oleh

Revitalisasi Tradisi “To,o Jogho Waga Sama” sebagai Tindakan Kolektif Masyarakat Nagakeo

-Opini-659 views

Oleh: San Mite

Resume Gotong Royong Sebagai Perasaan Pancasila

Krisis pada saat pandemi sungguh meningkatkan depresi tingkat tinggi bagi masyarakat baik dilevel internasional, nasional sampai ke level lokal. Beberapa kebijakan pemerintah seperti; lockdown, newnormal sampai dengan omnibus law mendapat respon pro dan kontra dari masyarakat. Bahkan terjadi serangan hebat yang cukup anarkis dari massa, dan omnibus law tidak menjadi titik klimaks dari persoalan lainnya. Kerentanan yang dihadapi masyarakat tidak dapat terhindarkan ketika persoalan demi persoalan krisis merembes di berbagai sendi-sendi kehidupan bersama. Krisis ekonomi dan krisis kesehatan menjadi wacana utama yang menjamur di tingkat global, nasional dan lokal. Deskripsi krisis-krisis ini merupakan protret buruk terhadap kondisi politik, ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, agama dan sektor lainnya.

Model survive (bertahan) yang ditempuh masyarakat dalam mempertahankan aspek ekonomi sehari-hari di level keluarga sampai ke level masyarakat terus dilakukan. Cara survive yang dipraktikkan pun tidak menentu dan berbeda-beda antar keluarga, suku dan komunitas masyarakat tertentu. Salah satu model survive yang disoroti dalam tulisan argumentatif ini adalah cara bertahan dalam krisis dengan praktik-praktik Gotong Royong. Strategi bertahan khas Indonesia sebagaimana bangsa ini memiliki Pancasila sebagai jiwa penggerak masyarakat. Strategi gotong royong merupakan perasaan Pancasila yang diserap ke dalam Ekasila. Gotong royong juga sebenarnya tidak hanya diformulasikan dalam pembedahan makna semata secara semiotik, tetapi sebuah strategi politik, ekonomi dan sosial untuk menghadapi krisis saat ini.

Krisis dan pandemi menbentuk dua gerakan relasi dalam kehidupan bersama, yakni: gerakan kolektif menghadapi kedua persoalan ini dan gerakan pemisahan dalam relasi antar masyarakat seperti hubungan LDR (Long Distance Relationship) sebuah pasangan. Praktik memisahkan diri lebih dominan daripada tindakan kolektif masyarakat untuk menyelesaikan persoalan bersama-sama. Masyarakat Indonesia dipecah-pecahkan dalam kluster atau zona-zona berdasarkan kebijakan bersama. Pembagian ini tidak selalu memberi angin segar bagi kehidupan sosial masyarakat, tetapi menghadirkan resiko lain yaitu: masyarakat terbagi dalam space kehidupan yang mempunyai bobot persoalan sosial berbeda-beda serta daya juangnya pun tidak sama. Hal inilah yang menyebabkan Haris Azhar secara terang-terangan mengatakan bahwa “jangan-jangan bangsa Indonesia sudah bubar sebagai sebuah bangsa” dalam satu sesi diskusi ILC. Sebuah pernyataan yang ingin menggambarkan bahwa bangsa Indonesia sedang sekarat dalam mempertahankan praktik nilai-nilai Pancasila dan Perasaannya Ekasila, yakni: Gotong royong.

Presiden Jokowi dalam pidatonya pada upacara peringatan hari lahir Pancasila menegaskan tentang: Pentingnya nilai-nilai Pancasila untuk terus dihidupkan dalam kehidupan bersama sebagai warga Indonesia dengan spirit gotong royong. Pidato tersebut setidaknya menjelaskan bahwa gotong royong merupakan budaya yang sudah terhegemoni di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Semua daerah pun mempunyai istilah dan praktik yang unik dan khas tentang budaya ini. Walaupun di musim pandemi dan krisis praktik gotong royong sedikit mengalami pergeseran dari makna substansi yang terkandung di dalam Ekasila sebagai perasaan Pancasila.

Gagasan Pancasila yang diutarakan oleh Soekarno pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945 dijadikan sari pati dalam wujud Ekasila yang berisi prinsip gotong royong. Indonesia merupakan Negara integralistik yang khas dengan ideologinya sendiri seperti kata Soepomo dan M. Yamin. Keduanya sepakat bahwa fondasi terkuat bangsa Indonesia adalah Pancasila dengan nilai-nilainya. (Dewantara, 2017). Pancasila bukan tentang paham federalisme yang bisa saja menghasilkan perpecahan. Bukan pula tentang individualis-liberalisme yang menekankan kebebasan muthlak pada individu. Apalagi menyangkut autokrasi, monarki, oligarkhi dan demokrasi versi Barat. Pancasila merupakan afirmasi masyarakat Indonesia untuk mewujudkan keinginan mereka menjadi bangsa dengan semangat gotong royong.

Lima dasar yang menjadi landasan atau fondasi penting dalam Pancasila berdasarkan beberapa versi, yakni:

No.Versi SoekarnoVersi Piagam JakartaVersi UUD 1945Versi Konstitusi RISVersi UUDS
1.KebangsaanKetuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknyaKetuhanan Yang Maha EsaKetuhanan Yang Maha EsaKetuhanan Yang Maha Esa
2.Internasionalisme (Peri Kemanusiaan)Kemanusiaan yang adil dan beradabKemanusiaan yang adil dan beradabPeri KemanusiaanPeri Kemanusiaan
3.Mufakat (Demokrasi)Persatuan IndonesiaPersatuan IndonesiaKebangsaanKebangsaan
4.Kesejahteraan SosialKerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilanKerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilanKerakyatanKerakyatan
5.KetuhananKeadilan sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaKeadilan sosial bagi seluruh rakyat IndonesiaKeadilan SosialKeadilan Sosial

Sumber: Buku Agustinus W. Dewantara, “Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong.”

Rumusan Pancasila menurut versi yang ada diperas lagi oleh Soekarno menjadi Trisila, yaitu: Pertama, socio-nationalism atau perasaan dari kebangsaan dan kemanuisaan. Kedua, socio-democratie atau perasaan dari keadilan sosial dan kerakyatan. Ketiga, KeTuhanan. Langkah selanjutnya adalah Soekarno memeras Trisila yang ada ke dalam Ekasila, yaitu: “Gotong Royong”. Salah satu kutipan Argumentasi Soekarno yang menegaskan tentang gotong royong: “ Kita mendirikan Negara Indonesia… semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan Islam buat Indonesia,… tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!… Negara yang kita dirikan haruslah Negara gotong royong!” (Dewantara, 2017).

Budaya “gotong royong” lahir dari kebiasaan masyarakat Indonesia dengan berbagai agenda tertentu, seperti acara adat, kegiatan pemerintahan, kegiatan agama, kegiatan suku, kegiatan keluarga dan lainnya. Kebiasaan-kebiasaan ini juga biasa dipraktikkan masyarakat NTT, walaupun setiap kabupaten, kecamatan, desa dan suku-suku mempunyai praktik serta istilah yang berbeda-beda. Gotong royong terbentuk dalam suatu konsensus bersama antar sesama masyarakat. Maka genaplah pernyataan yang diutarakan oleh Selo Soemardjan dan Soleman Sumardi bahwa “budaya merupakan hasil karya, rasa dan cipta dari masyarakat.” (Rusdiyanta, 2009).

Budaya Gotong Royong Terinternalisasi Dalam Tradisi “To,o Jogho Waga Sama”

Beberapa tradisi masyarakat Flores untuk menjelaskan budaya gotong royong sebagai perasaan Pancasila. Pertama, Masyarakat Flores timur dalam budaya Lamaholot menyebutnya “Gemohing”. (Redaksi Kompas.com, 2010). Pengalaman gotong royong yang dilakukan oleh petani dan nelayan di dalam kehidupan sehari-hari. Orang Flores Timur sekitarnya berbicara tentang ola gelekat-gemohe gewayan yang artinya bekerja untuk melayani dan menolong sesama masyarakat, agar terciptanya keharmonisan dan keseimbanga (equibilirium). (Kleden, 2008).

Kedua, Masyarakat Sikka menyebutnya: “waing taling atau delu telu, ene welung”, artinya kemampuan untuk bekerja sama dalam mengerjakan pekerjaan yang berat. Misalkan: tradisi sako seng yaitu tradisi kebersamaan dalam mempersiapkan kebun untuk musim tanam. (Kleden, 2008). Ketiga, Masyarakat Ende-Lio. Tradisi gotong royong yang dipraktikkan masyarakat Ende, yaitu: tradisi Paru Udu dalam ritual Joka Ju. Tradisi ini merupakan aktivitas gotong royong yang dipraktikan masyarakat setempat dalam konteks mengerjakan kegiatan pertanian seperti menanam padi, jagung dan palawija lainnya. Tradisi Paru Udu juga merupakan serangkaian acara dalam ritual Joka Ju atau ritus menolak bala dan hama tanaman. 

Keempat, Masyarakat Ngada menyebutnya: Rau-zo. (Tim Redaksi Kompasiana, 2012). Tradisi kerja sama yang digunakan para petani untuk mengerjakan ladang atau lahan pertaniannya. Kelima, Masyarakat Manggarai dapat ditemukan dalam “ako woja”. (Jehadin, 2017). Tradisi kerja sama yang dikerjakan masyarakat Manggarai dalam memanen padi.

Keenam, Masyarakat Timor menyebutnya: “hanuf nua raroe mese”, di dalam bahasa Dawan diartikan dua bahu satu beban. (Dini, 2019). Kerja sama berdimensi sosial bagi masyarakat Timor dalam melakukan pekerjaan sehari-hari antar keluarga dengan keluarga dan keluarga dengan masyarakat. Potret gotong royong tersebut bisa dilihat dalam kebiasaan ikat jagung secara kolektif antar sesama masyarakat di Malaka. (Tim Redaksi Pos Kupang, 2018).

Ketujuh, Masyarakat Nagekeo. Tradisi di level mikro disebut “Foe”. Tradisi yang sering dipraktikkan masyarakat adat dalam menggerakkan keluarga dengan keluarga atau antar suku untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan, seperti pekerjaan mengerjakan kebun atau kegiatan pertanian lainnya. Tradisi Foe kemudian bertranformasi dalam tradisi To,o Jogho Waga Sama yang dipraktikkan masyarakat dalam ruang lingkup yang lebih besar (makro). Tradisi ini tidak hanya melibatkan kerja-sama antar keluarga, antar suku saja tetapi melibatkan seluruh lapisan masyarakat manapun dalam berbagai aspek kehidupan bersama.

Yuvan Noah dalam bukunya: “A Brief History of Humankind: Sapiens” menyakini bahwa “Imajinasi Kolektif” manusia mampu menelurkan kerja sama atau gotong royong praksis dalam kehidupan bersama dari masa ke masa dengan bahasa sebagai instrumennya. Pandemi covid 19, krisis ekonomi, pro-kontra Undang-Undang omnibus law, pernyataan kontroversi Presiden Prancis yang memancing isu Agama dan wacana provokatif lainnya hampir saja memberhanguskan imajinasi kolektif itu sendiri. Manusia hampir percaya bahwa tidak ada imajinasi kolektif lagi, tidak ada kerja sama, tidak ada kebersamaan, tidak ada gotong-royong dan istilah manusia sebagai mahluk sosial menjadi pertanyaan.

Bagaimana mungkin kita menjelaskan manusia sebagai mahluk sosial sedangkan berbagai peristiwa global, nasional dan lokal menegasi makna terdalam manusia sebagai mahluk sosial? Apalah arti manusia sebagai mahluk sosial jika praktik “sentuhan”, bersalaman atau berkumpul bersama absen dalam pengaplikasian relasi sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan kondisi masyarakat dan berbagai kebijakan pemerintah ataupun kebiasaan-kebiasaan manusia sekarang.

Pertanyaan di atas bisa saja memprovokasi kita untuk melakukan perlawanan atau pemberontakan terhadap kondisi sekarang yang abnormal. Namun, bukan itu poinnya pertanyaan-pertanyaan tersebut dirumuskan. Tulisan sederhana ini sebenarnya sedang membawa imajinasi kita untuk kembali bernostalgia dengan spirit masyarakat Indonesia tentang Gotong royong sebagai perasaan Pancasila. Nostalgia Ekasila dalam aktusnya gotong royong mengajak kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai itu secara konkret dalam kehidupan bersama baik level dilokal maupun dikonteks nasional. .

Istilah yang khas untuk masyarakat Nagekeo adalah “To,o Jogho Waga Sama”, yang kalau dianalisis secara hermeneutik, maknanya sama dengan gotong royong sebagai perasaan Pancasila. Istilah tersebut bukan hanya sebuah konsep belaka atau semboyan semata, tetapi istilah ini sudah membentuk sebuah tradisi yang membudaya di dalam kehidupan bersama. Tradisi To,o Jogho Waga Sama terinternalisasi di setiap aspek kehidupan masyarakat baik dilevel mikro (keluarga, suku) sampai dengan level makro di pemerintahan, agama dan instansi lainnya. Krisis ekonomi dan pandemi covid 19 merupakan momen yang berat bagi masyarakat Nagekeo untuk survive dan bekerja sama dengan berbagai ketidakpastian  persoalan yang terus hadir. Persoalan-persoalan bisa disimak disergap.id, seperti: Dugaan Korupsi proyek pembangunan irigasi perpipaan pada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ndora, Nangaroro, Penyalagunaan keuangan Covid 19 tahun 2020 di Dinas Kesehatan Kabupaten Negekeo, Persoalan tanah pembangunan gedung kantor Polres Nagekeo, Dugaan Penyalagunaan kewenangan jabatan oleh sekdis PUPR Nagekeo, Proyek pembangunan infrastruktur berupa jalan Aemali-Danga gagal Tender serta Persoalan pembangunan Waduk Lambo  (Rosary, 2020). Tentu masih banyak lagi persoala lainnya yang jika dizoom lebih dalam secara terperinci, maka begitu banyak persoalan tidak cukup dimuat di media sosial.

Persoalan-persoalan tersebut merupakan jeda bagi semua lapisan masyarakat untuk merevitalisasi konstruksi praktik dan makna To,o Jogho Waga Sama di dalam kehidupan bersama. Singkatnya To,o Jogho Waga Sama Seperti apakah yang diharapkan masyarakat Nagekeo dalam menghadapi pandemi dan resesi ekonomi.

Pertama, To,o Jogho Waga Sama yang berorientasi kepada kepentingan semua masyarakat dari berbagai elemen masyarakat. Kepentingan bersama yang dimaksudkan adalah adanya praktik-praktik kerja sama yang ideal di masyarakat dalam pengaplikasian nilai-nilai keadilan terhadap seluruh golongan, suku, agama, kelompok untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Tidak ada dominasi kepentingan dari berbagai sektor yang ada, tidak adanya dominasi dari kelompok tertentu terhadap akses dan pemenuhan hak-hak hidup bersama dalam berbagai aspek kehidupan. Potret To,o Jogho Waga Sama yang diharapkan masyarakat Indonesia, NTT-Nagekeo di masa resesi dan pandemi adalah kerja sama yang didasarkan pada nilai-nilai Kasih persaudaraan, saling pengertian terhadap situasi kerentanan yang sama. Pandemi dan krisis ekonomi merupakan momen yang tepat bagi masyarakat untuk menciptakan model kerja sama yang kontekstual, seperti peduli terhadap kesehatan bersama, peduli lingkungan bersama, peduli terhadap perekonomian orang-orang sekitar seperti; tetangga dan sesama lainnya.

Kedua, To,o Jogho Waga Sama yang berlandaskan pada pembangunan kehidupan ekonomi, politik, sosial, kesehatan dan budaya berdasarkan kebutuhan masyarakat. Praktik dan makna To,o Jogho Waga Sama merupakan strategi sosial dalam menyelesaikan berbagai persoalan atau krisis ekonomi, politik, budaya, kesehatan dan krisis aspek lainnya. Konsep atau makna sebenarnya adalah sebuah konsep yang terintegrasi dengan perasaan Pancasila. Hal ini ingin menekankan bahwa setiap program pembangunan dan eksekusi kebijakan yang ada dilevel Pemda dan nasional harus berdasarkan kebutuhan masyarakat. Bukan berdasarkan keinginan sekelompok orang yang tidak sesuai konteks sosial, kondisi lingkungan, situasi ekonomi-politik dan budaya masyarakat setempat.

Ketiga, To,o jogho waga sama sebagai imajinasi dan tindakan kolektif semua pihak berdasarkan proses diskursus publik yang transparan, efektif dan efisien. Pandemi dan krisis ekonomi yang masih berlangsung tidak menjadi peluang bagi elit atau pihak tertentu mengkebiri substansi dan esensi demokrasi nasional dan lokal. Justru ketika proses penyelesaian persoalan-persoalan ini belum finish. Pemerintah daerah dan pusat harus terus melakukan transformasi dan refresh terhadap praktik political will state. Sehingga Model political will state yang terus terupdate, efektif dan efisien bisa menularkan atau menjadi ilustrasi politik terhadap komitmen masyarakat politik (political society). Hal ini mempengaruhi perilaku masyarakat untuk secara bersama-sama membangun ekonomi, politik, budaya, sosial dengan spirit “To,o Jogho Waga Sama”, dalam bingkai civil society yang mandiri.

 

Penulis adalah Alumni STFK Ledalero dan Mahasiswa Pascasarjana Fisipol UGM

Komentar

Jangan Lewatkan