meter persegi dan berjumah penduduk 256.174 jiwa adalah sebuah kabupaten yang punya nilai produktivitas jika dilihat dari karaktersitik kuantitasnya. Pergerakan dalam menangkap peluang perubahan yang kian hari kian menunjukkan cahayanya adalah sebuah wujud kerja produktif untuk mengatakan kepada publik bahwa TTU akan bangkit dan mengejar semua mimpi besar yang diinginkan pendahulu dan perumus kabupaten tercinta TTU.

Menelisik lebih dekat kekuatan masyarakat TTU sebagaimana gambaran produktivitas data tentang masyarakatnya, kita bisa mendeteksi dari sisi demografi misalnya data tentang penduduk beragama kristen 91 %, Islam 2,08%, Hindu 0,05 % dan Budha 0,01 %. Kekuatan ini bisa memberi warna dalam mengerakkan sistem tata nilai yang menjadi karakter budaya ketimuran. Dalam upaya menggerakkan kekuatan masyarakat kita tentu harus mencari sisi kuat yang kita miliki sebagai lokomotif pendorong dalam menjawab persoalan yang dihadapi TTU saat ini. Tidak jarang kekuatan yang dimiliki setiap daerah hanya sebagai pelengkap penderita dalam proses demokratisasi. Setidaknya TTU secara kolektif bisa mengambil langkah yang paling produktif mendorong perbaikan dan perubahan demi tercipata TTU yang berdaya saing.

62 Tahun Kabupaten TTU, bukan sejarah singkat. Sejak berdirinya 9 Agustus 1958 adalah perjalanan yang penuh dengan perjuangan yang sangat tidak mudah. Sejarah mencatat dengan semua peringkat dan hasil karya yang sudah TTU dapatkan menjadi kekuatan yang harus terus dilanjutkan dan digerakkan secara lebih kuat lagi. Bicara tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) TTU telah memiliki peningkatan dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan bahwa TTU memilki keseriusan dan tanggungjawab pemimpin terdahulu telah bekerja secara maksimal dan produktif. TTU bisa bangkit dan sejajar dengan kabupaten kota lain jika semua kekuatan kerja terikat jadi satu kesatuan dan menjadi daya dorong yang luar biasa. Melihat program produktif yang dimiliki TTU akan menjadi langkah yang sangat taktis untuk mengangkat nama baik TTU tidak hanya ditingkat Regional dan Nasional tetapi juga bisa bersaing dengan dunia Internasional.

Membedah Pokok Pikiran Kristiana Muki

Tidak banyak yang menyangka dan tahu betapa Kristiana Muki adalah sosok perempuan yang punya daya dorong yang luar biasa. Produktivitas kerja yang sangat membanggakan bagi TTU dan semua generasi yang berada di kabupaten ini. Memilih mundur dari Anggota DPR RI yang terpilih pada periode 2019-2024 dan kembali mengabdi bersama masyarakat TTU adalah pilihan yang sangat berani. Demi warganya, masyarakatnya, tanah kelahirannya, Kristiana Muki kembali dan menyapa warganya. Memilih mundur bukan pilihan yang sederhana, bukan pilihan yang mudah, dan juga bukan pilihan yang semua orang mau melakukan itu, Kristiana Muki dengan komitmennya Ia kemudian mundur. Alasan mundur menjadi bukti betapa Kristiana Muki layak diberi apresiasi. Perempuan yang malang melintang dengan semua gagasan produktif untuk membangun bangsa di tingkat nasional, Ia kemudian mencari jalan sunyi mendampingi masyarakat yang ingin maju dan bangkit menjemput perubahan untuk TTU.

Satu tahun bergelut di komisi II DPR RI yang membidangi pemerintahan, Kristiana Muki banyak bekerja memberikan pokok pikiran produktif dalam tiga tugas pokok dan fungsi DPR. Penguatan terhadap posisioning legislasi, anggaran dan pengawasan, Kristiana Muki bergerak maju meneriakkan kepentingan masyarakat dengan segenap kematangan dalam kepemimpinan. Tidak jarang kita lihat perempuan perwakilan NTT ini bisa bersinergi secara kualitatif terhadap semua hal yang berkaitan dengan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi atau golongan. Kualitas yang dimiliki Kristiana Muki harusnya menjadi oase bagi segenap perempuan Indonesia khususnya perempuan di kabupaten TTU. Kebanggaan kita kepada Kristiana Muki tidak hanya pada kiprahnya tetapi sebagai sosok perempuan Ia tampil di depan mengambil tanggungjawab terhadap kepentingan masyarakat TTU adalah sikap layak diberi ruang lebih. Tidak banyak tokoh yang hanya bermodalkan semangat dan ambisi tanpa punya kualifikasi dan pengalaman yang cukup untuk membawa TTU lebih bermartabat ditengah publik. Sebagai upaya taktis strategis Kristiana Muki mendorong dan membuktikan untuk membawa TTU lebih sejahtera, berdaya saing, serta mandiri dalam sumberdaya manusia dan sumberdaya alamnya.

Melanjutkan Estafet

Sebuah perjuangan produktif harus diserahkan kepada orang yang layak dan tepat. Untuk memahami substansi perjuangan TTU yang sejak lama digerakkan menjadi sebuah langkah yang harus diantisipasi. Mengapa demikian? karena jika salah menempatkan pemimpin, akan berdampak buruk tidak hanya lima sepuluh tahun tetapi jauh dari itu kita akan kehilangan momentum keberlanjutan peradaban yang sejak lama kita bina. Semua untuk TTU. Dalam ikhtiar memenangkan kepentingan masyarakat TTU yang sejalan dengan kepentingan naluri bangsa ini, aktor dan pemimpin politik harus terus menambah investasi, bukan melulu dalam modal logistik tetapi jauh dari itu kepentingan yang paling berharga adalah modal moral dan integritas. Perjuangan dijalan politik yang telah diambil oleh Kristiana Muki, sebagai modal besar untuk menghantarkan TTU menjadi kabupaten kota produktif innovatif. Estafet yang sudah digerakkan oleh para Bupati terdahulu sebagai ladang kekuatan yang harus diteruskan dan diselamatkan. Tidak jarang banyak prestasi yang telah ditorehkan akan lenyap dan tidak berfungsi disaat memberikan estafet kepada orang yang tidak paham rekam jejak perjuangan.

Dengan semua perspektif, kebebasan individu diikat tujuan membuka jalan menuju keserikatan guna memuliakan kemanusiaan. Ini yang disebut dengan cahaya yang akan datang, cahaya abadi yang akan menerangi TTU, membawanya menuju kemartabatan yang hakiki. Perjuangan pergerakan yang sedang diikhtiarkan bukan ingin mencetak satu dua generasi, tetapi untuk melahirkan generasi produktif yang menyelamatkan anak bangsa yang lahir di kabupaten TTU dan dari Nusa Tenggara Timur untuk Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia.

 

(Tenaga Ahli Badan Sosialisasi MPR RI)

Komentar

Jangan Lewatkan