oleh

Permainan Politik (Political Game)

-Opini-607 views

Oleh: Thomas Tokan Pureklolon

Dunia politik di Indonesia pada hari kemarin, 9 Desember 2020 adalah sebuat tarik ulur kepentingan yang luar biasa mencekam. Pilkada serempak telah dilaksanakan ibarat sebuah “pasar bebas” yang berupaya menembus segmen pasarnya dengan beraneka ragam cara, dan taktik yang dibuat pada pilkada yang tengah berlangsung. Inilah sebuah permainan politik (political game) baru dan khas, bagi para kandidat di ujung sebuah pengharapan untuk diumumkan sebagai pemenang atas pesta demokrasi tersebut.

Apa yang khas dan unik terjadi pada seorang kandidat dalam pilkada serentak kemarin, mulai dari level yang sangat sederhana seperti komunikasi politik dengan semangat kekeluargaan yang “sangat halus”, di mana aroma politiknya langsung terasa panas atau suam-suam kuku sedikit terasa hangat, mendingin dan akhirnya menguap tak terasa. Upaya politik lain yang biasa ditempuh adalah permainan politik yang sedikit lebih rileks dengan membuat perluasan politik baru yakni menembus batas kenyamanan pada “pendekatan politik yang berpoleskan kepentingan rakyat” dengan cara yang sangat kasar dan bisa sangat menyakitkan yakni dengan serangan fajar yang terus terjadi secara masif dan sistematis serta menyakitkan. Upaya serangan fajar ini terlihat kemunafikan politik dalam pilkada yang menampakkan “sosoknya secara briliant”. Praktik politik memang salah satu sisinya terlihat berwajah munafik dan permainan politik itu sendiri memang sangat kotor dan terus terasa menyakitkan.

Problem terbesar dalam politik adalah ketika serangan fajar tetap menjadi lagu lama yang tak pernah berubah notasi politiknya yakni tindakan membagi-bagi uang dan sembako. Konsekuensinya, uang yang disebarkan dan sembako yang diperoleh adalah uang politik dan sembako yang diterima adalah sembako haram. Uang politik dan sembako haram tak pernah dibedakan statusnya: Uang tetap uang dan sembako tetap sembako. Tidak berubah eksistensinya.

Politik serangan fajar dalam permainan politik itu, salah satu konsepnya adalah sebuah tindakan politik yang terus terjadi pada momen yang sebetulnya tidak mungkin menjadi mungkin. Jadi sama sekali tidak bisa membedakan atau tak pernah hinggap di pikiran penerima uang dan penerima sembako, bahwa tindakan politik tersebut sama sekali absen terhadap cerdasnya sebuah visi – misi kandidat yang telah teresap dalam benaknya melalui kampanye politik yang tengah terjadi. Uang politik diterima dan sembako haram pun terus tertimbun; Adanya instrumentalisasai politik yang terjadi secara sporadis asal kena, karena sama-sama saling menguntungkan, antara pemberi dan penerima. Praktik Politik (political action) di sini, menjadi arena pasar bebas yang hilang kendali dan regulasi kesehariannya yang baik dan benar seperti yang sering dikumandangkan oleh para ilmuwan politik. Sebuah momen politik dalam praktik politik yang terus terjadi kesenjangan politik yang melebar yang dapat dikatakan sebuah anomali politik pada momen sarangan fajar sebagai kekuatan politik baru yang dikemas secara canggih untuk merebut hati pemilih.

Kembali ke permainan politik pada serangan fajar sampai pada kecemasan politik ketika suara mulai dihitung dan diperhitungkan sampai saatnua diumumkan. Bahwa pendekatan yang tengah berlangsung terutama pada serangan fajar itu, berhembuskan “kekeluargaan” yang sebaik apa pun sebentar lagi dalam momen selanjutnya akan berbalik menjadi pendusta sekaligus penista Politik. Dalam konteks ini pun praktik politik memperoleh makna baru yakni kepentingan yang sebentar saja menjadi kawan yang sangat akrab, sebetulnya pada saat yang sama sampai pada pengumuman kemenangan nanti, indahnya pendekatan keluarga itu, sebentar lagi akan segera berbalik menjadi musuh yang paling kejam dan terus mencekam.

Permainan politik di sepanjang hari kemarin, menyiratkan dua hal yang saling memaknai yakni demokrasi dan politik. Politik yang di dalamnya ada demokrasi dan demokrasi yang di dalamnya ada politik.

Pertanyaannya, apakah transaksi politik ekstrim serangan fajar sampai pada masuk ke bilik suara, terjadi adanya negosiasi politik? Jawabannya adalah ya, bahwa negosiasi politik terjadi di sana dan pereduksian kepentingan politik pun terus dikemas secara canggih; Mulai dari cara yang paling kasar sampai yang paling halus dan lembut. Inilah permainan politik (political game) yang sedang diperaktikan di negara kita sejak malam hari kemarin dan dini harinya, bahkan masih berjalan sampai pengumuman kemenangan.

Demokrasi dan Politik

Permainan politik di sepanjang hari kemarin di dalam sebuah negara yang menamakan dirinya sebagai negara demokratis, entahkah dapat menampilkan sosoknya secara demokratis?

Praktik demokrasi dalam aksi politik serangan fajar, sampai masuk ke bilik suara sepertinya telah dibayangkan oleh Aritoteles pada zaman Yunani Kuno tentang Aristokrasi dimana kekuasaan oleh sekelompok elite dan ia akan mudah berubah menjadi oligarki jika tidak dijaga dan dirawat dengan baik dan benar; karena instrumentalisasi yang paling empuk adalah kondisi sosial politik yang sedang terjadi. Dalam aras ini demokrasi berada dalam ruang politik dan politik pun berada dalam aras demokrasi. Demokrasi tidak selalu luput dari deraan politik dan demokrasi pun selalu saja punya ruang dan celah dalam politik. Pola kerja demokrasi dapat saja terbaca sebagai sebuah kegagalan dalam perjalanan menuju tujuan politik, atau pun sebagai sebuah kesuksesan politik yang sedang asyik menanti di ujung sebuah perjalanan politik. Di sinilah demokrasi hadir secara bersamaan sebagai proses dan tujuan dalam berpolitik.

Dalam berpolitik, ketika para politisi memandang sebuah tujuan politik yang mau dicapai, dan ketika seluruh perbincangan ditetapkan sebagai sebuah kesepakatan politik, maka di situlah dinamika demokrasi menemukan arasnya dalam politik dan terus berkembang secara teratur dalam sebuah tatanan politik, serta di sana pula demokrasi segera menemukan arahnya yang benar (Thomas Tokan Pureklolon, Demokrasi dan Politik, 2019: vii ).

Entahkan, akan ada demokrasi yang sehat dengan sebuah sistem politik yang kondusif selalu menciptakan berbagai faktor untuk solidaritas, sesama bangsa dalam satu negara yang ada dalam sebuah masyarakat yang majemuk seperti Indonesia?

Kita tunggu saja hasilnya nanti, dalam peristiwa pilkada kemarin.
Praise the Lord.

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan Jakarta, dan Penulis Buku Referensi Ilmu Politik

Komentar

Jangan Lewatkan