oleh

Paranoid Melanglang Buana

-Opini-1.138 views

Oleh : Jen B. Kamba

Mengawali tulisan ini, saya ingin menarasikan kembali apa yang dikatakan seorang filsuf, akademisi, pengamat politik kontroversial dan intelektual publik terkenal Rocky Gerung yang kerap viral dengan narasinya: “Akal Sehat dan Dungu”. Narasi ini hampir dominan digunakan dalam setiap penjelasan dan pencerahan ketika ia diminta argumentasinya soal polemik sosial, politik, pendidikan, budaya dan lainnya yang terjadi di negeri ini. Memang sejak awal saya tidak suka dengan permainan kata-katanya yang seolah menyayat hati ketika orang mendengarnya. Tetapi, barangkali saya tertarik dengan narasi Rocky Gerung dalam mengulas persoalan dan fenomena yang terjadi diakhir-akhir ini dimedia sosial.

Kata “dungu” yang dimaksud Rocky, hemat saya, sebetulnya untuk mencuci otak para buzzer yang memproduksi berita yang tidak berbobot. Kata ini sering disematkan kepada pemikiran irasional dan logikanya sudah tidak jalan dan mengalami kebuntuan dalam berpikir secara jernih. Dan, kata ini pun mungkin sangat cocok bagi mereka yang suka menyebarkan informasi busuk alias hoax.

Dalam pada itu, sebaiknya ambil waktu sejenak dan mari membaca tulisan saya ditengah situasi pandemi yang terjadi saat ini, namun sebelumnya saya ingin memintah semua pembaca harus menggunkan logika jernihnya dalam mencerna setiap narasi yang tertuang dalam coretan opini saya dibawah ini.

Berita Sampah dan Paranoid

Sudah beberapa hari ini, secara tidak sengaja saya melihat sejumlah berita, informasi dan status dimedia sosial yang tidak mendidik publik. Misalnya, begitu banyak orang yang mau menulis di status facebook, whatsApp, instagram dan dunia maya lainya dengan sembrono alias sembarangan saja mengcopy-paste / kutip sana-kutip sini dari sumber yang tidak jelas asal usulnya. Sehingga mereka yang memabacanya kemudian menjadi panik, ketakukan, kwatir, dan cemas yang berlebihan. Padahal, secara tidak sadar mereka sedang melayangkan informasi sesat yang malah membikin kesehatan secara psikis dan fisik orang lain menjadi terganggu.

Efeknya, semua aktifitas positif terkuras habis oleh pikiran-pikiran negatif yang tidak bermanfaat samakali. Sampai-sampai saya pun hampir takut jika perasaan paranoid (gangguan mental yang diyakini bahwa orang lain akan membahayakan dirinya) itu muncul perlahan, lalu bisa menjadi bagian dari penyakit sosial yang sangat berbahaya. Meski ketakutan itu bukan dikarenakan virus corona. Tidak soal, jika orang yang membacanya itu tidak mengalami penyakit jantung, tetapi kalau dia memiliki riwayat jantungan, bisa jadi itu akan menambah parah penyakitnya.

Parahnya lagi, banyak dari kita malah nyinyir, lantas menyebarkan dan menceritakan informasi-informasi bohong itu ke semua kontak yang ada di dalam Hp (gadget) kita. Lagi-lagi, sebagian dari kita malah mengutip berita yang tidak jelas sumbernya lalu diteruskan ke khalayak umum melalui group whatsApp, group facebook untuk dikomsumsi secara masal, tanpa sedikit pun punya nurani dan akal sehat melihat dan menyaring informasi tersebut dengan jelas.

Fatalnya, dalam beberapa grup facebok maupun whatsapp sedang ramai menghakimi dan mengfitnah kelompok, keluarga, dan perseorangan tertentu dengan keji secara bebas tanpa kebenaran. Misalnya; adanya hoax tentang paket telpon gratis, koneksi internet gratis, pulsa gratis karena pandemi, corona berhaya dan mematikan, dan berita tidak jelas lainnya yang berpotensi merusak pikiran bahkan memporak-porandakan tatanan kehidupan umat manusia.

Entah mengapa beberapa dari kita melakukan ini? Hemat saya, yang jelas kita sedang dalam ketakutan berlebihan akan sebuah kematian sehingga nalar dan rasional kita menjadi buntu.

Seperti dilansir dari media mainstream online Kompas.com dan TribunNewsJateng.com. Sangat terasa memang dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan Surabaya”. Diberitakan, kisah pilu yang terjadi terhadap beberapa petugas medis (Perawat dan Bidan) yang bertugas melayani dan mengobati pasien terinveksi corona-virus dikucilkan karena setibahnya dirumah, banyak masyarakat mengusir mereka secara paksa supaya tidak tinggal lagi dilokasi mereka (TribunNewsJateng-7 April 2020).

Tak hanya itu, di Solo, kisah tentang seorang yang masuk dalam daftar ODP Corona saja dikucilkan masyarakat setempat. Padahal, belum tentu orang ini bersentuhan dengan pasien/penderita corona atau mungkin saja dia baru saja keluar dari hutan mencari nafka buat keluarganya dirumah (Kompas 8 April 2020).

Inikan sangat naif sekali bukan? Bukankah kita sedang menzalimi (menganiaya) psikologi mereka yang notabene bekerja keras demi keselamatan jiwa manusia? Dan, bukannya kita mendukung mereka, membantu mereka, dan kalau boleh kita harus bergandengan tangan untuk berdonasi dalam meringkan beban mereka, malah kita menjauh dari mereka dan mengucilkan mereka. Coba bayangkan, kalau mereka ini tidak ada dan tidak lagi bekerja, saya yakin misi penyembuhan umat manusia secara medis (medical therapy) dari wabah yang melanda negeri kita ini tidak bisa tertangani dengan baik. Padahal, mestinya dalam suasana karantinanya selama 14 hari sebagai ODP, kita harus membantunya dalam kekurangan finansial dan kebutuhan makan dan minum sehingga orang tersebut tidak keluyuran kemana-mana untuk melakukan kontak fisik dengan orang lain alias tetap berada #dirumah saja#. Ini saja kita sudah membantu negara ini dalam memutuskan mata rantai penyebaran covid 19 ini.

Malah justru kita mau menyakiti mereka dengan menyebarkan berita hoax tersebut melanglang buana kesana kemari. Akibat dari berita hoax yang disebarkan secara meluas, muncul tindakan membabi buta secara tidak bertanggungjawab dan main hakim sendiri. Apalagi yang sangat menyakitkan sekali adalah ketika memviralkan dan mengkucilkan orang yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan pasien/penderitanya langsung, lalu para pembuat hoax ini saling mengkonfor-konfori satu sama-sama lain seolah-seolah itu benar. Perbuatan serta ketidaksadaran inilah yang bung Rocky sering katakan tidak memakai akal sehat alias dungu.

Sampai di sini kita melihat, ternyata tidak begitu banyak orang yang mau menulis dan memposting kabar baik dengan kata-kata penghiburan, kebenaran, membangun hal positif, dan hal optimisme yang bisa memberikan motivasi dan harapan hidup kepada siapa saja yang sedang gunda-gulana dalam menghadapi pandemi global yang kian mencekam dan merajalela ini.

Kita juga sebenarnya boleh meng-copy paste dan mengutip dari referensi yang legal dari laman resmi atau situs tertentu, atau pun menonton berita di media massa dan membaca di media cetak yang secara jelas dari sumber informasi yang akurat-terpercaya dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Selanjutnya bisa disebarluaskan di media sosial atau dunia maya (dumay), asalkan semua informasi yang didapat sudah disaring dengan baik dan benar dan jangan lupa harus disertai dengan kejujuran intelektual dalam mengutip pendapat orang lain.

Butuh Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional

Saya tidak sedang mengajar atau memberikan kuliah umum di sini, karena semua orang pasti bisa mengelola informasi dan mencari tahu asas kebenarannya. Saya hanya mau berbagi sedikt soal bagaimana menggunakan kedua kecerdasan yang dimiliki manusia, yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional agar digunakan dalam megelolah informasi, data, dan fakta secara jernih. Dari kesadaran akan pentingnya sebuah kejelasan informasi, bagi kita yang memilki pikiran dan ilmu pengetahuan yang cukup itu, maka saya sengaja mau merefresh kembali bagaimana hilangnya “akal sehat”, dan “kedunguan” kita yang lebih dominan berperan sehingga perlu diluruskan serta ditempatkan ke jalan yang benar.

Hemat saya, pertama; kita butuh kecerdasan intelektual dalam mengelola kemampuan nalar berpikir untuk mempelejari sesuatu, sekaligus kemampuan menanggapi situasi-situasi baru. Nah, kecerdasan ini juga memiliki peran dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis, dan mensintesis objek, memberikan informasi tentang baik buruk, untung-rugi dan lain sebagainya.

Kedua, kecerdasan emosional juga menjadi bagian penting yang harus kita miliki, sehingga kita mampu mengelola, mengontrol diri dan memanajemen diri menjadi lebih baik dan terarah. Misalnya, ketika membaca, mendengar, dan melihat informasi yang baik, tentu secara emosi kita akan sangat peka, jeli, berhati-hati dan was-was dalam merepost atau menyampaikan kembali kepada kekhalayak secara umum.

Kali ini, saya mungkin perlu beropini sedikit keras soal perilaku dan tata cara kita dalam memperoleh dan mengelolah informasi publik, sehingga setiap ucapan kita yang keluar dari mulut boleh meneduhkan dan menenangkan suasana hati banyak orang. Aplagi kita sedang ada dalam sebuah pergumulan besar dan perjuangan berat untuk bangkit dan pulih dari keterpurukan. Setidaknya dalam kondisi seperti ini, kita sejatinya perlu menggunakan akal sehat, nalar, dan logika kita yang baik dan positif untuk saling mendukung dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat, demi menjaga kesehatan stamina dan daya tahan tubuh (kekebalan) atau sistem imunitas dengan cara menyuarakan kabar baik.

Penutup

Pada akhirnya memang harus kita sadari bahwa kemampuan dalam berliterasi dan keterbatasan literatur kita sangat berpengaruh dalam menggunakan kapasitas kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional kita. Sehingga berakibat pada konsep berpkir, nalar, akal sehat dan psikologi kita tidak rasional lagi dan mengalami kebuntuan dalam mengakses dan menyebarkan informasi.

Kiranya kita bisa menjadi lebih cerdas lagi dalam berliterasi dengan baik dan benar, sehingga semua informasi dan berita yang kita dapatkan baik itu melalui media cetak maupun elektronik dapat kita bagikan sewajarnya, sebagai penyalur kabar suka cita yang dapat menenangkan hati pembaca dan pendengar terkhusnya bagi para penderita Covid-19 agar bisa cepat pulih dan sembuh.

Mari kita bareng-bareng dan bersemangat bahu-membahu menghadapi serta memerangi pandemi global ini dengan hati yang lebih tenang dengan selalu berpatokan pada arahan protokol Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI. Indonesia pasti bisa..!!!

“Selamat Paskah bagi semua umat Tuhan yang merayakannya”

 

(Penulis: Guru Garis Depan Kemdikbud di Daerah 3T)

Komentar

Jangan Lewatkan