oleh

Perayaan Paskah sepi tanpa umat di tengah Badai Covid-19

-Opini-1.221 views

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat. baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancanganKu, bukanlah rancanganmu, dan jalanmu, bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN” (Yesaya 55: 6-11).

Yesaya 55: 6 – 11 di atas, adalah sangat baik untuk kita renungkan ditengah situasi seperti sekarang ini dengan adanya badai Covid-19, kita memasuki pekan suci sebelum perayaan Paskah Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, tanggal 12 April yang dimulai dengan Minggu Palma: Yesus menunggangi keledai memasuki kota Yerusalem; orang-orang menyambut Yesus dengan melambaikan daun-daun palma, Senin suci: Yesus mengutuki pohon ara dan menyucikan bait Allah, Selasa suci: Yesus diurapi dibetania oleh Maria, saudari Martha dan Lazarus; Perminyakan ini adalah sebagai simbol persiapan untuk penguburan Yesus, Rabu Pengkhianatan: Yudas menjual Yesus kepada para pemimpin agama yahudi sebesar 30 keping perak, Kamis putih:Yesus merayakan perjamuan terakhir dan menetapkan Sakramen Ekaristi; Yesus memilih para rasul-Nya sebagai imam-imam yang pertama, dan Yesus berdoa di Taman Getsemani, Jumat Agung: Yesus diadili di depan Pilatus; Yesus menderita sengsara, disalibkan, wafat dan dimakamkan, Sabtu Suci: Yesus turun ke tempat penantian dan membuka pintu surga bagi orang-orang yang yang telah dibenarkan oleh Allah, Minggu Paskah: Yesus bangkit dari antara orang mati.

Pekan Suci atau Minggu Suci juga disebut Minggu Sengsara, dalam bahasa Latin: Hebdomada Sancta, atau juga disebut Hebdomas Maior (Pekan/Minggu Besar); bahasa Yunani: Megali Evdomada / (Pekan/Minggu Besar); bahasa Inggris: Holy Week. Jadi, lamanya pekan suci adalah satu pekan sejak Minggu Palma, hingga Sabtu Suci/Sabtu Sepi/Sabtu Sunyi, yang kemudian diikuti dengan hari Paskah yang selalu jatuh pada hari Minggu.

Namun, paskah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus tahun ini, dengan tema: “KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HARAPAN BARU” (Bdk. Lukas 24:5-6), terasa sangat berbeda dari paskah-paskah tahun sebelumnya. Mengapa?Lantaran adanya pandemik Covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia saat ini, tak terkecuali Indonesia. Tetapi, barangkali pandemik Covid-19 ini menjadi momentum bagi seluruh umat manusia, lebih khusus umat kristiani untuk mengoreksi dan mengintrospeksi diri tentang hakikat keberadaan kita dihadapan Tuhan, yang tercermin dalam: cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata dan cara bertindak kita kepada-Nya melalui sesama. Ingat, Dia hadir dalam diri sesama, terlebih dalam diri mereka yang miskin, yang hina, yang malang nasibya, yang terpinggirkan, yang terisolir, yang terlantar, para gelandangan.

Tuhan bersabda ”sesunggunya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25: 40). Maka, bisa jadi pandemik Covid-19 membawa pesan kepada segenap umat manusia untuk mengkristalisasikan hakikat sebagai citra Allah, bahwa hanya kepada Allah sajalah kita menyembah, dan bukan kepada ciptaan-Nya. Pandemik Covid-19, seolah mengingatkan dan menyadarkan kita manusia, untuk memperbaiki relasi kita mulai dari keluarga, komunitas, masyarakat, terlebih relasi kita dengan Tuhan sendiri sebagai Sang Pencipta.

Dari peristiwa ini, saat kita semua dirumahkan, dengan belajar di rumah, bekerja dari rumah, mengajar dari rumah masing-masing, baru kita sadar bahwa betapa penting nan indahnnya kebersamaan dalam keluarga, dalam komunitas. Bahwa keluarga itu jauh lebih penting dari sekedar hura-hura dan huru hara bersama teman, sahabat di luar rumah. Pandemik Covid-19, mau menguji keimanan kita, baik secara pribadi maupun bersama.

Apakah ketika tidak ada misa mingguan, tidak ada misa kamis putih, tidak ada ibadat jumat Agung, tidak ada misa Sabtu suci dan tidak ada perayaan Minggu Paskah di gereja, adakah kita masih memiliki kerinduan untuk bertemu Tuhan di rumah, melalui doa bersama di keluarga, melalui misa, ibadah on line atau live streaming sebagai sarana untuk menyatukan hati, bersama imam dan seluruh umat se-paroki atau umat se dunia?

Barangkali, dengan pandemik Covid-19 ini, Tuhan sedang menguji, kedewasaan penghayatan iman kita. Apakah dengan tidak ada perayaan ekaristi, tidak ada perayaan tri hari suci, kita memiliki kerinduan untuk menyambut tubuh Yesus, walau hanya melalui komuni batin atau malah menjadi malas-malasan dan menjadikan pandemik Covid-19 sebagai alasan untuk tidak bertemu Tuhan. Ingatlah, jika selama ini kita yang menghadiri perjamuan di rumah Tuhan di gereja, maka saat pandemik Covid-19-19 seperti sekarang ini, Tuhan yang hadir, yang berkunjung di rumah, di komunitas kita, maka apakah kita selalu siap untuk menerima kunjungan-Nya, dengan menyiapkan hati, menyiapkan suasana rumah yang memungkinkan Tuhan layak hadir atau berkunjung di rumah, komunitas kita. Bukankah social distancing, dengan sesama, agar kita lebih dekat kepada Tuhan di keluarga, di komunitas, dan lebih khusuk, lebih hening untuk  mengintrospeksi diri jauh dari keramaian, dari kebisingan dunia. Sebab, Tuhan hadir dalam ke khusukan, dalam kehenigan batin, sebagaimana yang diserukan oleh nabi Yesaya diawal tulisan ini.

Maka dalam kekhusukan dan keheningan batin, kita merayakan paskah kebangkitan Tuhan dalam Susana sepi, tanpa ritus di gereja. Adalah sangat baik bagi kita dalam suasana hening nan sepi ini, sambil kita merenungkan tema paskah tahun 2020 ini: “KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HARAPAN BARU”. Tema ini sepertinya sangat cocok dengan situasi kita saat ini, ditengah wabah Covid-19, dan YAKINLAH bahwa badai Covid-19 ini, akan segera berlalu cepat atau lambat, seiring dengan Kebangkitan Kristus yang membawa harapan baru, membawa opimisme, bagi kita yang kehilangan harapan, yang putus asa, yang cemas, yang panic dan yang takut. Namun, sekali lagi Tuhan sedang menguji IMAN kita, apakah kita tetap SETIA kepada-Nya, melalui dan dalam DOA kita, atau kita malah berpaling atau menjauh dari-Nya. Tuhan bersabda “barangsiapa yang SETIA sampai akhir akan SELAMAT (bdk. Matius 24: 13). SETIA untuk social distancing, SETIA untuk karantina mandiri, SETIA untuk mendisiplinkan diri, tidak kema mana, SETIA terhadap himbauan dan anjuran pemerintah, pemimpin atau tokoh agama, sebab bisa jadi Tuhan hadir dalam dan melalui mereka.

KESETIAAN, KEDISIPLINAN untuk karantika mandiri adalah bagian dari PEMBENTUKAN KARAKTER PRIBADI DAN KARAKTER BANGSA. INGATLAH, walau kita tidak mengikuti ritus PASKAH di gereja, namun PERCAYA-lah KEBANGKITAN KRISTUS, di hari PASKAH akan memulihkan situasi hidup kita di keluarga, di komunitas, di masyarakat, bangsa dan negara kita, juga memperbaiki relasi kita dengan Sang Pencipta, akibat pandemik Covid-19 ini. Semoga pandemik Covid-19 bersama manusia lama kita dikuburkan bersama Yesus, dan KEBANGKITAN KRISTUS, kita BANGKIT SEBAGAI MANUSIA BARU, bangkit dari keterpurukan serta badai Covid-19 segera berlalu dari muka bumi ini, berkat kuasa kebangkitan KRISTUS. SELAMAT PESTA PASKAH, SEMOGA KEBANGKITAN KRISTUS MEMBAWA HARAPAN BARU BAGI SELURUH UMAT MANUSIA AKIBAT COVID-19 YANG SEDANG MELANDA DUNIA. TUHAN SELALU BERSAMA KITA.

 

(Penulis adalah Komunitas Frateran BHK Ndao Ende)

Komentar

Jangan Lewatkan